News

“Dibaya Dibayo…”: Nyanyian Paling Murni di Dunia dari Tengah Hutan Papua?



PORTALUTAMA.NET,JAKARTA — Suara itu terdengar dari tengah hutan Papua Selatan. Tidak ada instrumen megah, hanya harmoni vokal yang menggema pelan.

“Dibaya dibayo, gu-rai gi-dey e-o dibayai,” penggalan lirik tersebut.

Nada-nadanya pendek dan sederhana. Tapi berhasil memikat dan kini seliweran di ruang digital.

Bahkan, disebut sebagai “nyanyian paling murni di dunia”.

Kini, nyanyian lagu itu banyak digunakan di lintas platform, mulai TikTok, Instagram Reels, hingga Spotify.

Popularitasnya melonjak sejak akhir 2023. Lagu ini dirilis oleh Daniel Hanson bersama Drew Binsky dan komunitas Mamuna. 

Di Spotify, jumlah pemutarannya sudah menembus sekitar 9 juta stream. Angka itu terus bertambah hingga kini. 

Di Shazam, lagu ini telah diidentifikasi lebih dari 95 ribu kali. Belum lagi di YouTube, dengan berbagai versi unggahan. 

Asal Usul

Awalnya, lagu ini bukan proyek musik komersial. Semua bermula dari perjalanan YouTuber perjalanan Drew Binsky ke Papua Selatan.

Dia seorang YouTuber dan travel vlogger asal Amerika Serikat. Terkenal karena mengunjungi seluruh 197 negara yang diakui Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Termasuk saat dia ke Papua Selatan, Drew mendatangi komunitas Mamuna untuk membuat dokumenter perjalanan. Ia merekam kehidupan suku tersebut di tengah hutan terpencil.

Dalam salah satu momen perjalanan, beberapa anggota komunitas Mamuna berjalan sambil bernyanyi. Rekaman singkat itu kemudian menarik perhatian banyak orang.

Cuplikan asli itu lalu diolah oleh Daniel Hanson. Ia menambahkan harmonisasi dan lapisan vokal agar terdengar lebih atmosferik. 

Versi hasil aransemen itu kemudian dirilis pada 22 November 2023. Lagu tersebut langsung masuk ke berbagai platform streaming global. 

Potongan videonya cepat viral di media sosial. Banyak pengguna memakai audio itu untuk video alam, refleksi hidup, hingga konten spiritual.

Efek viralnya terus membesar karena banyak orang merasa lagu itu terdengar “purba”, “mistis”, dan emosional. Sebagian bahkan menyebutnya sebagai suara manusia paling menyentuh yang pernah mereka dengar. 

Lirik dan artinya

Tidak ada lirik resmi panjang yang dipublikasikan secara luas. Lagu ini lebih berupa nyanyian vokal kolektif dengan pengulangan bunyi dan harmoni pendek.

Karena berasal dari komunitas lokal Mamuna, banyak pendengar luar tidak memahami arti literal setiap penggalan suara. Namun justru di situlah daya tariknya muncul.

Banyak orang merasa lagu itu menyampaikan rasa kebersamaan, perjalanan, dan hubungan manusia dengan alam. Maknanya kemudian berkembang secara emosional di telinga pendengar masing-masing.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *