Merdeka yang Belum Selesai :Spiral Kebencian, Retak-Retak Sosial, dan Agenda Membangun Karakter Bangsa

Oleh: Andi Muhammad Jufri, Tenaga Ahli Wamen KPPPA/Praktisi Pembangunan Sosial
PORTALUTAMA.NET – Memasuki bulan Agustus, merah putih kembali berkibar di berbagai sudut negeri. Gapura-gapura mulai dicat, lomba-lomba rakyat dipersiapkan, dan lagu-lagu perjuangan kembali menggema. Seperti tahun-tahun sebelumnya, bangsa ini bersiap merayakan kemerdekaannya.
Namun di tengah semarak itu, ada pertanyaan yang layak kita renungkan bersama: setelah lebih dari delapan dekade merdeka, apakah kita benar-benar telah merdeka?
Pertanyaan tersebut terasa semakin relevan ketika melihat berbagai peristiwa yang mewarnai Indonesia sepanjang semester pertama tahun 2026. Data kriminalitas nasional menunjukkan 311.832 perkara kejahatan terjadi selama enam bulan pertama tahun ini, menjadikannya angka tertinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Di antara berbagai tindak kriminal tersebut, penganiayaan menjadi salah satu wajah kekerasan yang paling menonjol.
Pada saat yang sama, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat 55 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan dengan 275 anak menjadi korban. Sebanyak 78 persen berupa kekerasan seksual, 14,5 persen kekerasan fisik, dan 5,5 persen kekerasan psikis. Kenyataan ini menjadi ironi besar. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya harapan justru menjadi ruang yang menghadirkan ketakutan bagi sebagian anak.
Belum reda kegelisahan itu, publik kembali dikejutkan oleh kasus dugaan kekerasan anak di Little Aresha Daycare Yogyakarta. Hingga akhir Juli 2026, jumlah tersangka telah mencapai 32 orang dengan 157 anak tercatat sebagai korban.
Di Bali, seorang pria berinisial KD meninggal dunia setelah menjadi korban aksi main hakim sendiri. Ia diteriaki sebagai pencuri ayam aduan, dikeroyok massa, dan sepeda motornya dibakar. Belum ada putusan pengadilan, tetapi nyawa telah melayang.
Di Jakarta, tawuran kembali menjadi berita sehari-hari. Seorang remaja tewas dalam tawuran di Cilincing akibat sabetan senjata tajam. Di Menteng, seorang tewas dengan konflik kelompok. Di Tambora, kelompok yang bertikai menggunakan air keras sebagai senjata. Di kawasan Pantai Indah Kapuk, publik menyaksikan viralnya konvoi pemuda yang membawa celurit di jalan raya.
Di berbagai wilayah Jawa Barat, pembegalan dan kejahatan jalanan meningkat. Kepolisian mengungkap puluhan kasus hanya dalam satu bulan. Para pekerja yang pulang malam, pengendara motor, hingga pelajar menjadi sasaran. Jalan raya yang seharusnya menjadi ruang mobilitas warga berubah menjadi ruang kecemasan.
Source link
