Isu Keretakan Prabowo-Gibran Memanas, Mayor Teddy Hingga Sugiono Masuk Bursa Pengganti Gibran

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Konstelasi politik di lingkaran puncak kekuasaan nasional dikabarkan mulai mengalami pergeseran dinamis. Wacana mengenai peretakan hubungan politik antara Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kian menguat seiring mencuatnya tiga nama figur potensial yang digadang-gadang mengisi posisi pendamping Prabowo di masa mendatang.
Kabar mengenai dinamika internal koalisi pemerintahan ini diungkapkan oleh jurnalis investigasi Tempo, Hussein Abri Yusuf Dongoran, dalam bincang politik bersama pengamat Hendri Satrio di kanal YouTube Hendri Satrio Official, Kamis (24/9/2026).
Hussein membeberkan bahwa berdasarkan penelusuran dari berbagai lingkaran elite—mulai dari Partai Gerindra, PSI, lingkaran terdekat Joko Widodo, hingga kelompok relawan—muncul indikasi kuat bahwa Prabowo tengah mempertimbangkan ulang peta kepemimpinan nasional ke depan.
“Per hari ini, Prabowo mungkin saja tidak mau dengan Gibran lagi. Makanya muncul tiga nama: Teddy Indra Wijaya, Sugiono, dan Sudaryono,” ujar Hussein saat menjelaskan hasil penelusuran informasinya.
Ketiga nama tersebut memiliki kedekatan strategis serta rekam jejak yang intens dengan Prabowo.
Teddy Indra Wijaya dikenal luas melalui perannya di lingkaran inti Prabowo, sementara Sugiono dan Sudaryono merupakan kader kunci Partai Gerindra yang memegang peran vital di struktur partai maupun pemerintahan.
Perkembangan politik ini berjalan beriringan dengan pembahasan Revisi Undang-Undang Pemilu (RUU Pemilu) di DPR.
Wacana kenaikan ambang batas parlemen (parliamentary threshold) menjadi 5 hingga 7 persen diprediksi akan mengunci ruang gerak partai pendukung.
“Kalau PSI enggak bisa lolos, berarti kan enggak bisa mengajukan Gibran lagi. Jika RUU Pemilu menerapkan threshold yang ketat, otomatis ruang politik untuk pengusungan akan berubah,” jelas Hussein.
Sinyal perubahan peta politik ini rupanya telah diantisipasi oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo melalui langkah konsolidasi di daerah guna menjaga daya tawar (bargaining position) keluarganya.
“Jokowi itu punya strategi politik yang luar biasa. Enggak mungkin dia bergerak tanpa kalkulasi yang matang. Keliling ke daerah-daerah itu bertujuan menaikkan bargaining dirinya sendiri, termasuk bargaining untuk Gibran di tengah tren kepuasan publik yang dinamis,” tambah Hussein.
Sisi menarik lainnya terungkap dari pola komunikasi antara Jokowi dan Gibran. Hussein membeberkan fakta dari wawancara langsung bersama Jokowi beberapa waktu lalu di Surakarta, di mana mantan presiden tersebut secara terbuka mengaku jarang berdiskusi maupun bertelepon dengan Gibran mengenai urusan pemerintahan.
Source link
