Dokter Bedah Soroti Tantangan Rumah Sakit Era BPJS, Singgung Tarif INA-CBG hingga Perebutan Pasien

PORTALUTAMA.NET — Seorang dokter bedah, Didi Sudiyatmo, menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi layanan kesehatan di era BPJS Kesehatan, khususnya di rumah sakit tipe C, baik milik pemerintah maupun swasta.
Melalui unggahannya di media sosial, Didi membagikan pandangannya berdasarkan pengalaman bekerja menangani mayoritas pasien BPJS, termasuk membandingkan kondisi pelayanan kesehatan saat ini dengan era sebelum program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) berjalan masif.
Dalam unggahannya, Didi menyebut sistem pelayanan kesehatan saat ini berada dalam situasi penuh tantangan atau “pinggir jurang” dari perspektif operasional rumah sakit.
“POV sebagai dokter yang bekerja di RS tipe C, baik pemerintah maupun swasta, dengan mayoritas pasien BPJS (pernah merasakan era pra-BPJS),” tulis Didi Sudiyatmo mengawali unggahannya.
Pasien Rumah Sakit Dinilai Menurun
Menurut Didi, salah satu perubahan paling terasa adalah jumlah pasien yang datang ke rumah sakit tidak sebanyak masa awal implementasi BPJS sekitar lima tahun pertama.
“Jumlah pasien yang datang ke rumah sakit tidak sebanyak dulu (5 tahun awal BPJS),” ungkapnya.
Ia juga menyoroti semakin ketatnya pengawasan dari regulator dan BPJS terhadap pelayanan kesehatan.
“BPJS dan regulator semakin selektif, dengan evaluasi dan pengawasan yang lebih ketat,” tulisnya.
Selain itu, pembatasan rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) atau PPK 1 disebut makin terasa.
“Pembatasan rujukan dan kuota pelayanan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama semakin terasa,” lanjutnya.
Tarif INA-CBG dan Beban Operasional Rumah Sakit
Dalam pandangannya, persoalan tarif paket INA-CBG menjadi salah satu isu penting yang dirasakan banyak rumah sakit.
Didi menilai tarif paket layanan tersebut relatif tidak mengalami perubahan signifikan, sementara biaya operasional rumah sakit terus meningkat.
“Tarif paket INA-CBG relatif tidak mengalami perubahan signifikan dibanding kenaikan biaya operasional rumah sakit dalam satu dekade terakhir,” katanya.
Di sisi lain, rumah sakit harus menghadapi kenaikan biaya alat kesehatan, bahan habis pakai, obat-obatan, pemeliharaan alat, hingga kebutuhan sumber daya manusia (SDM).
“Biaya operasional rumah sakit terus meningkat (alat kesehatan, bahan habis pakai, obat, pemeliharaan alat, dan SDM), sementara pendapatan tidak selalu meningkat sebanding,” ujarnya.
Tak hanya itu, tuntutan administrasi hingga dokumentasi pelayanan kesehatan juga disebut semakin besar dibanding beberapa tahun sebelumnya.
“Tuntutan administrasi dan dokumentasi pelayanan semakin besar dibanding beberapa tahun sebelumnya,” tulisnya.
Source link
