News

Prabowo Merasa Diserang Soal MBG, AS Laksana: Rakyat Bayar Pajak Bukan untuk Membiayai Sandiwara Amatir



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Sastrawan sekaligus kritikus sosial, AS Laksana, melayangkan kritik terbuka terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mengaku “diserang” karena menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Melalui unggahan di akun media sosialnya, AS Laksana menilai sikap merasa diserang tersebut tidak relevan dan mengaburkan esensi pertanggungjawaban publik.

Dalam narasi yang diunggah bersama tangkapan layar ucapan Presiden, AS Laksana menekankan bahwa kritik yang dilayangkan publik bukanlah serangan pribadi, melainkan bentuk pengawasan terhadap penggunaan anggaran negara yang bersumber dari pajak rakyat.

Program Negara, Bukan Dana Pribadi

AS Laksana mengingatkan bahwa program MBG yang menelan anggaran ratusan triliun rupiah dibiayai sepenuhnya oleh uang masyarakat melalui Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan pajak penghasilan yang dibayarkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Anda bukan Sinterklas, juga bukan tokoh kartun dengan kantung ajaib. Anda tidak mengeluarkan serupiah pun uang pribadi untuk program MBG. Kami membayar PPN dan menyerahkan sebagian penghasilan agar negara ini dikelola dengan pikiran yang beres, bukan dengan perasaan sentimentil,” tulis AS Laksana dalam unggahannya.

Ia menilai narasi “diserang” sebagai upaya menggeser isu kebijakan publik menjadi urusan personal untuk meraih simpati masyarakat.

Rengekan anda “Saya diserang orang”, lanjut AS Laksana, tidak relevan sama sekali. Anda justru harus mempertanggungjawabkan penggunaan uang kami. Anda memilih orang-orang kepercayaan untuk menjalankan program anda, dan program itu berantakan karena orang-orang kepercayaan anda korup.

“Jadi, berhentilah berakting seolah-olah anda martir yang dikorbankan demi isi perut saudara-saudara kami. Rakyat membayar pajak bukan untuk membiayai sandiwara amatir dengan cerita penguras air mata,” kritiknya, dikutip fajar.co.id, Selasa (21/7/2026).

Tuntutan Transparansi Anggaran dan Tata Kelola

Selain persoalan narasi, unggahan tersebut juga menyoroti dugaan karut-marut tata kelola serta indikasi korupsi pada pelaksanaan program MBG di lapangan. AS Laksana menuntut pemerintah untuk membuka transparansi rincian harga pengadaan barang (nota belanja) serta menertibkan vendor-vendor yang terindikasi bermasalah.

Ia juga mengkritik logika pemerintah yang mengungkit kebocoran anggaran di sektor lain, seperti under-invoicing di pelabuhan, sebagai dalih atas kekacauan tata kelola MBG.

“Apakah kami harus diam melihat gejala korupsi dan karut-marut tata kelola di program kesayangan Anda, hanya karena di tempat lain ada banyak maling juga?” tegasnya.

Dengan logika semacam itu, menurut AS Laksana presiden bermain drama: “Saya diserang…”. Dia pun menyarankan agar Prabowo duduk tenang, teliti lagi angka-angkanya, dan singkirkan mentalitas korban.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *