Film Pesta Babi Ramai Disorot, Dandhy Laksono Sebut Militerisasi Papua untuk Proyek Biofuel

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Film dokumenter Pesta Babi belakangan menjadi sorotan. Apalagi banyak pihak yang melarang pemutaran film karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale itu.
Terkait film ini, Dandhy terlibat percakapan dengan Akbar Faizal terkait situasi Papua saat ini. Akbar penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di Papua terutama setelah militer di sana dirasa semakin kuat.
“Tentang Papua ini. Apa yang terjadi
di sana? Saya dengar ada kelompok Wilmar segala macam di situ,” tanya Akbar dikutip Sabtu (16/5/2026).
Dandhy mengungkap arah pembangunan pemerintah di Papua memang ada pola keterlibatan aparat keamanan yang semakin besar seiring hadirnya proyek-proyek strategis nasional di kawasan tersebut.
Namun, kata Dandhy, keterlibatan militer dalam proyek pembangunan di Papua sebenarnya bukan hal baru.
Hanya saja ia melihat eskalasinya semakin meningkat sejak era pemerintahan Joko Widodo dan berlanjut hingga pemerintahan Prabowo Subianto kini.
Dandhy menyoroti semakin masifnya pembangunan batalion yang kemudian disebutnya sebagai batalion teritorial pembangunan. Pembangunan tersebut dibarengi dengan penempatan pasukan dalam jumlah besar di berbagai titik strategis.
“Di sejak periode Jokowi kan Jokowi
sudah melibatkan militer. Prabowo makin-makin melibatkan militer. Ada banyak batalion baru dibangun di sana,”’ungkap Dandhy.
Jika dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia, tingkat konsentrasi aparat keamanan di Papua jauh lebih tinggi.
“Kalau rata-rata satu tentara menjaga sekitar 690 penduduk Indonesia, di Papua satu tentara menjaga sekitar 100 orang,” ujar Dandhy.
Dengan jumlah yang sedemikian itu, menimbulkan tanya dibenak Dandhy terkait orientasi utama kebijakan negara di Papua sana.
Dia turut membandingkan jumlah aparat yang mengamankan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang diperkirakan sekitar 1.300 personel itu dihadapi oleh puluhan aparat.
Ia juga mengungkap data yang disebut berasal dari aparat kepolisian terkait jumlah anggota OPM bersenjata aktif yang diperkirakan sekitar 1.300 personel. Dengan jumlah tersebut, Dandhy mempertanyakan alasan di balik besarnya pengerahan aparat keamanan.
“Artinya apa? eh 1300 personil OPM. Ini data resmi dari polisi. 1300-an personil OPM yang sekarang bersenjata aktif itu dihadapi oleh deployment pasukan segede itu. Pertanyaannya, ini benar-benar untuk mengeliminasi OPM atau ada agenda lain?” katanya.
Dalam film Pesta Babi ini kemudian diungkap ada alasan lain militerisasi di Papua adalah agenda besar bionenergi yang mulai berkembang di tanah Papua.
Source link
