Film ‘Pesta Babi’ Bikin Novel Baswedan Terkejut, Singgung Nasib Orang Papua

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Mantan penyidik KPK, Novel Baswedan, mengaku terkejut setelah menyaksikan film dokumenter ‘Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita’ (2026) karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Dale.
Seperti diketahui, film tersebut menguliti berbagai persoalan sosial hingga konflik kemanusiaan yang terjadi di Papua.
Novel mengaku tidak menyangka kondisi di lapangan disebutnya begitu memprihatinkan.
Ia mengatakan dirinya baru memahami gambaran persoalan di Papua setelah menonton dokumenter tersebut.
“Begitu saya melihat film ini diseritakan bagaimana kondisi persoalan-persoalannya di Papua ya. Saya gak nyangka separah itu ternyata,” ujar Novel dikutip fajar.co.id, Selasa 12 Mei 2026.
Ia juga menyinggung besarnya jumlah warga yang disebut mengungsi akibat konflik yang terus terjadi.
“Termasuk juga soal pengungsian yang berapa ratus ribu orang gitu. 107 ribu sekarang,” tukasnya.
Warga Papua Kehilangan Ruang Hidup
Selain pengungsian, Novel juga menyinggung kondisi masyarakat adat Papua yang disebut kehilangan ruang hidup dan sumber mata pencarian mereka.
“Terus saya melihat bagaimana orang-orang Papua banyak terusir dari kampungnya,” Novel menuturkan.
“Dan banyak mereka kemudian kehilangan ruang untuk mencari mata pencarian dan ruang hidupnya mereka,” tambahnya.
Baginya, masyarakat Papua sejatinya telah lama hidup secara turun-temurun di wilayah adat mereka dan keberadaan wilayah tersebut seharusnya mendapat pengakuan negara.
“Yang mana mereka tinggal di sana kan sudah turun-temurun, wilayah adatnya dia itu harus diakui oleh negara,” ucapnya.
Singgung KKB dan Dugaan Eksploitasi
Novel juga mengaku mulai mempertanyakan akar persoalan konflik bersenjata di Papua setelah melihat berbagai fakta yang disampaikan dalam film dokumenter itu.
“Saya melihat, aduh kok separah itu ternyata. Dan ternyata saya khawatir kemudian jangan-jangan masalah KKB ini karena ada persoalan-persoalan begini,” imbuhnya.
Ia bahkan bilang, isu Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dikhawatirkan justru dijadikan alasan untuk memperbesar pengerahan aparat dan membuka ruang eksploitasi yang berlebihan.
“Karena KKB dijadikan alasan untuk kemudian memperbanyak pasukan dan kemudian mendorong terjadinya eksploitasi yang menurut saya berlebihan,” kuncinya.
(Muhsin/Fajar)
Source link
