News

Iduladha: Dari Sembelihan Ego ke Kesehatan Publik



Oleh: dr. Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D.

Alumnus PhD IPCTRM Taipei Medical University Taiwan, WWPO Peace Ambassador untuk Indonesia, dokter riset, dosen, peneliti, ilmuwan, kolumnis, organisatoris, trainer-penulis profesional, reviewer jurnal Internasional, komunikator sains, perintis NiBTM

PORTALUTAMA.NET – Ada yang lebih tajam daripada bilah pisau dalam kisah Ibrahim: kesadaran bahwa yang paling sulit dikorbankan bukan harta, hewan terbaik, atau sesuatu yang tampak di luar diri, melainkan ego. Ego itulah yang diam-diam membangun singgasana di dalam batin, membuat manusia merasa paling penting, paling benar, paling layak memiliki, dan paling sulit berbagi.

Pada Iduladha 1447 H/2026 M, umat Islam kembali memasuki ruang perenungan itu. Takbir berkumandang, hewan kurban disiapkan, daging dibagikan, keluarga bertemu, dan masyarakat bergerak dalam ritme gotong royong. Namun di balik seluruh suasana itu, Iduladha membawa pertanyaan yang selalu segar: apa yang sungguh-sungguh rela kita lepaskan agar hidup bersama menjadi lebih manusiawi?

Kurban tidak berhenti pada penyembelihan hewan. Ia adalah pendidikan jiwa. Dalam bahasa tasawuf, kurban mengajak manusia menyembelih nafsu yang berlebihan: keserakahan, kesombongan, amarah, pamer kesalehan, dan ilusi bahwa semua yang dimiliki sepenuhnya milik pribadi. Imam Al-Ghazali menempatkan penyucian hati sebagai inti perjalanan rohani. Rumi mengingatkan bahwa cinta selalu meminta manusia keluar dari penjara ‘aku’. Dari titik ini, Iduladha tidak hanya menjadi ritus keagamaan, tetapi juga latihan membentuk manusia yang lebih lapang, lebih rendah hati, dan lebih bertanggung jawab.

Kisah Ibrahim, Hajar, dan Ismail tidak seharusnya dibaca sebagai drama kekerasan. Ia adalah revolusi makna. Dalam banyak peradaban lama, pengorbanan kerap dipahami sebagai cara manusia bernegosiasi dengan kekuatan transenden. Islam menggeser pusatnya: bukan manusia yang dikorbankan, bukan darah yang dimuliakan, melainkan ketaatan etis, kepasrahan, dan rahmat. Hewan kurban hadir sebagai tanda bahwa Tuhan tidak membutuhkan korban manusia; manusia justru membutuhkan keberanian untuk mengorbankan ilusi dirinya sendiri.

Di sinilah Iduladha berubah menjadi etika sosial. Iman tidak cukup hadir sebagai identitas. Ia harus turun menjadi perbuatan: membagi makanan, menghormati tetangga, membantu yang rentan, merawat hewan dengan baik, menjaga kebersihan lingkungan, dan memastikan daging sampai kepada mereka yang membutuhkan dengan cara yang bermartabat.

Kearifan Nusantara memperkaya makna itu. Ungkapan Jawa urip iku urup mengingatkan bahwa hidup yang bernilai adalah hidup yang memberi terang. Falsafah memayu hayuning bawana menempatkan manusia sebagai penjaga harmoni dunia. Maka, pengorbanan bukan kekalahan. Pengorbanan adalah kemenangan atas diri yang sempit.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *