News

Massa Aksi Pendukung MBG di Monas Mengaku Dapat Uang dan Wajan Baru, Diaspora Ini Sampaikan Pesan Menyentuh



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Ratusan warga menggelar aksi demonstrasi untuk memberikan dukungan terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Aksi massa tersebut berlangsung tertib di kawasan Monas, Jakarta Pusat, pada Senin (22/6/2026).

Menariknya, sejumlah massa aksi yang didominasi oleh ibu-ibu atau ’emak-emak’ itu mengaku sangat antusias mengikuti kegiatan ini.

Salah seorang warga asal Pisangan Timur, Jakarta Timur, bernama Desy, mengungkapkan kegembiraannya bisa hadir dalam aksi dukungan tersebut.

Menurut Desy, dukungannya bukan tanpa alasan, sebab anaknya merupakan salah satu bagian dari target penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut.

Namun, selain bentuk dukungan moral, Desy secara blak-blakan menyebutkan bahwa dirinya beserta warga lain menerima sejumlah fasilitas dan kompensasi karena telah ikut serta dalam aksi.

“Dapat wajan baru, roti, susu, buah-buahan, hingga uang Rp100 ribu,” ujar Desy saat memberikan pengakuan di lokasi.

Aksi yang berjalan di bawah pengawalan ini menjadi sorotan netizen setelah video Desy viral di berbagai platform media sosial.

Salah satu yang membahasnya adalah Dimas Budi Prasetyo, seorang penulis dan konten kreator yang memiliki banyak pengikut di Facebook.

“Sengaja saya sensor wajah ibu ini, karena saya bersimpati dengan orang-orang seperti dia. Orang lain boleh mencela ibu ini karena betapa ‘murah’ dia bisa diarahkan untuk datang di acara dengan bayaran seratus ribu dan sebuah wajan,” kata diaspora Indonesia yang bermukim di Belanda itu, Selasa (23/6/2026).

Akan tetapi, Dimas mencoba melihat dari perspektif lain. Di kondisi ekonomi sekarang, dengan keadaan yang serba susah, uang 100 ribu dan sebuah wajan bagi sebagian orang itu sangat berharga. Dalam pikiran mereka, persetan politik, persetan mereka jadi “boneka” dan dimanfaatkan.

“Mereka hanya ingin uang untuk bertahan hidup, agar dapur mereka tetap mengepul keesokan harinya. Pikiran mereka terlalu pendek untuk menjangkau bahwa mereka, kita semua itu dimiskinkan oleh sistem,” urai alumni UGM ini.

Sistem yang akan membuat orang-orang inkompeten dan malas, akan terus berada di atas sampai anak cucu keturunan. Sistem yang terus dipelihara agar masyarakat tetap miskin dan bodoh, supaya akan terus terjadi pola seperti ini.

Setiap akan pemilihan diberi uang dan bansos, setiap butuh menggiring opini publik diberi sedikit uang agar ikut menyuarakan sesuatu yang bahkan mereka sendiri tidak tahu.

“Sedih? Iya, bagi yang masih berakal pasti sedih melihat keadaan seperti ini. Kita memang tidak mampu berbuat banyak, tetapi tetap berusaha menyuarakan hal seperti ini, saya yakin di kemudian hari kebaikan akan datang,” sambung Dimas.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *