Keluarga Tidak Kehilangan Peran? – FAJAR

Jelas sekali bahwasanya rumah tangga yang aman damai ialah gabungan di antara tegapnya laki-laki dan halusnya perempuan – Haji Abdul Malik Karim Amrullah.
Oleh: Adekamwa
(Humas Pusjar SKMP LAN)
Dari semilir angin laut di Pantai Losari hingga deretan warung kopi yang tak pernah tidur di Jalan Tinumbu, malam di Kota Makassar adalah ruang interaksi komunal yang hidup dan berdenyut. Namun, masuk ke bulan April 2026, denyut nadi itu berubah ritme.
Setidaknya delapan serangan acak geng motor tercatat bulan lalu, sebuah angka yang Penulis yakini hanyalah puncak gunung es dari krisis yang jauh lebih dalam.
Bersenjatakan ketapel, senjata tajam, dan petasan, kelompok-kelompok ini beroperasi antara pukul 22:00 hingga 05:00 WITA.
Mereka meneror pengendara motor tunggal, merampas ponsel dan dompet, hingga mengubah area publik seperti kawasan perumahan, kedai kopi di sepanjang Jalan Veteran, Kandea, hingga Sungai Saddang menjadi arena pertarungan.
Pemantik Kekerasan Jalanan?
Sebagai praktisi humas pemerintahan, Penulis sering mendengar retorika klise: ini murni masalah keamanan dan ketertiban. Benarkah sesederhana itu? Analisis intelijen kepolisian menyoroti sebuah variabel yang berpengaruh, Media Sosial.
Ejekan, provokasi, dan tantangan antar-geng kini dipertontonkan di ruang digital sebelum dieksekusi di jalanan. Mereka merekam aksi brutal mereka demi engagement dan pengakuan sosial kelompoknya.
Di era digital, algoritma media sosial bekerja seperti bensin yang menyulut dan memperluas kekerasan jalanan.
Pihak kepolisian tentu telah merespons. Peningkatan patroli malam dan serangkaian pengejaran adalah langkah darurat yang harus kita apresiasi.
Siapakah anak-anak muda di balik setir motor ini? Mengapa jalanan malam yang gelap dan kekerasan tanpa tujuan menjadi jauh lebih memikat daripada ruang kelas, atau ruang keluarga di rumah mereka sendiri? Ada baiknya Pembaca tidak tergesa menyimpulkan.
Pola yang Tak Pernah Berubah
Penulis melihat pola yang terus berulang dalam berbagai penelitian tentang geng motor di Indonesia, yakni kekerasan jalanan hampir selalu berawal dari kebutuhan remaja untuk merasa diakui.
Penelitian Purwanti Hadisiwi dan Jenny Ratna Suminar menunjukkan bahwa lemahnya komunikasi emosional di rumah membuat kelompok jalanan perlahan mengambil alih fungsi keluarga sebagai ruang penerimaan identitas dan solidaritas sosial. (Jurnal Kajian Komunikasi, 2013).
Fenomena itu kemudian berkembang dalam bentuk yang lebih agresif di Kota Palu. Penelitian oleh Muh Jufri mencatat bahwa kasus kejahatan geng motor meningkat dari 48 kasus pada 2012 menjadi 75 kasus pada 2014.
Source link
