Soroti Skandal Ijazah Palsu Pejabat Publik, Tere Liye: Rakyat Bisa Dikadalin Elit Politik

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA – Penulis kondang yang juga dikenal sebagai akuntan, Tere Liye, memberikan kritik pedas terkait fenomena kebohongan pejabat publik di panggung politik.
Kali ini, sorotannya tertuju pada Presiden Filipina, Ferdinand “Bongbong” Marcos Jr., yang rekam jejak akademisnya terbukti bermasalah namun tetap melenggang mulus ke kursi kekuasaan.
Menurut Tere Liye, kasus Bongbong Marcos adalah contoh nyata bagaimana sebuah kebohongan akademis bisa bertahan selama puluhan tahun. Bongbong diketahui pernah mendaftar di Oxford University pada 1975, namun faktanya ia tidak pernah menyelesaikan studinya.
“Dia memang pernah kuliah di Oxford, tapi tidak pernah lulus. Tahun 1978 dia pulang hanya membawa ‘Special Diploma in Social Studies’, tapi lantang dinyatakan sebagai lulusan Oxford dan langsung dilantik jadi pejabat khusus,” ujar Tere Liye dengan nada satir dikutip fajar.co.id pada Kamis, 7 Mei 2026.
Kebohongan ini pun semakin berani. Dalam perjalanan kariernya sebagai senator, Bongbong mencantumkan gelar Bachelor of Arts (BA) dari Oxford dan gelar MBA dari Wharton School, University of Pennsylvania. Namun, setelah dikritisi publik dan dikonfirmasi langsung oleh pihak universitas pada 2022, terungkap bahwa gelar-gelar tersebut fiktif.
Jurus “Ngeles” dan Amnesia Publik
Tere Liye menyoroti bagaimana seorang politisi menggunakan “jurus ngeles” saat terdesak. Ketika bukti tak terbantahkan keluar dari Oxford dan Wharton, Bongbong hanya berdalih bahwa ia memang “pernah kuliah di sana”.
Ironisnya, meski kebohongan pendidikan ini sudah final dan jelas, rakyat Filipina seolah menutup mata.
“Betapa bersyukurnya Bongbong, rakyatnya sangat pemaaf. Mereka tidak peduli dan tetap memilih anak diktator ini jadi Presiden dengan suara 58%. Inilah potret rakyat yang mudah dikadalin oleh elit politiknya,” tegas alumni FE UI ini.
Dampak Nyata bagi Negara
Sebagai sosok yang juga menaruh perhatian pada isu ekonomi, Tere Liye memaparkan kondisi Filipina saat ini sebagai dampak dari kepemimpinan yang minim integritas. Ia mencatat bahwa Filipina kini menjadi eksportir Asisten Rumah Tangga (ART) terbesar di dunia.
“Sekitar 10% PDB Filipina datang dari pekerja buruh migran. Karena tiada lapangan kerja di negerinya sendiri, mereka harus kabur ke luar negeri. Tapi anehnya, rakyat tetap ‘oke gas, oke gas’ kepada dinasti keluarga yang jelas-jelas berbohong soal pendidikan,” pungkasnya.
Melalui narasi ini, Tere Liye mengajak pembaca untuk lebih kritis dalam melihat rekam jejak para pemimpin, karena integritas seorang pemimpin adalah fondasi utama dalam membangun kesejahteraan bangsa. (sam/fajar)
Source link
