Warga, Jurnalis, dan LSM di Makassar Kompak Turun ke Jalan Persoalkan Cap Londo Ireng Prabowo: Kami Muak!

PORTALUTAMA.NET, MAKASSAR – Sekelompok massa menggelar aksi demonstrasi memprotes penyebutan “londo ireng” oleh Presiden Prabowo Subianto terhadap jurnalis, pengamat, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Aksi berlangsung di Flyover persimpangan Jalan Urip Sumoharjo-Jalan AP Pettarani, Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (28/7/2026).
Para demonstran membawa spanduk besar bertuliskan “Makassar Bersuara. Kami Muak, Prabowo.”
Wakil Kepala Divisi Advokasi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar, Mirayayi Amin, menjelaskan bahwa istilah “londo ireng” yang disampaikan Prabowo muncul sebagai respons terhadap pemberitaan yang mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Mira, program MBG belum memberikan manfaat bagi sebagian besar masyarakat.
“MBG tidak menyejahterakan kebanyakan orang. Hanya menguntungkan segelintir orang,” kata Mira dalam orasinya.
Mira menilai, jika ditinjau dari sejarah, istilah londo ireng merujuk pada pengkhianat bangsa. Karena itu, penyematan istilah tersebut kepada pihak-pihak yang kritis dianggap sebagai bentuk stigmatisasi.
“Ini menjadi salah satu titik terendah sebagai warga negara Indonesia yang kritis,” ujarnya.
Menurutnya, alih-alih memberikan solusi atas kritik yang disampaikan masyarakat sipil, pemerintah justru memberikan stigma.
“Ketika kita mengkritik malah diberikan cap londo ireng. Bukannya menghadirkan solusi, malah menstigmatisasi,” ungkapnya.
Berangkat dari berbagai kebijakan dan pernyataan pejabat pemerintah, Mira mengaku masyarakat mulai merasa jenuh.
“Hari ini, dari Makassar, kami sudah mulai muak,” pungkasnya.
Hal senada disampaikan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar, Sahrul Ramadan. Ia menilai penyebutan londo ireng merupakan bentuk pelabelan yang tidak tepat.
“Apa yang sesungguhnya disampaikan pejabat negara mengenai londo ireng, antek asing, adalah sesuatu yang tidak benar,” kata Sahrul dalam orasinya.
Menurut Sahrul, selama ini pengamat, jurnalis, dan LSM berada di garis depan memperjuangkan hak-hak masyarakat yang terpinggirkan.
“Selama ini kami bergelut melawan penindasan, melawan korporasi, melawan elite, ketika warga dan masyarakat sipil berjuang merebut ruang hidupnya yang diambil oleh penguasa,” ujarnya.
Meski kerap bersikap kritis, Sahrul menegaskan jurnalis tetap bekerja berdasarkan kode etik jurnalistik.
“Jurnalis selama ini bekerja berdasarkan kode etik dan perilaku. Artinya, sesuatu yang bersifat publik seharusnya diungkap kepada publik,” pungkasnya.
Selain AJI Makassar dan LBH Makassar, aksi tersebut juga diikuti oleh Walhi Sulsel, LBH Pers Makassar, SP Anging Mammiri, Pewarta Foto Indonesia (PFI) Makassar, serta warga terdampak Proyek Strategis Nasional (PSN).
Turut hadir pula Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Sulsel, Aliansi Gerakan Agraria (AGRA) Sulsel, jurnalis lepas, pers mahasiswa, dan mahasiswa.
Pernyataan Prabowo
Pernyataan Prabowo disampaikan saat puncak peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta International Convention Center (JICC), Kamis (23/7/2026).
Mulanya, Prabowo mengatakan telah menginstruksikan perbaikan 100.000 sekolah pada 2027.
“Tahun 2027, saya instruksikan harus lebih dari 100.000 sekolah yang sekian belas tahun tidak disentuh,” kata Prabowo.
Namun, menurutnya, masih ada media yang lebih memilih menyoroti sekolah yang belum diperbaiki daripada yang sudah selesai direnovasi.
“Ada juga media yang walaupun kita sudah perbaiki 67.000 sekolah, dia cari sekolah yang belum diperbaiki. Dia foto besar, taruh di halaman pertama,” ujarnya.
Meski demikian, Prabowo tidak menyebut media yang dimaksud.
“Aduh, kita enggak ngerti. Saya enggak sebut media mana itu, pada saatnya akan saya sebut,” imbuhnya.
Prabowo menegaskan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi dan dirinya tidak antikritik.
“Kalian sudah tahu kita negara demokrasi, kita tidak antikritik, tapi kita bukan anak kecil,” katanya.
Namun, ia menilai selalu ada pihak yang lebih memilih mengabdi kepada bangsa lain. Kelompok itulah yang ia sebut sebagai londo ireng.
Source link
