“Paru-Paru Dunia” Tak Sehat, Bagaimana Dunia Bisa Sehat?

Manusia Bernegosiasi dengan Asap
Muliadi Saleh : Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran
Bayangkan seseorang sedang duduk tenang di beranda rumahnya. Ia masih bisa berbicara, berjalan, bekerja, bahkan tersenyum seperti biasa, tetapi ada sesuatu yang tidak terlihat sedang mengganggu tubuhnya: paru-parunya mulai bermasalah. Napas menjadi pendek, dada terasa berat, batuk datang berulang, dan udara yang semestinya memberi kehidupan justru terasa seperti beban. Pada titik tertentu, manusia tidak lagi sibuk mengejar banyak hal; ia hanya ingin satu perkara sederhana—bisa bernapas dengan lega.
Begitulah mungkin cara kita memahami keadaan bumi hari ini. Hutan tropis memang bukan paru-paru bumi secara harfiah, tetapi ia memiliki fungsi ekologis yang sangat penting dalam menyimpan karbon, mengatur tata air, menjaga keanekaragaman hayati dan membantu kestabilan iklim. Karena itu, ketika hutan dan lahan gambut terbakar, seolah-olah salah satu sistem penyangga kehidupan planet ini sedang mengalami gangguan serius.
Kalimantan kini memberi kita gambaran yang menggetarkan. Langit yang semestinya biru berubah kelabu, matahari tampak samar, sementara masyarakat di sejumlah wilayah harus berhadapan dengan kabut asap dan udara yang tidak sehat. Manusia mulai bernegosiasi dengan asap: kapan anak harus berangkat sekolah, kapan warga boleh keluar rumah, kapan jendela harus ditutup, kapan masker harus dikenakan, dan kapan aktivitas di luar ruangan harus dihentikan.
Data BNPB menunjukkan betapa seriusnya persoalan tersebut. Hingga 9 Agustus 2026, luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas mencapai sekitar 48.889 hektare, dengan Kalimantan Barat sekitar 28.680 hektare; sementara perkembangan pada awal September menunjukkan penanganan karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan masih menjadi perhatian pemerintah. Di balik angka tersebut terdapat manusia, satwa, hutan, kebun, sekolah, rumah dan kehidupan yang harus beradaptasi dengan sesuatu yang seharusnya tidak menjadi bagian dari kehidupan normal.
Ketika Napas Mulai Terganggu
Kita bisa membayangkan tubuh manusia sebagai sebuah rumah. Paru-paru adalah ruang tempat udara masuk dan keluar, menyediakan kebutuhan mendasar bagi tubuh untuk terus bekerja. Ketika paru-paru terganggu, pekerjaan, perjalanan, bahkan percakapan sederhana bisa berubah menjadi perjuangan.
Begitu pula bumi. Hutan dan ekosistem alam adalah bagian dari sistem penyangga kehidupan yang bekerja jauh sebelum manusia menyadari nilainya. Kita sering baru menyadari betapa pentingnya udara ketika napas mulai sesak; sebagaimana kita baru menyadari betapa pentingnya hutan ketika langit mulai dipenuhi asap.
Source link
