Kemendikti Ingin Hapus Prodi Tak Relevan, Anies Ingatkan Risiko: Pengangguran karena Kualitas atau Minim Lapangan Kerja?

PORTALUTAMA.NET — Wacana Kementerian Pendidikan Tinggi (Kemendikti) untuk menghapus program studi (prodi) yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri memicu perdebatan serius. Di satu sisi, kebijakan ini dianggap solusi mengurangi pengangguran lulusan kampus. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan mendasar: apakah pengangguran terjadi karena kualitas lulusan atau justru karena lapangan kerja yang terbatas?
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, turut angkat suara. Ia menilai kebijakan tersebut perlu dikaji secara hati-hati agar tidak berdampak pada arah pembangunan bangsa dalam jangka panjang.
“Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang,” kata Anies dikutip, Sabtu (2/5/2026).
Prodi Dihapus Demi Industri, Solusi atau Penyederhanaan Masalah?
Gagasan menghapus prodi sering didasarkan pada asumsi bahwa ketidaksesuaian antara pendidikan tinggi dan kebutuhan industri menjadi penyebab utama tingginya angka pengangguran. Artinya, jika prodi lebih “link and match”, lulusan akan lebih mudah terserap.
Namun, pendekatan ini dinilai terlalu menyederhanakan persoalan.
Secara struktural, pengangguran tidak hanya dipengaruhi kualitas lulusan, tetapi juga:
- Ketersediaan lapangan kerja yang terbatas
- Pertumbuhan industri yang tidak seimbang
- Transformasi ekonomi yang belum menyerap tenaga kerja terdidik secara optimal
Jika masalah utamanya adalah minimnya penciptaan lapangan kerja, maka menghapus prodi justru berpotensi tidak menyelesaikan akar persoalan.
Ilmu Murni vs Kebutuhan Industri
Dalam pandangannya, Anies menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara ilmu terapan dan ilmu murni.
“Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal,” jelasnya.
Ia mencontohkan bahwa berbagai teknologi modern, mulai dari internet hingga kecerdasan buatan, lahir dari riset dasar yang awalnya tidak memiliki tujuan praktis langsung.
“Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja,” lanjutnya.
Relevansi Tak Selalu Jangka Pendek
Menurut Anies, ukuran “relevansi” tidak bisa hanya dilihat dari kebutuhan industri saat ini.
“Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya,” ujarnya.
Ia mengingatkan, negara yang hanya fokus mencetak tenaga kerja siap pakai tanpa membangun fondasi ilmu berisiko menjadi konsumen, bukan produsen inovasi.
Source link
