News

Jelang Musda Golkar Sulsel, Pengamat: Ketua Baru Harus Lahir dari Kombinasi Restu Elite dan Penerimaan Akar Rumput



PORTALUTAMA.NET, MAKASSAR — Musyawarah Daerah Golkar Sulawesi Selatan tahun ini dinilai bukan sekadar agenda rutin pergantian ketua. Musda disebut menjadi penentu arah Golkar Sulsel untuk merebut kembali kejayaan politik partai beringin di Pemilu 2029.

Pengamat politik sekaligus Direktur Profetik Institute, Asratillah, mengatakan pertanyaan utama yang dihadapi Golkar Sulsel saat ini adalah siapa figur yang mampu menyatukan partai sekaligus mengembalikan daya saing elektoralnya.

“Musda Golkar Sulsel seharusnya tidak hanya dipahami sebagai perebutan jabatan ketua DPD I. Musda harus dibaca sebagai momentum menentukan arah masa depan Golkar Sulsel menuju Pemilu 2029,” kata Asratillah kepada fajar.co.id, Minggu (24/5/2026).

Aspirasi DPD II Jadi Kunci

Asratillah menilai Sulsel bukan wilayah biasa bagi Golkar. Sejak Orde Baru hingga reformasi, provinsi ini menjadi simbol kemenangan partai. Namun dalam dua pemilu terakhir, dominasi itu mulai retak. Kursi Ketua DPRD Sulsel lepas, dan beberapa kabupaten yang dulunya benteng Golkar kini bergeser.

Ia menyebut dukungan DPD II terhadap salah satu figur tertentu menguat dalam beberapa bulan terakhir. Dukungan itu, menurutnya, lahir dari komunikasi panjang dan kedekatan dengan struktur bawah.

“Dalam politik modern, dukungan akar rumput bukan lagi pelengkap legitimasi elite. Dukungan bawah justru menjadi fondasi utama kekuatan partai. Sebab partai politik hari ini hidup dari energi struktur daerah,” ujarnya.

Merujuk pada teori political linkage Herbert Kitschelt, Asratillah mengingatkan bahwa partai modern kuat ketika elite dan akar rumput punya hubungan timbal balik. Jika elite mengabaikan preferensi basis, partai perlahan kehilangan legitimasi sosial.

Ujian Konsolidasi Muhiddin

Asratillah menilai langkah Plt Ketua Golkar Sulsel Muhiddin Mohamad Said yang turun mendengar kader di tiga dapil DPR RI—Takalar, Pinrang, hingga Soppeng—memberi pesan politik jelas. Konsolidasi itu disebut sebagai proses membaca peta psikologis kader.

“Suara kader daerah tidak bisa dianggap angin lalu. Justru di tengah kompetisi politik Sulsel yang semakin keras, Golkar membutuhkan pemimpin yang lahir dari penerimaan akar rumput, bukan semata karena kompromi elite,” katanya.

Harapan Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia agar Musda berlangsung solid dan aklamasi, kata Asratillah, hanya akan bermakna jika lahir dari kesadaran kolektif kader daerah. Aklamasi yang dipaksakan tanpa membaca aspirasi bawah berpotensi melahirkan kekecewaan.

Merujuk pada teori intra party democracy Susan Scarrow, ia menegaskan partai modern butuh keseimbangan antara kontrol elite dan partisipasi struktur bawah.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *