News

Jangan Lagi Ada Kusta di Masyarakat Kita



Oleh: dr. Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D.

Alumnus PhD dari IPCTRM Taipei Medical University Taiwan, WWPO Peace Ambassador untuk Indonesia, dokter riset, dosen, peneliti, penulis puluhan buku, kolumnis, reviewer jurnal internasional terindeks Scopus Q1, trainer berlisensi BNSP, komunikator sains, founder ILI, pelopor NiBTM

PORTALUTAMA.NET – Kusta bukan sekadar penyakit pada kulit dan saraf. Ia adalah cermin yang memantulkan mutu pengetahuan, kedalaman empati, serta kematangan peradaban suatu masyarakat. Pada tubuh manusia, Mycobacterium leprae dapat menimbulkan infeksi kronis yang berjalan perlahan. Namun di ruang sosial, ketakutan, mitos, dan prasangka sering bergerak jauh lebih cepat daripada bakterinya. Karena itu, perjuangan melawan kusta tidak cukup dilakukan dengan obat. Kita juga harus menyembuhkan cara berpikir, bahasa, kebijakan, dan relasi antarmanusia yang selama berabad-abad membiarkan penderita diposisikan sebagai “yang lain”.

Kusta bukan kutukan, bukan akibat dosa, bukan guna-guna, dan bukan warisan “darah kotor”. Kusta merupakan penyakit infeksi kronis yang terutama menyerang kulit dan saraf tepi. Bakterinya tumbuh sangat lambat sehingga gejala dapat muncul lama setelah pajanan. Kelambatan biologis ini sering bertemu dengan kelambatan sosial: bercak mati rasa dianggap panu biasa, kelemahan tangan diabaikan, akses layanan terhambat, dan pasien menunda pemeriksaan karena takut dipermalukan. Di titik itulah penyakit memperoleh ruang untuk merusak saraf, sementara stigma memperoleh ruang untuk merusak kehidupan.

Setiap angka kasus sesungguhnya menyimpan wajah, keluarga, pekerjaan, pendidikan, dan masa depan. Satu diagnosis yang terlambat dapat berarti seorang anak kehilangan kepercayaan diri di sekolah, seorang pekerja kehilangan produktivitas, seorang ibu dijauhi tetangga, atau seseorang mengalami kerusakan fungsi tangan, kaki, dan mata yang sebenarnya dapat dicegah. Kasus pada anak bahkan menjadi semacam sinyal biologis dan sosial bahwa penularan masih berlangsung, deteksi belum cukup dini, serta lingkungan belum sepenuhnya mampu melindungi kelompok rentan.

Kita perlu mengubah paradigma dari “takut tertular” menjadi “cerdas mengenali risiko”. Kusta tidak menular semudah influenza, campak, atau infeksi pernapasan akut. Risiko terutama meningkat pada kontak dekat dan berkepanjangan dengan penderita yang belum mendapatkan pengobatan. Bersalaman, berpelukan, duduk bersama, makan dalam satu ruangan, belajar di kelas yang sama, bekerja di kantor yang sama, atau beribadah bersama bukan alasan untuk mengucilkan seseorang. Ketika terapi efektif telah dimulai, kemampuan menularkan menurun secara bermakna. Karena itu, memisahkan alat makan, membakar pakaian, mengusir pasien, atau melarang anak bersekolah bukanlah tindakan kesehatan; semua itu adalah kekerasan sosial yang lahir dari ketidaktahuan.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *