News

Bongkar Dugaan Jual Beli Suara Muktamar NU, Gus Lilur Desak Kiai Miftachul Mundur



PORTALUTAMA.NET, HANOI — Pengusaha Nahdlatul Ulama, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur, melakukan kunjungan kerja ke Hanoi dan Ho Chi Minh City, Vietnam. Kunjungan tersebut dalam rangka menjajaki pengembangan bisnis perdagangan batu bara serta kemitraan budi daya benih bening lobster (BBL).

Di tengah kesibukan aktivitas bisnisnya di luar negeri, Gus Lilur menegaskan tetap melanjutkan desakannya agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusut tuntas dugaan jual beli suara dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Ia juga kembali menyerukan agar KH Miftachul Akhyar mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Rais Aam PBNU.

Gus Lilur menegaskan bahwa aktivitas bisnis dan perjuangan penegakan moral di lingkungan NU merupakan dua hal yang berjalan beriringan dengan prinsip keterbukaan serta pertanggungjawaban.

“Saya tidak sedang menjalani dua hidup. Di dagang maupun di jam’iyyah, ukurannya satu: berani dibuka, berani diperiksa,” ujar Gus Lilur dalam keterangannya, dikutip Selasa (27/10/2026).

Dalam kunjungannya ke Vietnam, Gus Lilur mengaku menerima tawaran pasokan batu bara spesifikasi ICI 1 hingga ICI 5 dengan skema penyerahan CIF Vietnam. Volume yang dibicarakan mencapai 20 juta metrik ton, di mana penandatanganan kontrak dijadwalkan berlangsung pekan depan.

Kendati demikian, ia menegaskan kesepakatan tersebut masih menunggu finalisasi penandatanganan kontrak, kesepakatan harga, jadwal pengapalan, perizinan, hingga pemenuhan kewajiban para pihak.

“Kontrak belum diteken. Kapal belum berlayar. Saya tidak mau dipuji karena sesuatu yang belum terjadi. Nanti saja, kalau barangnya sudah jalan,” katanya.

Upaya ini merupakan kelanjutan dari rintisan perdagangan batu bara ke Vietnam yang telah ia mulai sejak 2015 silam, namun sempat terhenti karena ia sempat menjalani masa pidana perkara UU ITE.

“Orang mengira penjara itu akhir. Buat saya itu jeda,” ujarnya.

Selain batu bara, Gus Lilur tengah membangun kembali jaringan kemitraan budi daya benih bening lobster di Vietnam. Ia menegaskan dukungannya terhadap kebijakan pemerintah yang menghentikan ekspor BBL mentah, serta menekankan pentingnya melawan praktik penggelapan ilegal oleh mafia.

“Dulu ekspor BBL dikuasai mafia. Wajar kalau Presiden menghentikannya, dan saya termasuk yang mengapresiasi. Yang saya lawan bukan kebijakannya. Yang saya lawan mafianya,” tegasnya.

Ia menambahkan, pendekatan di Vietnam murni berupa kemitraan budi daya dan alih teknologi.

“Lobster itu harus gemuk di Indonesia, bukan di tempat orang,” ujarnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *