News

Survei SMRC: Kepuasan Publik terhadap Kinerja Prabowo Turun Tajam Jadi 51 Persen, Ekonomi, Politik, dan Hukum Jadi Sorotan



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA – Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mengalami penurunan signifikan berdasarkan survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Penurunan tersebut dinilai berkaitan erat dengan memburuknya persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi, politik, dan penegakan hukum di Indonesia.

Survei SMRC yang dirilis pada Minggu (26/7/2026) menunjukkan sebanyak 51 persen responden menyatakan puas terhadap kinerja Presiden Prabowo, sementara 46,9 persen menyatakan kurang puas atau tidak puas.

Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, mengatakan hasil tersebut belum dapat disimpulkan sebagai dominasi kelompok puas maupun tidak puas karena masih berada dalam rentang margin of error sebesar 3,7 persen.

“Dengan margin of error 3,7 persen, tidak bisa disimpulkan bahwa yang lebih banyak adalah yang menilai puas atau sebaliknya, tidak puas,” ujar Deni Irvani.

Meski demikian, ia menegaskan tren penurunan kepuasan publik terjadi secara konsisten dalam beberapa survei terakhir. Pada November 2025, tingkat kepuasan terhadap pemerintahan Prabowo masih mencapai 81,2 persen, kemudian turun menjadi 66,4 persen pada Maret 2026, dan kembali merosot menjadi 51 persen pada Juli 2026.

“Jadi, konsisten turunnya,” ucapnya.

Survei tersebut dilaksanakan pada 5–19 Juli 2026 dengan melibatkan 749 responden. Sebanyak 605 responden diwawancarai melalui telepon menggunakan metode double sampling, sedangkan 144 responden lainnya diwawancarai secara tatap muka menggunakan metode stratified multistage random sampling. Tingkat kepercayaan survei mencapai 95 persen dengan margin of error sekitar 3,7 persen.

Persepsi Ekonomi Memburuk

SMRC mencatat persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional ikut mengalami penurunan tajam.

Hanya 15,7 persen responden yang menilai kondisi ekonomi saat ini baik atau sangat baik. Sebaliknya, 49,4 persen menilai kondisi ekonomi buruk atau sangat buruk, sementara 33,9 persen menganggap kondisinya sedang.

Selain itu, 45,8 persen responden menyatakan kondisi ekonomi saat ini lebih buruk dibandingkan tahun lalu. Sebaliknya, hanya 19,7 persen yang menilai kondisi ekonomi membaik.

Menurut Deni, hasil tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara pertumbuhan ekonomi makro dengan kondisi yang dirasakan masyarakat.

“Persepsi publik ini mengonfirmasi sejumlah ekonom bahwa pertumbuhan ekonomi tidak mencerminkan keadaan ekonomi masyarakat yang riil,” katanya.

Politik dan Penegakan Hukum Ikut Disorot

Selain ekonomi, persepsi masyarakat terhadap kondisi politik nasional juga mengalami penurunan.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *