{"id":27358,"date":"2026-09-17T18:46:55","date_gmt":"2026-09-17T11:46:55","guid":{"rendered":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/2026\/09\/17\/fed-kerek-suku-bunga-bagaimana-arah-kebijakan-bank-indonesia\/"},"modified":"2026-09-17T18:46:55","modified_gmt":"2026-09-17T11:46:55","slug":"fed-kerek-suku-bunga-bagaimana-arah-kebijakan-bank-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/2026\/09\/17\/fed-kerek-suku-bunga-bagaimana-arah-kebijakan-bank-indonesia\/","title":{"rendered":"Fed Kerek Suku Bunga, Bagaimana Arah Kebijakan Bank Indonesia?"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div itemprop=\"articleBody\">\n<!-- ARTICAL CONTENT --><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keputusan The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4,00% menambah tantangan bagi Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenaikan tersebut merupakan yang pertama dilakukan The Fed sejak 2023. Kebijakan ini ditempuh ketika tekanan inflasi Amerika Serikat kembali meningkat, sementara aktivitas ekonomi dan pasar tenaga kerja masih menunjukkan ketahanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam laporan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesia Macro Glint<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> edisi 17 September 2026, Bank Danamon menilai perubahan arah kebijakan The Fed tersebut berpotensi memengaruhi bauran kebijakan moneter Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lead Economist Bank Danamon Irman Faiz mengatakan, BI kemungkinan akan lebih dahulu mengandalkan intervensi valuta asing (foreign exchange\/FX) dan instrumen non-suku bunga untuk meredam tekanan terhadap rupiah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSetelah The Fed menaikkan suku bunga dengan sikap<em> hawkish,<\/em> Bank Indonesia kemungkinan akan terus mengandalkan intervensi valuta asing (FX) dan instrumen non-suku bunga lainnya sebagai garis pertahanan pertama,\u201d kata Faiz, dikutip dari dalam laporan tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Faiz, ruang BI untuk mempertahankan kebijakan tersebut tetap dipengaruhi oleh perkembangan rupiah dan arus modal global. Terlebih, Bank Danamon memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia akan melebar menjadi 1,5% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2026 dan 1,6% pada 2027.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi tersebut membuat rupiah tetap sensitif terhadap perubahan arus modal global. Penguatan dolar AS yang tercermin dari kenaikan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">US Dollar Index<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (DXY) juga dapat meningkatkan kebutuhan Indonesia untuk mempertahankan selisih suku bunga yang cukup menarik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPenguatan kembali DXY akan meningkatkan kebutuhan untuk mempertahankan selisih suku bunga yang cukup menarik,\u201d ujar Faiz.<\/span><\/p>\n<p><b>BI Rate Berpotensi Naik<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Faiz mengatakan, apabila tekanan terhadap rupiah terus berlanjut, BI berpotensi mengambil langkah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">pre-emptive<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> melalui kenaikan suku bunga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan suku bunga secara pre-emptive menuju proyeksi BI Rate 6,25% pada akhir 2026 apabila tekanan terhadap rupiah terus berlanjut,\u201d kata dia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa meskipun BI masih memiliki instrumen non-suku bunga untuk merespons tekanan eksternal, suku bunga tetap menjadi salah satu instrumen yang dapat digunakan apabila stabilitas nilai tukar menghadapi tekanan yang lebih besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam proyeksi Bank Danamon, BI Rate diperkirakan berada di level 6,25% pada akhir 2026. Sementara itu, rupiah diproyeksikan berada di level Rp17.963 per dolar AS pada akhir tahun, dibandingkan Rp16.703 per dolar AS pada akhir 2025.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bank Danamon juga memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada akhir 2026 berada di sekitar US$147,5 miliar, dengan cakupan impor dan utang eksternal sekitar 5,6 bulan.<\/span><\/p>\n<p><b>The Fed Lebih Hawkish<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, keputusan The Fed menaikkan suku bunga disertai dengan perubahan proyeksi ekonomi yang menunjukkan bank sentral AS masih memberikan perhatian besar terhadap inflasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inflasi konsumen AS pada Agustus 2026 tercatat naik 0,4% secara bulanan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">month-to-month<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\/MoM), sehingga inflasi tahunan mencapai 3,4%. Inflasi inti meningkat 0,3% MoM, meskipun secara tahunan sedikit melandai menjadi 2,4%.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tekanan harga dari sisi hulu juga kembali meningkat. Producer Price Index (PPI) utama naik 0,4% MoM dan 5,4% YoY, didorong kenaikan harga barang sebesar 1,1%.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada saat yang sama, penjualan ritel AS meningkat 1,2% MoM, lebih tinggi dari perkiraan. Kelompok kontrol yang digunakan dalam perhitungan PDB bahkan meningkat 1,4%.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Data tersebut menunjukkan permintaan konsumen AS masih relatif kuat meskipun tekanan harga meningkat. Kondisi ini memberikan ruang bagi The Fed untuk lebih memusatkan perhatian pada stabilitas harga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Proyeksi ekonomi September The Fed juga memperlihatkan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat. Proyeksi pertumbuhan PDB AS 2026 dan 2027 masing-masing dinaikkan menjadi 2,3% dan 2,4%, dari sebelumnya 2,2% dan 2,3%.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Proyeksi tingkat pengangguran untuk kedua tahun tersebut juga diturunkan menjadi 4,1% dari sebelumnya 4,3%.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, proyeksi inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) utama dan inti 2026 masing-masing dinaikkan menjadi 3,7% dan 3,4%, dari sebelumnya 3,6% dan 3,3%.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perubahan tersebut turut tercermin dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">dot plot<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> The Fed yang menjadi lebih hawkish. Jalur median kini mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 bps lagi hingga akhir 2026.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Proyeksi Fed Funds Rate berada di level 4,1% pada akhir 2026, 4,1% pada akhir 2027, dan 3,9% pada akhir 2028. Ini menunjukkan suku bunga AS berpotensi bertahan pada level yang lebih tinggi dalam jangka waktu lebih panjang.<\/span><\/p>\n<p><b>BI Hadapi Dilema Stabilitas dan Pertumbuhan<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi Indonesia, kondisi tersebut menciptakan tantangan dalam menyeimbangkan stabilitas eksternal dengan kebutuhan untuk menjaga momentum pertumbuhan domestik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bank Danamon memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,15% pada 2026. Konsumsi swasta diproyeksikan tumbuh 5,13%, sedangkan pembentukan modal tetap bruto tumbuh 5,18%.<\/span><\/p>\n<table>\n<thead>\n<tr>\n<th>Indikator<\/th>\n<th align=\"right\">2023<\/th>\n<th align=\"right\">2024<\/th>\n<th align=\"right\">2025<\/th>\n<th align=\"right\">2026E<\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td>PDB riil (% YoY)<\/td>\n<td align=\"right\">5,0<\/td>\n<td align=\"right\">5,03<\/td>\n<td align=\"right\">5,11<\/td>\n<td align=\"right\">5,15<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Permintaan domestik di luar persediaan (% YoY)<\/td>\n<td align=\"right\">4,6<\/td>\n<td align=\"right\">4,94<\/td>\n<td align=\"right\">4,99<\/td>\n<td align=\"right\">5,08<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Konsumsi riil: swasta (% YoY)<\/td>\n<td align=\"right\">4,9<\/td>\n<td align=\"right\">4,9<\/td>\n<td align=\"right\">4,98<\/td>\n<td align=\"right\">5,13<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Pembentukan Modal Tetap Bruto (% YoY)<\/td>\n<td align=\"right\">4,4<\/td>\n<td align=\"right\">4,61<\/td>\n<td align=\"right\">5,09<\/td>\n<td align=\"right\">5,18<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>PDB nominal (US$ miliar)<\/td>\n<td align=\"right\">1.371<\/td>\n<td align=\"right\">1.440<\/td>\n<td align=\"right\">1.445<\/td>\n<td align=\"right\">1.681<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>PDB per kapita (US$)<\/td>\n<td align=\"right\">4.920<\/td>\n<td align=\"right\">4.960<\/td>\n<td align=\"right\">5.083<\/td>\n<td align=\"right\">5.398<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Tingkat pengangguran terbuka (%)<\/td>\n<td align=\"right\">5,3<\/td>\n<td align=\"right\">4,9<\/td>\n<td align=\"right\">4,7<\/td>\n<td align=\"right\">4,5<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Ekspor (% YoY, basis BoP)<\/td>\n<td align=\"right\">-11,3<\/td>\n<td align=\"right\">6,51<\/td>\n<td align=\"right\">6,15<\/td>\n<td align=\"right\">4,56<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Impor (% YoY, basis BoP)<\/td>\n<td align=\"right\">-7,3<\/td>\n<td align=\"right\">7,95<\/td>\n<td align=\"right\">2,83<\/td>\n<td align=\"right\">16,29<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Neraca perdagangan (US$ miliar)<\/td>\n<td align=\"right\">46,4<\/td>\n<td align=\"right\">31,04<\/td>\n<td align=\"right\">41,05<\/td>\n<td align=\"right\">9,75<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Transaksi berjalan (% PDB)<\/td>\n<td align=\"right\">-0,1<\/td>\n<td align=\"right\">-0,3<\/td>\n<td align=\"right\">-0,1<\/td>\n<td align=\"right\">-1,5<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Utang pemerintah pusat (% PDB)<\/td>\n<td align=\"right\">38,9<\/td>\n<td align=\"right\">39,13<\/td>\n<td align=\"right\">40,50<\/td>\n<td align=\"right\">41,54<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Cadangan devisa \u2013 IRFCL (US$ miliar)<\/td>\n<td align=\"right\">146,4<\/td>\n<td align=\"right\">155,7<\/td>\n<td align=\"right\">156,5<\/td>\n<td align=\"right\">147,5<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Cadangan devisa \/ cakupan impor &amp; utang eksternal (bulan)<\/td>\n<td align=\"right\">6,5<\/td>\n<td align=\"right\">6,5<\/td>\n<td align=\"right\">6,3<\/td>\n<td align=\"right\">5,6<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Rupiah\/US$ (akhir tahun)<\/td>\n<td align=\"right\">15.399<\/td>\n<td align=\"right\">16.235<\/td>\n<td align=\"right\">16.703<\/td>\n<td align=\"right\">17.963<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Rupiah\/US$ (rata-rata)<\/td>\n<td align=\"right\">15.244<\/td>\n<td align=\"right\">15.920<\/td>\n<td align=\"right\">16.482<\/td>\n<td align=\"right\">17.635<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>USD\/CNH (akhir tahun)<\/td>\n<td align=\"right\">7,13<\/td>\n<td align=\"right\">7,34<\/td>\n<td align=\"right\">6,98<\/td>\n<td align=\"right\">6,65<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>USD\/CNH (rata-rata)<\/td>\n<td align=\"right\">7,09<\/td>\n<td align=\"right\">7,21<\/td>\n<td align=\"right\">7,19<\/td>\n<td align=\"right\">6,70<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Rupiah\/CNH (akhir tahun)<\/td>\n<td align=\"right\">2.161<\/td>\n<td align=\"right\">2.199<\/td>\n<td align=\"right\">2.391<\/td>\n<td align=\"right\">2.701<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Rupiah\/CNH (rata-rata)<\/td>\n<td align=\"right\">2.150<\/td>\n<td align=\"right\">2.199<\/td>\n<td align=\"right\">2.292<\/td>\n<td align=\"right\">2.632<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>BI Rate (% akhir tahun)<\/td>\n<td align=\"right\">6,0<\/td>\n<td align=\"right\">6,0<\/td>\n<td align=\"right\">4,75<\/td>\n<td align=\"right\">6,25<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Harga konsumen (% akhir tahun)<\/td>\n<td align=\"right\">2,61<\/td>\n<td align=\"right\">1,57<\/td>\n<td align=\"right\">2,92<\/td>\n<td align=\"right\">3,29<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Saldo fiskal (% PDB; tahun fiskal)<\/td>\n<td align=\"right\">-1,65<\/td>\n<td align=\"right\">-2,3<\/td>\n<td align=\"right\">-2,92<\/td>\n<td align=\"right\">-2,89<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Peringkat S&amp;P \u2013 FCY<\/td>\n<td align=\"right\">BBB<\/td>\n<td align=\"right\">BBB<\/td>\n<td align=\"right\">BBB<\/td>\n<td align=\"right\">BBB<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p><em>Sumber: Bank Danamon dalam <span style=\"font-weight: 400;\">Indonesia Macro Glint<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> edisi 17 September 2026<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, konsumsi domestik masih menghadapi tekanan. Pertumbuhan penjualan ritel hanya mencapai 0,5% YoY pada Agustus 2026, melambat dari 1,1% pada bulan sebelumnya. Pelemahan terutama terlihat pada kelompok konsumen <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mass market<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena itu, dukungan terhadap perekonomian domestik tetap diperlukan. Pemerintah memperpanjang program bantuan beras sebesar 10 kilogram per bulan bagi 33,2 juta rumah tangga yang berada pada empat desil terbawah kesejahteraan untuk periode Juli-Desember. Total dukungan program tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp35 triliun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Faiz, kombinasi kebijakan tersebut membuat bauran kebijakan Indonesia ke depan cenderung lebih defensif terhadap faktor eksternal, tetapi tetap diarahkan untuk menopang perekonomian domestik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKami memperkirakan bauran kebijakan Indonesia akan menjadi lebih defensif terhadap faktor eksternal, namun tetap mendukung perekonomian domestik,\u201d kata Faiz.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain kebijakan moneter, Bank Danamon memperkirakan kebijakan fiskal juga akan berperan dalam menjaga momentum ekonomi. Bank Danamon mempertahankan proyeksi defisit fiskal 2027 sebesar 2,75% dari PDB, lebih tinggi dari target pemerintah sebesar 2,40%, tetapi masih di bawah batas maksimum 3% sesuai ketentuan perundang-undangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kondisi ruang fiskal yang terbatas, fokus kebijakan diperkirakan bergeser dari ekspansi secara keseluruhan menuju peningkatan kualitas belanja dan penguatan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">economic multiplier<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penunjukan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan, menurut Bank Danamon, memperkuat kesinambungan arah kebijakan fiskal. Kementerian Keuangan juga diperkirakan mulai menormalisasi penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) seiring meningkatnya kebutuhan belanja pemerintah pada paruh kedua 2026.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penarikan SAL diperkirakan dilakukan secara bertahap dan terukur serta dikoordinasikan dengan BI untuk membatasi dampaknya terhadap likuiditas dan biaya pendanaan.<\/span><\/p>\n<p>                            <!-- [ICONOMICS] --><\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/www.theiconomics.com\/capital-market\/fed-kerek-suku-bunga-bagaimana-arah-kebijakan-bank-indonesia\/\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Keputusan The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4,00% menambah tantangan bagi<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,13],"tags":[],"class_list":["post-27358","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-business","category-news"],"magazineBlocksPostFeaturedMedia":{"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false,"colormag-highlighted-post":false,"colormag-featured-post-medium":false,"colormag-featured-post-small":false,"colormag-featured-image":false,"colormag-default-news":false,"colormag-featured-image-large":false},"magazineBlocksPostAuthor":{"name":"Redaksi","avatar":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b7471c990eaf3bbb9eb8588768e7506fe3240b053ad738bae905f94f0ebd1eb0?s=96&d=mm&r=g"},"magazineBlocksPostCommentsNumber":"0","magazineBlocksPostExcerpt":"Keputusan The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4,00% menambah tantangan bagi","magazineBlocksPostCategories":["Business","News"],"magazine_blocks_featured_image_url":{"full":false,"medium":false,"thumbnail":false},"magazine_blocks_author":{"display_name":"Redaksi","author_link":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/author\/neno\/"},"magazine_blocks_comment":0,"magazine_blocks_author_image":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b7471c990eaf3bbb9eb8588768e7506fe3240b053ad738bae905f94f0ebd1eb0?s=96&d=mm&r=g","magazine_blocks_category":"<a href=\"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/category\/business\/\" rel=\"category tag\">Business<\/a> <a href=\"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/category\/news\/\" rel=\"category tag\">News<\/a>","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27358","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27358"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27358\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27358"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27358"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27358"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}