Guru Besar Unair Prediksi Agustus Tidak Ada Demo Besar dan Rusuh: Kecuali Ada ‘Dalang Politik’

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Isu mengenai kemungkinan pecahnya demonstrasi besar hingga kerusuhan pada Agustus kembali menjadi perhatian publik.
Mengingat, Indonesia baru saja mencatat sejarah baru demo besar-besaran dengan membakar sejumlah fasilitas umum termasuk kantor DPRD pada Agustus 2025 lalu.
Namun, Guru Besar Universitas Airlangga (Unair), Prof Henri Subiakto, justru melihat situasi tersebut belum mengarah pada potensi kerusuhan besar.
Henri mengatakan bahwa gejolak sosial tidak muncul begitu saja. Menurutnya, dibutuhkan pemicu atau trigger yang mampu mengubah keresahan masyarakat menjadi kemarahan massal.
Ia pun membuka kemungkinan berbeda apabila terdapat kekuatan politik dengan sumber daya besar yang sengaja memanfaatkan kekecewaan publik untuk mendorong perubahan politik.
Henri: Demo Organik Bisa Muncul
Henri mengaku sempat mendapat pertanyaan dari sejumlah rekannya mengenai kemungkinan terjadinya demonstrasi besar dan kerusuhan pada Agustus.
“Pertanyaan ini sempat ditanyakan ke saya oleh teman teman. Jawabannya saya termasuk orang yang tidak melihat kemungkinan ini,” ujar Henri, dikutip fajar.co.id, Selasa (25/8/2026).
Meski begitu, ia tidak menutup kemungkinan munculnya aksi demonstrasi yang bersifat organik.
“Kecuali ada kekuatan politik dengan dana besar yang diam diam melakukan operasi ingin memafaatkan kondisi banyaknya kekecewaan di masyarakat,” sebutnya.
“Itupun mungkin hanya bisa memunculkan demo demo organi,” sambung dia.
Menurut Henri, demonstrasi organik belum tentu berkembang menjadi gerakan massa dalam skala besar.
Harus Ada ‘Titik Api’
Dijelaskan Henri, pengalaman sejumlah aksi besar menunjukkan bahwa mobilisasi massa biasanya membutuhkan sebuah peristiwa pemicu.
“Untuk jadi gerakan massa seperti tahun lalu, membutuhkan titik api, triger, point of fire peristiwa yg membakar kemarahan, seperti tergilasnya driver ojol oleh mobil Rantis. Atau tertembaknya mahasiswa Trisakti tahun 1998, dan peristiwa tragis sejenis,” tukasnya.
Lanjut dia, respons aparat terhadap massa justru dapat menjadi salah satu faktor yang memperbesar eskalasi.
“Artinya munculnya kemarahan massa justru dari perilaku aparat keamanan sendiri saat menghadapi massa,” jelasnya.
Henri memandang bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia pada dasarnya lebih memilih kondisi yang aman dan terkendali.
“Tanpa adanya triger, aktivis dan masyarakat kita lebih suka kondisi yang terkendali. Tipe yang tidak mudah marah, tidak ngamukan, tidak pula mudah jadi nekad menjarah,” bebernya.
Ia menilai karakter masyarakat Indonesia yang relatif sabar juga menjadi salah satu alasan mengapa keresahan belum tentu berubah menjadi kerusuhan.
Source link
