News

Rupiah Tembus Rp18.020 per Dolar AS, Ekonom Muda UNS: Publik Wajar Panik



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus level Rp18.020 menjadi perhatian sejumlah kalangan.

Mahasiswa Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Sebelas Maret (UNS), Briyan Efflin Syahputra, menyebut bahwa kondisi tersebut berpotensi memicu keresahan di tengah masyarakat karena dampaknya akan dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Dikatakan Briyan, pelemahan rupiah kali ini telah melewati batas yang sebelumnya dianggap sebagai ambang kewajaran.

Rupiah Sudah Melebihi Ambang Batas

Briyan mengacu pada pernyataan Ketua Badan Anggaran DPR RI, Said Abdullah, yang sebelumnya menyinggung batas nilai tukar rupiah.

“Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, tembus ke angka Rp18.020. Kondisi ini tentu akan menimbulkan kepanikan di kalangan publik,” ujar Briyan kepada fajar.co.id, Minggu 7 Juni 2026.

“Bahkan jika merujuk pada pernyataan yang telah disampaikan kemarin oleh Ketua Badan Anggaran DPR RI, Said Abdullah, penurunan nilai rupiah kali ini telah melebihi ambang batas. Sudah di atas Rp17.600,” tambahnya.

Lanjut Briyan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah telah bergerak di bawah fundamental ekonominya.

“Artinya nilai rupiah telah jatuh, di bawah fundamentalnya. Penurunan nilai rupiah ini tentu akan membuat publik panik dan gelisah,” ucapnya.

Harga Kebutuhan Pokok Berpotensi Naik

Briyan mengatakan bahwa dampak paling cepat yang akan dirasakan masyarakat adalah kenaikan harga barang kebutuhan pokok.

Pasalnya, masih banyak produsen dalam negeri yang bergantung pada bahan baku impor.

“Mengingat, dengan melemahnya daya tukar nilai rupiah terhadap dolar AS ini, akan berdampak langsung pada masyarakat. Sebagai contoh ialah barang-barang yang tergolong ke dalam kebutuhan pokok,” tukasnya.

“Dapat dipastikan harga kebutuhan pokok pasti akan meningkat. Mengingat masih banyaknya produsen yang menghasilkan kebutuhan pokok di Indonesia yang bergantung pada bahan baku impor,” sambung dia.

Selain kebutuhan pokok, Briyan mengingatkan bahwa sektor kesehatan juga akan merasakan dampak dari pelemahan rupiah.

Menurutnya, masyarakat yang menggunakan obat-obatan impor berpotensi menghadapi kenaikan biaya.

“Dampak lainnya akan terasa juga pada bidang kesehatan. Salah satu kebutuhan primer yang harus dipenuhi. Dampaknya akan sangat terasa pada masyarakat yang kerap menggunakan jenis obat-obatan impor,” jelasnya.

Beban Utang Negara Berpotensi Membengkak

Briyan juga menaruh perhatiannya dampak pelemahan rupiah terhadap kewajiban pembayaran utang pemerintah.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *