Elektabilitas PSI Naik Drastis, Pengamat: Kudeta Merangkak Jokowi ke Prabowo Semakin Nyata dan Brutal

Fajar.co.id, Jakarta — Di tengah riuh rendah politik nasional, sebuah paradoks mulai mencuat: PSI tiba-tiba menyundul elektabilitas hingga menembus ambang batas parlemen. Fenomena ini bukan sekadar angka survei, melainkan sinyal keras bahwa peta politik sedang bergeser.
Publik tersentak dengan prestasi PSI. Fakta tak banyak bicara, berdasarkan hasil survei nasional terbaru dari lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada periode 5–19 Juli 2026, elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) telah menembus angka 4,1 persen.
Hal tersebut disampaikan Pengamat Politik dan Ekonomi, Heru Subagia, melalui keterangannya kepada fajar.co.id, Jumat (31/7/2026).
PAN Menjadi Korban
Elektabilitas meloncat dari tradisi PSI yang selama ini hanya bermain di bawah 2 persen. PSI dalam survei tersebut mampu menduduki rangking 8 partai nasional.
“Harusnya Ketua Umum Parpol yang masuk koalisi pendukung Prabowo merasa malu telak karena pencapaian elektabilitas kian terpuruk hingga terpental ke nomor 10, di bawah 2 persen. Partai tersebut adalah Partai Amanat Nasional – PAN yang diketuai Zulkifli Hasan,” kata Heru Subagia.
Info grafis politik yang dicapai PSI adalah kenaikan riil bukan semu atau bahkan kebetulan. “Perjalanan dan pendalaman mendalam seorang Tukang Kayu , hasil buah dari strategi Jokowi yang lihai memainkan panggung politik dua arah, menekan Prabowo sekaligus mengangkat Gibran,” urai alumni FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.
Kenaikan elektabilitas PSI hingga di atas 4 persen menjadikan PSI sudah naik kelas. Menjadi parpol yang lolos ambang batas parlemen atau Parlemen Threshold.
Hanya PSI yang naik secara persentase dan tentunya menjadi tamparan bagi partai-partai koalisi pendukung Prabowo. “Alih-alih memperkuat barisan, justru terjadi kompetisi internal yang menggerus ruang politik Gerinda,” tambah Heru Subagia
Ambil Momentum
Jokowi lewat PSI, lanjut Heru, berhasil membangun citra baru yang lebih segar, sehingga partai ini tampil sebagai alternatif di tengah stagnasi partai koalisi.
Survei terbaru menunjukkan tren negatif bagi Gerinda. Tekanan politik personal terhadap Prabowo semakin terasa, sementara partainya justru mengalami penurunan.
“Terjadi distorsi kepemimpinan ini membuka celah bagi Jokowi dan Gibran untuk mengambil alih momentum,” ungkap Ketua Kagama Cirebon Raya ini.
Jadi, sambung Heru Subagia, kemenangan elektoral sesungguhnya diperoleh Gibran, dan itu langsung mengangkat citra PSI sebagai portofolio politik Jokowi yang secara kasat mata menjadi kekuatan besar dalam tubuh Partai Solidaritas Indonesia .
Source link
