News

Kue Janda alias Beppa Kalimbu: Rahasia di Balik Selimut Ubi dan Filosofi Menjaga Martabat



PORTALUTAMA.NET, ​MAKASSAR – Di tengah gempuran kuliner modern yang serba instan, terselip sebuah kudapan tradisional Sulawesi Selatan yang menyimpan filosofi mendalam tentang etika bermasyarakat.

Masyarakat Sinjai mengenalnya sebagai Beppa Kalimbu. Namun, di era media sosial saat ini, kue ini kerap mendapat julukan baru yang menggelitik: “Kue Janda”.

​Budayawan Sulawesi Selatan, Dul Abdul Rahman, melihat fenomena perubahan nama ini dengan sudut pandang yang arif.

Menurutnya, meski istilah “Janda” kini populer—yang mungkin secara jenaka diartikan sebagai “Jajanan Dahulu”—esensi sejati dari kudapan ini terletak pada nama aslinya, Kalimbu.

​Simbolisme di Balik Parutan Ubi

​Secara teknis, Beppa Kalimbu adalah harmoni dari bahan-bahan bumi: ubi kayu parut, pisang, dan kelapa. Pisang disembunyikan di dalam balutan ubi, dikukus hingga kenyal, lalu diselimuti parutan kelapa yang gurih.

​Di berbagai daerah, kue ini punya identitas beragam. Warga Sinjai menyebutnya Kalimbu, Katabang, atau Baluku. Di daerah lain, ia dikenal sebagai Bandang-bandang, Bandang Lojo, hingga Songkolo Bandang.

Namun, Dul Abdul Rahman menekankan bahwa di balik keberagaman nama tersebut, ada satu nilai universal yang diusung, terutama melalui istilah Kalimbu.

​”Dalam bahasa lokal, Kalimbu berarti ditutupi atau diselimuti. Ini bukan sekadar teknik memasak, tapi sebuah pengajaran tentang cara manusia bersikap,” ujar Dul Abdul Rahman melalui ulasan di media sosialnya dan mengizinkan fajar.co.id untuk mengutip, Kamis 14 Mei 2026.

​Menutup Aib: Kearifan yang Kian Langka

​Filosofi Kalimbu mengajarkan bahwa kekurangan, kesalahan, atau aib seseorang selayaknya dijaga dengan rapat, bukan diumbar menjadi konsumsi publik. Seperti pisang yang tersembunyi di balik lapisan ubi, ada hal-hal dalam kehidupan yang cukup diselesaikan secara pribadi dengan penuh kebijaksanaan.

​Dul Abdul Rahman menyoroti betapa relevannya filosofi ini di era digital, di mana batasan privasi sering kali kabur.

​Menjaga Martabat: Menutup aib bukan berarti melindungi kejahatan, melainkan menjaga kehormatan manusia agar memiliki ruang untuk memperbaiki diri.

​Empati di Atas Eksploitasi: Di saat membuka aib orang lain dianggap sebagai konten yang lumrah, Kalimbu mengingatkan kita untuk mengedepankan empati.

​Nasihat yang Santun: Mengoreksi kesalahan orang lain sebaiknya dilakukan dengan cara yang bijak tanpa merendahkan harga dirinya.

​Warisan dari Dapur Desa

​Bagi masyarakat di Desa Kalobba, Sinjai, aroma kukusan Kalimbu adalah aroma kenangan. Ia adalah suara parutan kelapa nenek dan tangan cekatan ibu yang menyiapkan hidangan di sore hari.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *