Ketat! 140 Peserta Rebut 103 Kursi Imam Kelurahan Makassar, Appi: Tak Bisa Mengaji Jangan Daftar

PORTALUTAMA.NET, MAKASSAR — Pemerintah Kota Makassar menggelar seleksi Imam Kelurahan 2026-2029. Sebanyak 140 peserta bersaing memperebutkan 103 formasi yang tersedia.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menegaskan, proses seleksi berlangsung ketat, objektif, dan berintegritas.
Hal itu disampaikan saat pembukaan Seleksi Calon Imam Kelurahan yang digelar Bagian Kesejahteraan Rakyat di Kantor Wali Kota Makassar, Rabu, 6 Mei 2026.
Syarat Mutlak: Pintar Mengaji dan Toleran
Pria yang akrab disapa Appi itu menyebut standar utama seorang imam tidak bisa ditawar. Kemampuan membaca Al-Qur’an jadi syarat mutlak.
“Kalau tidak pintar mengaji, ya tidak usah. Masa di satu kelurahan banyak yang bisa mengaji, tapi yang tidak bisa justru terpilih. Ini tidak boleh terjadi,” tegas Appi.
Selain kompetensi agama, Appi juga menekankan sikap toleransi. Menurutnya, imam bukan hanya pemimpin salat, tapi figur sosial yang merangkul masyarakat heterogen Makassar.
“Kalau tidak toleran, juga jangan. Kita hidup di tengah masyarakat majemuk. Imam harus hadir sebagai penyejuk, bukan sumber persoalan,” lanjutnya.
Imam Harus Jadi Pusat Solusi, Bukan Sekadar Pimpin Salat
Appi menegaskan peran imam sangat strategis dan tidak terbatas memimpin salat lima waktu. Ia ingin masjid jadi pusat musyawarah sosial dan pembinaan generasi muda Qur’ani.
“Imam itu harus menjadi tempat menyelesaikan masalah. Ketika persoalan masyarakat dibawa ke masjid, di situlah seharusnya masalah itu selesai. Ini fungsi sentral imam,” ujarnya.
Lebih jauh, Appi menekankan pentingnya kemampuan manajerial. Imam harus mampu mengelola organisasi masjid secara efektif bersama pengurus.
“Kalau kita bicara imam, kita bicara pemimpin. Kalau pemimpin, kita bicara manajemen. Ujungnya adalah outcome. Apa yang dihasilkan masjid itu harus jelas dan maksimal,” tegasnya.
Peringatan untuk Peserta dan Penguji: Jaga Sportivitas
Appi mengingatkan seluruh peserta menjaga sikap sportif. Ia menolak narasi negatif dari peserta yang tidak lolos terhadap yang terpilih.
“Namanya seleksi, pasti ada yang lulus dan tidak. Tapi jangan yang tidak lulus justru memberi sinyal negatif. Kita butuh kekompakan untuk membangun masjid yang berkualitas,” ujarnya.
Secara khusus, Appi memberi peringatan keras ke penguji agar menjaga integritas. Kualitas imam yang terpilih disebut sebagai cerminan kualitas penguji.
“Pastikan yang lulus adalah yang benar-benar kapabel, bukan karena persahabatan, hubungan darah, atau kedekatan,” tegasnya.
(Arya/Fajar)
Source link
