Di Belanda 1 Pengasuh Maks 3 Bayi, di RI? Kasus Little Aresha Picu Pertanyaan Sistem Daycare

Fajar.co.id, Yogyakarta – Kasus dugaan kekerasan dan penelantaran terhadap puluhan balita di sebuah daycare di kawasan Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta, kembali menyoroti kualitas layanan penitipan anak di Indonesia.
Bagi Dimas Budi Prasetyo, diaspora Indonesia yang kini tinggal di Belanda, kejadian ini memunculkan pertanyaan mendasar: apa yang salah dengan sistem daycare di Tanah Air?
Dimas yang juga alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini, memiliki pengalaman langsung menitipkan kedua anaknya di daycare di dua negara berbeda.
Anak pertamanya, Sierra, dititipkan di daycare dalam kampus istri di Taiwan saat berusia 2–3 tahun. Sementara anak keduanya, Sienna, sudah masuk daycare sejak usia 6 bulan hingga kini, di kompleks kantor istri di Belanda.
“Di Taiwan dan Belanda, sistem daycare sangat terjadwal dan disiplin,” ujar Dimas yang juga aktif sebagai penulis.
Di Taiwan, kegiatan harian Sierra sangat jelas yakni bermain, snack pagi, jalan-jalan, makan siang, tidur siang, sesi belajar, hingga waktu jemput. Semua memiliki jadwal ketat. Anak-anak juga diajari kemandirian, mulai dari memakai baju sendiri, ke toilet, hingga makan sendiri.
Orang tua rutin menerima laporan tertulis perkembangan tinggi badan (TB) dan berat badan (BB) yang terus dipantau.
Pengalaman serupa dirasakan saat menitipkan Sienna di Belanda. “Kurang lebih sama dengan daycare kakaknya di Taiwan. Ada standar ketat soal rasio pengasuh dan anak,” katanya dikutip fajar.co.id dari unggahan di akun pribadinya, Minggu (26/4/2026).
Source link
