AHY Ungguli Gibran di Simulasi Pilpres Dua Nama, Prabowo Terancam Tersingkir

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Direktur Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Deni Irvani, kembali mengungkap temuan survei terkait elektabilitas sejumlah tokoh politik yang berpotensi maju dalam pemilihan presiden (Pilpres).
Dalam simulasi banyak nama, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) mencatat elektabilitas tertinggi sebesar 35,5 persen, unggul jauh dibandingkan Presiden Prabowo Subianto.
“Bahkan meskipun Dedi Mulyadi tidak maju karena berasal dari partai yang sama dengan Prabowo, Prabowo tetap lemah, tidak berhasil menarik elektabilitas Dedi Mulyadi,” kata Deni Irvani, yang tayang di YouTube SMRC, Kamis, (22/10/2026).
Menurutnya, kuatnya elektabilitas Dedi Mulyadi tidak serta-merta menguntungkan Prabowo. Suara pendukung KDM justru lebih tersebar kepada Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Jadi, suara Dedi yang sangat kuat itu tidak berhasil ditarik oleh Prabowo dan lebih tersebar kepada Agus Harimurti Yudhoyono dan Gibran Rakabuming Raka,” lanjutnya.
Elektabilitas Gibran dan AHY Bersaing Ketat
Dalam simulasi tiga nama yang mempertemukan Prabowo, Gibran, dan AHY, elektabilitas Gibran mencapai 29,7 persen, sedangkan AHY meraih 28,2 persen. Selisih keduanya hanya 1,5 persen.
Deni menilai selisih tersebut belum cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa Gibran unggul atas AHY.
“Kita tidak punya bukti yang kuat untuk menyimpulkan bahwa Gibran unggul kalau selisihnya hanya 1,5 persen. Jadi, kita simpulkan memang imbang. Kalau Gibran dengan Pak Prabowo memang selisihnya di atas 6 persen. Lebih besar dari dua kali margin of error, sehingga Prabowo memang lebih rendah,” jelasnya.
Deni menegaskan, jika Pilpres diikuti tiga pasangan atau kandidat dalam simulasi tersebut, AHY dan Gibran dinilai lebih berpeluang melaju ke putaran kedua, sementara Prabowo berpotensi tersingkir.
Hal itu berkaitan dengan ketentuan pemilihan presiden yang mensyaratkan perolehan suara lebih dari 50 persen untuk memenangkan pemilihan pada putaran pertama, dengan memenuhi persyaratan persebaran suara sebagaimana diatur dalam undang-undang.
Jika tidak ada kandidat yang memenuhi ketentuan tersebut, pemilihan akan dilanjutkan ke putaran kedua. Dalam skenario yang mempertemukan Prabowo, AHY, dan Gibran, Deni memperkirakan AHY dan Gibran berpeluang masuk ke putaran kedua apabila kondisi elektabilitas tidak banyak berubah.
AHY Ungguli Gibran dalam Simulasi Dua Nama
Menariknya, hasil berbeda muncul ketika SMRC menguji simulasi dua nama antara AHY dan Gibran.
Dalam simulasi tersebut, AHY memperoleh elektabilitas sebesar 41,6 persen, sedangkan Gibran meraih 36 persen. Selisih keduanya mencapai 5,6 poin persentase.
Source link
