Disandera Sejak April, 4 WNI di Somalia Menunggu Uluran Tangan Negara

PORTALUTAMA.NET – Dua bulan berlalu sejak kapal tanker minyak MT Honour 25 dibajak kelompok perompak bersenjata di perairan Somalia.
Namun hingga kini, empat warga negara Indonesia (WNI) yang berada di atas kapal tersebut masih belum berhasil dibebaskan.
Situasi para awak kapal disebut semakin memprihatinkan. Krisis makanan dan air bersih, tekanan psikologis berkepanjangan, hingga berbagai penyakit yang mulai menyerang kru, menambah berat penderitaan mereka selama berada dalam penyanderaan.
Di tengah ketidakjelasan nasib para sandera, keluarga korban mulai mempertanyakan langkah nyata pemerintah maupun perusahaan pemilik kapal yang dinilai belum menunjukkan hasil konkret dalam upaya pembebasan para awak kapal.
Keluarga Keluhkan Minimnya Upaya Pembebasan
Salah satu keluarga korban yang terus menanti kabar baik adalah Syamsuddin Dg Ngawing (67), warga Dusun Moncong Loe, Desa Paccellekang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Putranya, Azhari Samadikun, merupakan kapten MT Honour 25 dan termasuk satu dari empat WNI yang masih disandera sejak 21 April 2026.
Bagi Syamsuddin, dua bulan terakhir menjadi masa yang penuh kecemasan. Terlebih, komunikasi dengan putranya terputus selama tiga pekan terakhir sehingga ia tidak lagi mengetahui kondisi terkini sang anak.
“Itu kondisi sekarang, sama sekali pihak perusahaan tidak ada yang peduli terhadap orang-orang yang ada di atas kapal,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di kediamannya, Minggu (21/6/2026) kemarin.
“Dan pemerintah Indonesia juga tidak ada sama sekali negosiasi dengan perompak. Begitu pun perusahaan tidak ada negosiasi sama sekali sehingga anak saya terkatung-katung keadaannya,” tambahnya.
Kata dia, selama ini keluarga hanya menerima informasi bahwa berbagai upaya sedang dilakukan.
Namun hingga kini belum ada perkembangan yang mampu memberikan harapan nyata bagi pembebasan para sandera.
“Menurut informasi yang kami terima tidak ada sama sekali negosiasi dari perusahaan maupun pemerintah,” ucapnya.
“Yang datang hanya berita-berita yang menyampaikan supaya kami tenang, sudah ada usaha, sudah ada begini, tetapi sampai sekarang tidak ada hasilnya,” sambung dia.
Kondisi Sandera Semakin Memburuk
Syamsuddin mengungkapkan tekanan psikologis yang dialami putranya terus meningkat akibat ketidakpastian yang berkepanjangan.
Menurut informasi yang diterimanya, para awak kapal harus bertahan dalam situasi yang semakin sulit dengan kondisi kesehatan yang terus menurun.
“Anak saya mengalami stres karena menunggu negosiasi dari perusahaan ataupun pemerintah. Mulai dari awal sampai sekarang sama sekali tidak ada yang masuk sehingga dia menjadi tertekan batin di atas kapal dan stres. Banyak yang sakit-sakit, makanan pun kurang,” jelasnya.
Source link
