Martabat di Era Flexing: Ketika tepuk tangan digital memengaruhi otak, harga diri, dan respons tubuh

Oleh: dr. Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D.
Alumnus PhD dari IPCTRM Taipei Medical University Taiwan, WWPO Peace Ambassador untuk Indonesia, dokter riset, dosen, peneliti, penulis puluhan buku, kolumnis, reviewer jurnal internasional terindeks Scopus Q1, trainer berlisensi BNSP, komunikator sains, founder ILI, pelopor NiBTM
PORTALUTAMA.NET – Manusia selalu membutuhkan pengakuan. Dahulu, pengakuan datang dari keluarga, sahabat, tetangga, dan komunitas tempat seseorang hidup serta memberi manfaat. Kini, sebagian pengakuan itu berpindah ke layar—diukur melalui tanda suka, komentar, jumlah pengikut, tanda verifikasi, dan seberapa lama orang lain berhenti untuk memandang kehidupan yang kita tampilkan.
Zaman digital memberi setiap manusia sebuah panggung, tetapi tidak selalu memberi kebijaksanaan untuk berdiri di atasnya. Kita dapat membagikan keberhasilan, menginspirasi, dan membangun reputasi. Namun, kita juga dapat menyerahkan harga diri kepada sistem yang tidak mengenal kedalaman jiwa, proses panjang, kegagalan, pengorbanan, ataupun integritas.
Pertanyaan terbesar masa depan bukanlah apakah manusia akan semakin sering menampilkan kehidupannya. Pertanyaannya ialah apakah teknologi akan membantu kita membangun martabat atau justru membuat kita terus merasa kurang. Jalan keluarnya bukan berhenti berbagi, melainkan membangun budaya digital yang merayakan pencapaian tanpa merendahkan, mengakui keberhasilan tanpa memalsukan, dan menghubungkan manusia tanpa menjadikan perhatian sebagai ukuran tunggal nilai kehidupan.
Ponsel sebagai Panggung
Satu unggahan dapat memuat lebih banyak pesan daripada yang tampak. Foto mobil baru dapat berkata, “Saya berhasil.” Potret ruang VIP dapat menyiratkan, “Saya memiliki akses.” Gelar, jabatan, tubuh ideal, liburan, rumah, atau kedekatan dengan tokoh terkenal dapat berubah menjadi bahasa status. Ponsel pun tidak lagi sekadar alat komunikasi. Ia menjadi panggung kecil di telapak tangan.
Perilaku menonjolkan kekayaan, pencapaian, pengaruh, atau gaya hidup agar tampak lebih unggul lazim disebut flexing. Namun, tidak setiap unggahan keberhasilan merupakan flexing. Kelulusan, publikasi ilmiah, perkembangan usaha, dan kebahagiaan keluarga layak dirayakan. Masalah muncul ketika pengakuan digital berubah dari pelengkap menjadi kebutuhan utama; ketika rasa berharga naik dan turun mengikuti respons orang lain.
Flexing perlu dibedakan dari dokumentasi pencapaian dan personal branding. Dokumentasi menampilkan proses, kontribusi, atau hasil. Personal branding memperlihatkan kompetensi yang relevan dan dapat diverifikasi. Flexing lebih menekankan kesan status daripada substansi. Niat, konteks, proporsi, kejujuran, dan dampaknya dapat menjadi pembeda.
Source link
