Binus University Luncurkan Joint Degree Global Business Chinese Bersama South China University of Technology
Binus University melalui program Global Business Chinese bersama South China University of Technology, resmi meluncurkan program joint degree. Kerja sama itu memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menempuh pendidikan di Indonesia dan Tiongkok, sekaligus mendapatkan 2 gelar akademik dari kedua universitas.
Head of Global Business Chinese Binus University Jureynolds mengatakan, mahasiswa Global Business Chinese yang memenuhi persyaratan memiliki kesempatan memperoleh 2 gelar yakni Sarjana Sastra (S. S.) dari Binus University dan Bachelor of Arts (B. A,) dari South China University of Technology.
Program tersebut, kata Jureynolds, dirancang dengan skema pembelajaran 2 ditambah 2, yaitu 2 tahun pertama di Binus University, dan 2 tahun berikutnya di South China University of Technology, Guangzhou, Tiongkok.
Selama 2 tahun pertama, kata Jureynolds, mahasiswa mendapatkan bekal untuk membangun fondasi kemampuan bahasa Mandarin, pemahaman lintas budaya, dan kompetensi bisnis internasional. Selanjutnya, mahasiswa dapat memperdalam kompetensi melalui pengalaman belajar langsung di Tiongkok.
Program tersebut, kata Jureynolds, bisa diikuti mahasiswa aktif Global Business Chinese mulai angkatan “Binusian” 2029 yang memenuhi persyaratan. Juga telah menyelesaikan 4 semester dengan minimal 84 SKS di Binus University, dan memiliki keahlian bahasa Mandarin setara HSK level 5 sesuai ketentuan South China University of Technology.
“Kolaborasi joint degree bersama South China University of Technology memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar langsung di Tiongkok, memperluas jejaring, serta mendapatkan pengalaman internasional yang menjadi bekal penting untuk membangun karier di masa depan,” kata Jureynolds di Binus Kemanggisan, Jakarta, Rabu (21/10).
Melalui peluncuran program joint degree Global Business Chinese bersama South China University of Technology, kata Jureynolds, pihaknya terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan industri global.
Kolaborasi itu juga diharapkan dapat memperluas kesempatan mahasiswa untuk meraih pengalaman internasional, mengembangkan kompetensi lintas budaya, dan mempersiapkan diri menghadapi peluang karier, serta bisnis di masa depan.
Dalam sesi diskusi, Director of Huawei Technologies Mohamad Rosidi mengatakan, kompetensi lintas budaya menjadi sesuatu hal yang penting di tengah perkembangan industri global. Selain itu, seseorang pun perlu memiliki keahlian teknis, kemampuan berkomunikasi, memahami budaya, dan membangun hubungan profesional dengan mitra dari berbagai negara.
Sementara itu, pengusaha dan pencipta konten Steven Howard membagikan pengalamannya selama menempuh pendidikan 13 tahun di Tiongkok, dan akhirnya membangun bisnis di sana. Menurut Steven, pengalaman tersebut menghadirkan pemahaman langsung terkait budaya, perkembangan teknologi, dan karakteristik lingkungan bisnis di Tiongkok.
Steven pun mengaku aktif menghubungkan pengusaha Indonesia dengan ekosistem bisnis Tiongkok. Selain itu, Steven pun memiliki pengalaman dalam memabgnung bisnis di bidang pemasaran dan kecerdasan buatan (AI).
