{"id":30801,"date":"2026-10-21T22:02:44","date_gmt":"2026-10-21T15:02:44","guid":{"rendered":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/2026\/10\/21\/70-ribu-balita-terkena-ispa-karhutla-puan-perlindungan-anak-dari-kabut-asap-harus-jadi-komitmen-nasional\/"},"modified":"2026-10-21T22:02:44","modified_gmt":"2026-10-21T15:02:44","slug":"70-ribu-balita-terkena-ispa-karhutla-puan-perlindungan-anak-dari-kabut-asap-harus-jadi-komitmen-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/2026\/10\/21\/70-ribu-balita-terkena-ispa-karhutla-puan-perlindungan-anak-dari-kabut-asap-harus-jadi-komitmen-nasional\/","title":{"rendered":"70 Ribu Balita Terkena ISPA Karhutla, Puan: Perlindungan Anak dari Kabut Asap Harus Jadi Komitmen Nasional"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div itemprop=\"articleBody\">\n<!-- ARTICAL CONTENT --><\/p>\n<p>Ketua DPR Puan Maharani menyampaikan keprihatinan atas laporan 70 ribu lebih balita yang terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Karena itu, penting untuk melindungi anak dari berbagai dampak karhutla, termasuk masalah kesehatan.<\/p>\n<p>\u201cBagi orang tua, anak yang mengalami gangguan kesehatan, termasuk masalah pernapasan menghadirkan kecemasan yang sangat dekat dan mendesak,\u201d kata Puan Maharani pada Rabu (21\/10).<\/p>\n<p>Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan per 17 Oktober 2026, jumlah penderita ISPA di 7 provinsi terdampak karhutla sudah mencapai 311.363 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 70.239 kasus merupakan anak di bawah 5 tahun atau balita.<\/p>\n<p>Terkait hal ini, Puan mengingatkan pemerintah untuk secepat mungkin menyelesaikan persoalan karhutla mengingat dampaknya yang cukup signifikan.<\/p>\n<p>\u201cPemerintah perlu menjawab keadaan tersebut dengan keputusan yang memberi kepastian bahwa keselamatan anak mendapat perhatian penuh dan dukungan tersedia selama dibutuhkan,\u201d tutur Puan.<\/p>\n<p>\u201cSetiap orang tua ingin melihat anaknya bisa menjalankan aktivitas dengan nyaman, tidur dengan tenang, dan kembali bermain. Harapan yang sederhana ini perlu menjadi perhatian utama kita dalam menentukan langkah penanganan,\u201d ujar Puan.<\/p>\n<p>Puan pun menyoroti banyaknya laporan masyarakat di daerah terdampak Karhutla mengenai kondisi anak-anak mereka yang mengalami gangguan kesehatan buntut kabut asap karhutla.<\/p>\n<p>\u201cSelain proses pemadaman api yang masif, Pemerintah perlu menempatkan perlindungan anak sebagai tujuan bersama dalam penanganan karhutla. Perlindungan anak dari kabut asap yang ditimbulkan Karhutla harus menjadi komitmen nasional,\u201d kata Puan.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, Puan memandang keputusan mengenai prioritas wilayah dan penggunaan sumber daya perlu mempertimbangkan beratnya beban yang dihadapi keluarga di wilayah terdampak Karhutla, dengan perhatian lebih besar kepada mereka yang memiliki kemampuan perlindungan terbatas.<\/p>\n<p>\u201cLaporan kasus pada balita yang cukup banyak perlu diikuti komitmen yang berlanjut sampai masa pemulihan. Pemerintah pusat dan daerah perlu menjaga dukungan agar kebutuhan anak yang masih berlangsung tetap memperoleh perhatian ketika keadaan udara mulai membaik dan aktivitas masyarakat berangsur kembali,\u201d kata Puan.<\/p>\n<p>Besarnya dampak terhadap anak akibat karhutla juga menimbulkan berbagai kekhawatiran sejumlah pihak. Termasuk Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) yang khawatir akan terjadi potensi lost generation karena karhutla yang berlangsung setiap tahun mengancam kesehatan dan tumbuh kembang anak.<\/p>\n<p>Menurut data yang dihimpun dalam laporan <em>Karhutla 2026: From Situation Analysis to Action Plan<\/em>, bencana karhutla pada 1997 mengakibatkan janin dan anak yang terpapar asap karhutla tumbuh 3,3 cm lebih pendek atau <em>stunting<\/em> di usia 17 tahun.<\/p>\n<p>Laporan tersebut dihimpun PFI, Yayasan Amanah Daya Nusantara, Center for Policy and Public Management SBM ITB, dan Rumah Zakat. Dalam laporan yang sama, bencana karhutla pada 1997 mengakibatkan 15.600 kematian bayi.<\/p>\n<p>Untuk itu, PFI mewanti-wanti pemerintah untuk mencegah kembalinya terjadi \u2018kehilangan generasi\u2019 akibat karhutla. Kehilangan generasi dalam konteks ini merujuk pada hilangnya potensi satu generasi anak-anak akibat penurunan kecerdasan, produktivitas, serta kualitas hidup akibat terus menerus terpapar asap karhutla sejak dini.<\/p>\n<p>Terlepas dari laporan itu, Puan mengingatkan, bencana yang berulang memang berpotensi menyebabkan dampak berkepanjangan terhadap anak.<\/p>\n<p>\u201cKita ketahui bersama, anak-anak adalah kelompok yang paling rentan dalam bencana. Mereka juga tidak berdaya tanpa bantuan orang dewasa sehingga membutuhkan pertolongan saat mengalami krisis kesehatan,\u201d kata Puan.<\/p>\n<p>\u201cMaka dalam menghadapi dampak karhutla, kita perlu memastikan penanganannya dilakukan dengan sungguh-sungguh serta memastikan anak tetap memiliki kesempatan tumbuh dan berkembang dengan baik,\u201d ujar Puan.<\/p>\n<p>Mantan Menko PMK ini juga mendorong pemerintah mendengar pengalaman keluarga terdampak Karhutla dalam menilai penanganan. Menurut Puan, orang tua dapat membantu menunjukkan hambatan yang mereka hadapi untuk melindungi anak, memperoleh pertolongan, dan mempertahankan penghidupan.<\/p>\n<p>\u201cPengalaman tersebut perlu digunakan untuk menentukan dukungan yang lebih sesuai dengan keadaan masyarakat,\u201d jelas perempuan pertama yang menjabat sebagai ketua DPR itu.<\/p>\n<p>Di sisi lain, Puan mendorong pemerintah untuk memberikan penjelasan yang jernih mengenai kondisi anak-anak terdampak karhutla dan langkah pemulihannya.<\/p>\n<p>\u201cInformasi harus membantu keluarga memahami keadaan serta pilihan pertolongan, dengan tetap menjaga harapan dan menghindari kesimpulan tentang masa depan anak yang belum didukung pemeriksaan,\u201d ujar Puan.<\/p>\n<p>Puan juga meminta pemerintah melakukan intervensi kesehatan untuk membantu anak-anak yang mengalami krisis kesehatan akibat Karhutla.<\/p>\n<p>\u201cPenyediaan peralatan medis yang memadai bagi masyarakat terdampak Karhutla adalah sebuah keniscayaan,\u201d kata cucu Bung Karno tersebut.<\/p>\n<p>Puan juga mendorong pemerintah untuk membebaskan biaya pengobatan bagi korban karhutla.<\/p>\n<p>\u201cJangan sampai para korban karhutla ini menanggung beban ganda. Pastikan layanan BPJS bagi masyarakat terdampak tidak ada hambatan,\u201d kata Puan.<\/p>\n<p>Puan mengatakan pimpinan DPR akan menghimpun hasil pengawasan komisi-komisi terkait untuk mengawal keputusan dan dukungan dalam mengatasi bencana karhutla.<\/p>\n<p>\u201cDan tentunya perlindungan anak yang tetap terjaga sepanjang penanganan Karhutla harus menjadi komitmen kita bersama. Kita mempunyai tanggung jawab untuk menjaga masa depan anak-anak,\u201d tambah Puan.<\/p>\n<p>Selain anak-anak, kelompok lanjut usia (lansia) juga cukup besar terdampak karhutla. Kemenkes mencatat 49.634 kasus ISPA pada kelompok tersebut. Sementara karhutla dilaporkan terjadi di 65 kabupaten\/kota di tujuh provinsi, yakni di Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.<\/p>\n<p>\u201cPemerintah juga perlu memberi pendampingan dan bantuan kepada para orang tua yang anaknya sakit akibat paparan kabut asap. Kemudian dukungan untuk tenaga kesehatan, serta petugas dan relawan yang terus membantu penanganan karhutla,\u201d kata Puan.<\/p>\n<p>                            <!-- [ICONOMICS] --><\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/www.theiconomics.com\/politics\/70-ribu-balita-terkena-ispa-karhutla-puan-perlindungan-anak-dari-kabut-asap-harus-jadi-komitmen-nasional\/\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketua DPR Puan Maharani menyampaikan keprihatinan atas laporan 70 ribu lebih balita yang terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dampak<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,13],"tags":[],"class_list":["post-30801","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-business","category-news"],"magazineBlocksPostFeaturedMedia":{"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false,"colormag-highlighted-post":false,"colormag-featured-post-medium":false,"colormag-featured-post-small":false,"colormag-featured-image":false,"colormag-default-news":false,"colormag-featured-image-large":false},"magazineBlocksPostAuthor":{"name":"Redaksi","avatar":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b7471c990eaf3bbb9eb8588768e7506fe3240b053ad738bae905f94f0ebd1eb0?s=96&d=mm&r=g"},"magazineBlocksPostCommentsNumber":"0","magazineBlocksPostExcerpt":"Ketua DPR Puan Maharani menyampaikan keprihatinan atas laporan 70 ribu lebih balita yang terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dampak","magazineBlocksPostCategories":["Business","News"],"magazine_blocks_featured_image_url":{"full":false,"medium":false,"thumbnail":false},"magazine_blocks_author":{"display_name":"Redaksi","author_link":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/author\/neno\/"},"magazine_blocks_comment":0,"magazine_blocks_author_image":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b7471c990eaf3bbb9eb8588768e7506fe3240b053ad738bae905f94f0ebd1eb0?s=96&d=mm&r=g","magazine_blocks_category":"<a href=\"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/category\/business\/\" rel=\"category tag\">Business<\/a> <a href=\"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/category\/news\/\" rel=\"category tag\">News<\/a>","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30801","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=30801"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30801\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=30801"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=30801"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=30801"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}