News

Hendri Satrio Soroti Lagu “Naik, Naik, BBM Naik” di Demo Mahasiswa, Minta Pemerintah Dengarkan Keluhan Rakyat



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Pengamat politik Hendri Satrio atau yang akrab disapa Hensa meminta pemerintah lebih peka terhadap berbagai bentuk aspirasi yang muncul dari masyarakat. Menurutnya, suara rakyat tidak selalu disampaikan melalui pernyataan resmi, tetapi juga bisa muncul melalui simbol maupun ekspresi di ruang publik.

Salah satu yang menjadi sorotan Hensa adalah munculnya kembali lagu plesetan “Naik-naik ke Puncak Gunung” yang liriknya diubah menjadi kritik sosial dalam sejumlah aksi demonstrasi mahasiswa belakangan ini. Lagu tersebut berisi sindiran mengenai kenaikan harga BBM hingga dampaknya terhadap kebutuhan masyarakat.

Hensa menilai kemunculan kembali lagu tersebut harus menjadi perhatian pemerintah. Baginya, fenomena itu merupakan sinyal bahwa sebagian masyarakat mulai merasakan tekanan ekonomi yang semakin besar.

“Ada syair lagu yang dipopulerkan oleh seorang pemimpin agama ternama yang sayup-sayup mulai kembali terdengar, terakhir di demo Mahasiswa belakangan ini, menurut saya pemerintah harus menangkap ini sebagai sinyal bahwa masyarakat mulai merasa ekonomi saat ini semakin menekan mereka,” ujar Hensa kepada wartawan.

Lagu dengan lirik yang diplesetkan tersebut sebelumnya dikenal luas setelah dipopulerkan oleh Habib Rizieq Shihab pada 2017. Saat itu, lagu tersebut digunakan sebagai bentuk kritik terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak dan dampaknya bagi kehidupan masyarakat.

Lirik lagu itu menggambarkan keresahan masyarakat terhadap berbagai kenaikan harga, mulai dari BBM, listrik, hingga kebutuhan pokok.

“Naik, naik, BBM naik. Tinggi, tinggi sekali. Naik, naik, pajak pun naik. Tinggi, tinggi sekali. Naik, naik, listrik pun naik. Tinggi, tinggi sekali. Naik, naik, cabai pun naik. Tinggi, tinggi sekali. Kiri-kanan kulihat saja banyak rakyat sengsara. Kiri-kanan kulihat saja banyak rakyat sengsara,” begitu bunyi lirik dari lagu plesetan tersebut.

Founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu menegaskan pemerintah tidak seharusnya menganggap remeh pesan yang terkandung dalam lagu tersebut. Ia melihat ada keresahan nyata yang ingin disampaikan masyarakat melalui lirik tersebut.

“Penguasa, pemerintah, gak boleh menganggap remeh isi pesan yang ada di syair itu, karena mereka mengucapkan tentang kenyataan hari ini, tentang BBM, harga BBM yang naik, tentang tarif listrik yang naik, tentang harga cabai yang naik, tentang ada rakyat yang sengsara. Jadi, jangan diremehkan syairnya, karena kuat sekali pesannya,” kata Hensa.

Terkait kenaikan harga BBM, Hensa memahami bahwa yang mengalami kenaikan adalah Pertamax yang termasuk BBM non subsidi. Namun, ia menilai dampaknya tetap perlu diperhatikan karena pengguna BBM non subsidi juga berasal dari kelompok masyarakat kelas menengah.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *