News

Hari Tanpa Tembakau 2026: Ahli Epidemiologi Bongkar Bahaya Vape Beraroma “Gen Z”



PORTALUTAMA.NET, TANGERANG SELATAN — Setiap 31 Mei dunia memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Tapi menurut Dr. Minsarnawati, SKM, M.Kes, Dosen Epidemiologi Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah, momentum ini tidak boleh jadi seremoni tahunan dan unggahan poster saja.

“Tantangan pengendalian tembakau sudah masuk babak baru. Rokok tidak lagi hanya batang tembakau yang dibakar. Ia kini tampil lebih modern, lebih beraroma, lebih digital, dan lebih mudah menyelinap ke kehidupan anak muda,” kata Dr. Minsarnawati, kepada fajar.co.id, Senin (1/6/2026).

Tema 2026 “Unmasking the Appeal — Countering Nicotine and Tobacco Addiction” mengajak dunia membongkar daya tarik palsu nikotin. Pesannya jelas: masalahnya bukan cuma kebiasaan pribadi, tapi cara produk dikemas dan dinormalisasi hingga terlihat keren, aman, bahkan seperti gaya hidup sehat.

30,8% WNI Usia 15+ Konsumsi Tembakau, Anak-Remaja Ikut Terjerat

Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 yang dikutip WHO Indonesia menunjukkan 30,8% penduduk usia 15 tahun ke atas masih menggunakan tembakau. Kemenkes mencatat perokok aktif Indonesia sekitar 70 juta orang, sebagian anak dan remaja usia 10–18 tahun.

“Temabakau bukan masalah pinggiran. Ini masalah kesehatan masyarakat yang menyentuh keluarga, sekolah, tempat kerja, pembiayaan kesehatan, dan masa depan generasi muda,” ujarnya.

Secara global WHO laporkan jumlah pengguna tembakau memang turun 2 dekade terakhir. Tapi tembakau masih menjerat 1 dari 5 orang dewasa dunia. Indonesia harus kerja lebih keras agar tidak tertinggal melindungi generasi muda.

Bongkar Ilusi Vape: Bukan “Uap Air” Aman

Wajah baru nikotin paling gencar adalah rokok elektronik atau vape. Cairan diuapkan lalu dihirup. Tapi CDC menegaskan aerosol vape bukan “water vapor” aman.

Isi aerosol vape menurut Dr. Minsarnawati:

  1. Nikotin: Adiktif, ganggu perkembangan otak remaja, perkuat ketergantungan, sulit berhenti.
  2. Partikel halus: Masuk jauh ke paru-paru.
  3. Senyawa karsinogen & logam berat: Termasuk timbal, timah, nikel.
  4. Perisa berbahaya: Diacetyl dikaitkan penyakit paru serius. Rasa buah, mint, permen, dessert bikin vape terasa akrab, tapi efek adiksinya tetap serius.

“Bungkusnya boleh Gen Z, tapi risikonya tetap old school: kecanduan,” tegasnya.

Bahan pelarut propylene glycol dan vegetable glycerin saat dipanaskan bisa jadi senyawa iritan. Paparannya berkaitan dengan iritasi tenggorokan, batuk, sesak, peradangan saluran napas, gangguan fungsi paru. Kelompok rentan seperti anak, ibu hamil, lansia, penderita asma, jantung, paru, risikonya lebih tinggi.

Nikotin juga picu denyut jantung cepat, tekanan darah naik, stres oksidatif, gangguan pembuluh darah. “Vape tidak boleh dipromosikan sebagai jalan pintas aman. Ganti rokok bakar dengan vape tetap ganti satu ketergantungan dengan ketergantungan lain,” katanya.

Paparan Orang Sekitar dan Desakan Regulasi Tegas

Masalah lain: aerosol yang diembuskan pengguna. Walau beda dengan asap rokok bakar, aerosol vape tetap mengandung nikotin dan zat berbahaya. Anak, pasangan, teman kerja, penumpang kendaraan di ruang tertutup ikut menghirup.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *