Ferdinand Hutahaean soal Seruan Reformasi Jilid II: Jangan Sampai Mahasiswa Ditunggangi Kepentingan Tertentu

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Munculnya seruan Reformasi Jilid II di berbagai platform media sosial pasca kebijakan kenaikan sejumlah harga bahan bakar minyak (BBM) mendapat perhatian dari Politikus PDI Perjuangan (PDIP), Ferdinand Hutahaean.
Dikatakan Ferdinand, sebelum berbicara mengenai Reformasi Jilid II, publik perlu terlebih dahulu mengevaluasi hasil dari reformasi yang terjadi pada 1998.
Ia mempertanyakan urgensi lahirnya gerakan reformasi baru apabila berbagai persoalan mendasar bangsa masih belum terselesaikan sejak reformasi pertama.
Urgensi Reformasi Jilid II
Ferdinand mengaku belakangan melihat banyak ajakan demonstrasi yang mengusung tema Reformasi Jilid II beredar luas di media sosial.
Namun, ia mempertanyakan tujuan utama dari gerakan tersebut dan apa yang sebenarnya ingin diubah.
“Pasca kenaikan dua jenis harga BBM, saya menemukan di banyak media sosial flayer-flayer bertebaran ajakan untuk demo melakukan reformasi jilid kedua,” ujar Ferdinand dikutip fajar.co.id, Minggu 14 Juni 2026.
“Pertanyaannya, kenapa harus melakukan reformasi jilid kedua? Sementara reformasi jilid pertama saja sudah gagal membuat Indonesia menjadi lebih baik,” lanjutnya.
Menurut Ferdinand, reformasi yang berlangsung pada 1998 justru belum mampu menghadirkan perubahan yang sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa.
“Reformasi jilid pertama justru telah membuat Indonesia ini jauh dari jati diri Indonesia yang sesungguhnya ketika didirikan oleh para founding fathers kita,” tukasnya.
Ada Kelompok yang Diduga Menunggu Momentum
Ferdinand menduga kemunculan isu Reformasi Jilid II tidak terjadi begitu saja.Ia curiga ada pihak-pihak tertentu yang selama ini menunggu momentum yang tepat untuk menggerakkan aksi massa dan membangun tekanan politik terhadap pemerintahan yang sedang berkuasa.
“Jadi apa yang mau direformasi jilid kedua? Nah ini yang saya melihat bahwa analisa saya mengatakan ada kelompok yang selama ini telah sabar, sabar, sabar menunggu trigger yang bisa mereka pergunakan untuk segera menggerakkan massa, menggerakkan kekuatan mahasiswa untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah,” jelasnya.
Dalam pandangannya, kelompok yang berada di balik dorongan Reformasi Jilid II merupakan pihak-pihak yang sebelumnya menikmati berbagai keuntungan politik dan ekonomi.
Ferdinand menyebut kelompok tersebut merasa terusik dengan perubahan yang terjadi pada pemerintahan saat ini.
“Siapa mereka ini? Mereka justru adalah selama ini kelompok-kelompok penguasa yang menjadi begal APBN, begal sumber daya alam kita yang bersama-sama dengan para kaum oligarki,” imbuhnya.
Source link
