Erupsi Gunung Anak Krakatau Bisa Jadi Ancaman Keberlangsungan Ajang FIFA ASEAN Cup 2026

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Berlangsungnya kompetisi FIFA ASEAN Cup 2026 seperti menjadi perhatian dan perbincangan di tengah situasi saat ini.
Terjadinya erupsi Gunung Anak Krakatau yang membuat wilayah Jakarta dan daerah lain ikut terdampak membuat kompetisi FIFA ASEAN Cup 2026 terancam.
Meski belum ada keputusan, hanya saja situasi ini bisa saja mengancam keberlangsungan kompetisi sepak bola antar negara ini.
Ini tentunya perlu untuk jadi perhatian setelah erupsi Gunung Anak Krakatau menyebarkan abu vulkanik hingga ke wilayah Jakarta.
Untuk kondisi terbaru, erupsi selama sekitar 25 jam telah berakhir, namun aktivitas vulkanik belum sepenuhnya berhenti.
Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga) dan pemantauan terus dilakukan.
Bahkan hingga 7 September, sebaran abu vulkanik masih berdampak pada sejumlah wilayah dan sempat menyebabkan penutupan sementara beberapa bandara, termasuk di Jakarta.
Namun, belum ada informasi resmi bahwa FIFA ASEAN Cup 2026 di Indonesia dibatalkan atau ditunda.
Dengan turnamen dijadwalkan berlangsung 21 September–6 Oktober 2026, masih terdapat waktu untuk melihat perkembangan kondisi Gunung Anak Krakatau dan dampaknya terhadap Jakarta.
Untuk saat ini turnamen tetap menjadi agenda, sementara kondisi erupsi terus dipantau.
Sebelumnya, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan erupsi menerus Gunung Anak Krakatau telah berakhir setelah berlangsung selama 25 jam, namun aktivitas vulkanik masih terus dipantau karena tingkat kegempaan masih tinggi.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria dalam keterangan resminya diterima di Jakarta, Senin menjelaskan episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berlangsung sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB hingga Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB.
Setelah periode tersebut berakhir, aktivitas erupsi kembali menunjukkan pola letusan ringan yang menjadi karakteristik Gunung Anak Krakatau yang berada di Provinsi Lampung tersebut.
“Setelah episode erupsi menerus berakhir, teramati tiga kali erupsi strombolian dengan warna kolom erupsi hitam. Kembalinya erupsi strombolian yang merupakan karakteristik khas Gunung Anak Krakatau, untuk sementara diinterpretasikan sebagai akhir dari episode erupsi menerus yang cukup panjang tersebut,” ujar Lana dikutip dari Antara. (Erfyansyah/fajar)
Source link
