BusinessNews

Fed Kerek Suku Bunga, Bagaimana Arah Kebijakan Bank Indonesia?


Keputusan The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4,00% menambah tantangan bagi Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.

Kenaikan tersebut merupakan yang pertama dilakukan The Fed sejak 2023. Kebijakan ini ditempuh ketika tekanan inflasi Amerika Serikat kembali meningkat, sementara aktivitas ekonomi dan pasar tenaga kerja masih menunjukkan ketahanan.

Dalam laporan Indonesia Macro Glint edisi 17 September 2026, Bank Danamon menilai perubahan arah kebijakan The Fed tersebut berpotensi memengaruhi bauran kebijakan moneter Indonesia.

Lead Economist Bank Danamon Irman Faiz mengatakan, BI kemungkinan akan lebih dahulu mengandalkan intervensi valuta asing (foreign exchange/FX) dan instrumen non-suku bunga untuk meredam tekanan terhadap rupiah.

“Setelah The Fed menaikkan suku bunga dengan sikap hawkish, Bank Indonesia kemungkinan akan terus mengandalkan intervensi valuta asing (FX) dan instrumen non-suku bunga lainnya sebagai garis pertahanan pertama,” kata Faiz, dikutip dari dalam laporan tersebut.

Menurut Faiz, ruang BI untuk mempertahankan kebijakan tersebut tetap dipengaruhi oleh perkembangan rupiah dan arus modal global. Terlebih, Bank Danamon memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia akan melebar menjadi 1,5% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2026 dan 1,6% pada 2027.

Kondisi tersebut membuat rupiah tetap sensitif terhadap perubahan arus modal global. Penguatan dolar AS yang tercermin dari kenaikan US Dollar Index (DXY) juga dapat meningkatkan kebutuhan Indonesia untuk mempertahankan selisih suku bunga yang cukup menarik.

“Penguatan kembali DXY akan meningkatkan kebutuhan untuk mempertahankan selisih suku bunga yang cukup menarik,” ujar Faiz.

BI Rate Berpotensi Naik

Faiz mengatakan, apabila tekanan terhadap rupiah terus berlanjut, BI berpotensi mengambil langkah pre-emptive melalui kenaikan suku bunga.

“Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan suku bunga secara pre-emptive menuju proyeksi BI Rate 6,25% pada akhir 2026 apabila tekanan terhadap rupiah terus berlanjut,” kata dia.

Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa meskipun BI masih memiliki instrumen non-suku bunga untuk merespons tekanan eksternal, suku bunga tetap menjadi salah satu instrumen yang dapat digunakan apabila stabilitas nilai tukar menghadapi tekanan yang lebih besar.

Dalam proyeksi Bank Danamon, BI Rate diperkirakan berada di level 6,25% pada akhir 2026. Sementara itu, rupiah diproyeksikan berada di level Rp17.963 per dolar AS pada akhir tahun, dibandingkan Rp16.703 per dolar AS pada akhir 2025.

Bank Danamon juga memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada akhir 2026 berada di sekitar US$147,5 miliar, dengan cakupan impor dan utang eksternal sekitar 5,6 bulan.

The Fed Lebih Hawkish

Di sisi lain, keputusan The Fed menaikkan suku bunga disertai dengan perubahan proyeksi ekonomi yang menunjukkan bank sentral AS masih memberikan perhatian besar terhadap inflasi.

Inflasi konsumen AS pada Agustus 2026 tercatat naik 0,4% secara bulanan (month-to-month/MoM), sehingga inflasi tahunan mencapai 3,4%. Inflasi inti meningkat 0,3% MoM, meskipun secara tahunan sedikit melandai menjadi 2,4%.

Tekanan harga dari sisi hulu juga kembali meningkat. Producer Price Index (PPI) utama naik 0,4% MoM dan 5,4% YoY, didorong kenaikan harga barang sebesar 1,1%.

Pada saat yang sama, penjualan ritel AS meningkat 1,2% MoM, lebih tinggi dari perkiraan. Kelompok kontrol yang digunakan dalam perhitungan PDB bahkan meningkat 1,4%.

Data tersebut menunjukkan permintaan konsumen AS masih relatif kuat meskipun tekanan harga meningkat. Kondisi ini memberikan ruang bagi The Fed untuk lebih memusatkan perhatian pada stabilitas harga.

Proyeksi ekonomi September The Fed juga memperlihatkan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat. Proyeksi pertumbuhan PDB AS 2026 dan 2027 masing-masing dinaikkan menjadi 2,3% dan 2,4%, dari sebelumnya 2,2% dan 2,3%.

Proyeksi tingkat pengangguran untuk kedua tahun tersebut juga diturunkan menjadi 4,1% dari sebelumnya 4,3%.

Sementara itu, proyeksi inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) utama dan inti 2026 masing-masing dinaikkan menjadi 3,7% dan 3,4%, dari sebelumnya 3,6% dan 3,3%.

Perubahan tersebut turut tercermin dalam dot plot The Fed yang menjadi lebih hawkish. Jalur median kini mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 bps lagi hingga akhir 2026.

Proyeksi Fed Funds Rate berada di level 4,1% pada akhir 2026, 4,1% pada akhir 2027, dan 3,9% pada akhir 2028. Ini menunjukkan suku bunga AS berpotensi bertahan pada level yang lebih tinggi dalam jangka waktu lebih panjang.

BI Hadapi Dilema Stabilitas dan Pertumbuhan

Bagi Indonesia, kondisi tersebut menciptakan tantangan dalam menyeimbangkan stabilitas eksternal dengan kebutuhan untuk menjaga momentum pertumbuhan domestik.

Bank Danamon memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,15% pada 2026. Konsumsi swasta diproyeksikan tumbuh 5,13%, sedangkan pembentukan modal tetap bruto tumbuh 5,18%.

Indikator 2023 2024 2025 2026E
PDB riil (% YoY) 5,0 5,03 5,11 5,15
Permintaan domestik di luar persediaan (% YoY) 4,6 4,94 4,99 5,08
Konsumsi riil: swasta (% YoY) 4,9 4,9 4,98 5,13
Pembentukan Modal Tetap Bruto (% YoY) 4,4 4,61 5,09 5,18
PDB nominal (US$ miliar) 1.371 1.440 1.445 1.681
PDB per kapita (US$) 4.920 4.960 5.083 5.398
Tingkat pengangguran terbuka (%) 5,3 4,9 4,7 4,5
Ekspor (% YoY, basis BoP) -11,3 6,51 6,15 4,56
Impor (% YoY, basis BoP) -7,3 7,95 2,83 16,29
Neraca perdagangan (US$ miliar) 46,4 31,04 41,05 9,75
Transaksi berjalan (% PDB) -0,1 -0,3 -0,1 -1,5
Utang pemerintah pusat (% PDB) 38,9 39,13 40,50 41,54
Cadangan devisa – IRFCL (US$ miliar) 146,4 155,7 156,5 147,5
Cadangan devisa / cakupan impor & utang eksternal (bulan) 6,5 6,5 6,3 5,6
Rupiah/US$ (akhir tahun) 15.399 16.235 16.703 17.963
Rupiah/US$ (rata-rata) 15.244 15.920 16.482 17.635
USD/CNH (akhir tahun) 7,13 7,34 6,98 6,65
USD/CNH (rata-rata) 7,09 7,21 7,19 6,70
Rupiah/CNH (akhir tahun) 2.161 2.199 2.391 2.701
Rupiah/CNH (rata-rata) 2.150 2.199 2.292 2.632
BI Rate (% akhir tahun) 6,0 6,0 4,75 6,25
Harga konsumen (% akhir tahun) 2,61 1,57 2,92 3,29
Saldo fiskal (% PDB; tahun fiskal) -1,65 -2,3 -2,92 -2,89
Peringkat S&P – FCY BBB BBB BBB BBB

Sumber: Bank Danamon dalam Indonesia Macro Glint edisi 17 September 2026

Di sisi lain, konsumsi domestik masih menghadapi tekanan. Pertumbuhan penjualan ritel hanya mencapai 0,5% YoY pada Agustus 2026, melambat dari 1,1% pada bulan sebelumnya. Pelemahan terutama terlihat pada kelompok konsumen mass market.

Karena itu, dukungan terhadap perekonomian domestik tetap diperlukan. Pemerintah memperpanjang program bantuan beras sebesar 10 kilogram per bulan bagi 33,2 juta rumah tangga yang berada pada empat desil terbawah kesejahteraan untuk periode Juli-Desember. Total dukungan program tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp35 triliun.

Menurut Faiz, kombinasi kebijakan tersebut membuat bauran kebijakan Indonesia ke depan cenderung lebih defensif terhadap faktor eksternal, tetapi tetap diarahkan untuk menopang perekonomian domestik.

“Kami memperkirakan bauran kebijakan Indonesia akan menjadi lebih defensif terhadap faktor eksternal, namun tetap mendukung perekonomian domestik,” kata Faiz.

Selain kebijakan moneter, Bank Danamon memperkirakan kebijakan fiskal juga akan berperan dalam menjaga momentum ekonomi. Bank Danamon mempertahankan proyeksi defisit fiskal 2027 sebesar 2,75% dari PDB, lebih tinggi dari target pemerintah sebesar 2,40%, tetapi masih di bawah batas maksimum 3% sesuai ketentuan perundang-undangan.

Dalam kondisi ruang fiskal yang terbatas, fokus kebijakan diperkirakan bergeser dari ekspansi secara keseluruhan menuju peningkatan kualitas belanja dan penguatan economic multiplier.

Penunjukan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan, menurut Bank Danamon, memperkuat kesinambungan arah kebijakan fiskal. Kementerian Keuangan juga diperkirakan mulai menormalisasi penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) seiring meningkatnya kebutuhan belanja pemerintah pada paruh kedua 2026.

Penarikan SAL diperkirakan dilakukan secara bertahap dan terukur serta dikoordinasikan dengan BI untuk membatasi dampaknya terhadap likuiditas dan biaya pendanaan.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *