{"id":25867,"date":"2026-09-03T18:51:39","date_gmt":"2026-09-03T11:51:39","guid":{"rendered":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/2026\/09\/03\/permasalahan-ekonomi-dunia-kian-kompleks-bi-tak-lagi-hanya-andalkan-kebijakan-moneter\/"},"modified":"2026-09-03T18:51:39","modified_gmt":"2026-09-03T11:51:39","slug":"permasalahan-ekonomi-dunia-kian-kompleks-bi-tak-lagi-hanya-andalkan-kebijakan-moneter","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/2026\/09\/03\/permasalahan-ekonomi-dunia-kian-kompleks-bi-tak-lagi-hanya-andalkan-kebijakan-moneter\/","title":{"rendered":"Permasalahan Ekonomi Dunia Kian Kompleks, BI Tak Lagi Hanya Andalkan Kebijakan Moneter"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div itemprop=\"articleBody\">\n<!-- ARTICAL CONTENT --><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan permasalahan ekonomi global semakin kompleks sehingga tidak bisa direspons hanya dengan satu instrumen kebijakan. Kondisi tersebut membuat BI tidak lagi hanya mengandalkan kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Destry mengatakan kompleksitas ekonomi global terlihat dari keterkaitan yang semakin kuat antara inflasi, suku bunga, imbal hasil surat utang, nilai tukar, hingga pertumbuhan ekonomi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau kita mau merespons dengan kekompleksan yang ada di dunia ini, pasti nggak akan mungkin bisa dengan satu kebijakan saja,\u201d kata Destry dalam acara <\/span>Sarasehan 100 Ekonom Indonesia: Berlayar di Tengah Gelombang Global, Jaga Daya Tahan Ekonomi Nasional yang digelar INDEF dan MetroTV, Kamis (3\/9\/2026).<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dia mencontohkan kondisi Amerika Serikat dan negara-negara maju di Eropa yang saat ini menghadapi inflasi tinggi. Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">bond yield<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> surat utang mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Amerika Serikat, kata dia, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">bond yield<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tenor 30 tahun telah berada di atas 5,3 persen, sedangkan tenor 10 tahun mencapai sekitar 4,5-4,6 persen. Padahal, dalam kondisi normal, imbal hasil tersebut berada di kisaran 3 persen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada saat yang sama, dolar AS atau DXY justru menguat meskipun pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat melambat dibandingkan periode sebelumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJadi ini kondisi yang kalau misalnya kita lihat cuma inflasi saja naik, Amerika harus naikkan suku bunga, itu pasti pertimbangannya tidak akan semudah itu. Karena dia akan menekan ekonomi dan sebagainya,\u201d ujar Destry.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut dia, situasi tersebut menunjukkan bahwa satu persoalan ekonomi kini berkaitan erat dengan persoalan lainnya. Karena itu, respons kebijakan juga tidak bisa hanya bertumpu pada suku bunga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPermasalahan makin kompleks. Karena keterkaitan satu isu dengan isu lain itu makin tinggi,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p><b>Tak Cukup Andalkan Suku Bunga<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Destry mengatakan kompleksitas tersebut juga menjadi pertimbangan BI dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. BI tidak bisa hanya melihat kondisi inflasi domestik untuk menentukan apakah suku bunga harus dinaikkan atau diturunkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDi Bank Indonesia kita merasa kita nggak cukup kalau cuma mengandalkan kebijakan moneter saja,\u201d kata dia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara konvensional, kebijakan moneter dapat diarahkan berdasarkan kondisi inflasi. Ketika inflasi meningkat, suku bunga dapat dinaikkan untuk menahan tekanan harga. Sebaliknya, ketika inflasi rendah, terdapat ruang untuk menurunkan suku bunga guna mendorong perekonomian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, kata Destry, kondisi global saat ini membuat pertimbangan tersebut menjadi lebih kompleks.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">BI juga harus memperhitungkan kondisi suku bunga global dan kebutuhan untuk menjaga agar aset-aset domestik tetap menarik bagi investor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau di sana bunganya juga makin naik, nah ini sementara kan kita butuh <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">inflow<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> juga. Jadi kita harus juga menciptakan suatu kondisi yang membuat aset kita masih bisa menarik oleh mereka,\u201d ujarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, BI melihat perekonomian domestik masih memiliki ruang untuk tumbuh lebih tinggi. Berdasarkan perhitungan BI, ekonomi Indonesia saat ini masih berada dalam siklus ekonomi di bawah level potensialnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJadi ruang ini masih ada. Masih besar,\u201d kata Destry.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, menurut dia, ruang pertumbuhan tersebut tidak cukup jika hanya didorong melalui kebijakan moneter.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab, Indonesia juga menghadapi kondisi global dengan suku bunga yang berada pada level tinggi dalam waktu yang lebih lama atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">higher for longer<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><b>BI Kombinasikan Kebijakan<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk menghadapi kondisi tersebut, BI memilih mengombinasikan kebijakan moneter dengan instrumen lainnya, terutama kebijakan makroprudensial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKita <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">combine <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dengan kebijakan kita lainnya, yaitu kebijakan makroprudensial,\u201d ujar Destry.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dia mengatakan BI saat ini mengoptimalkan kebijakan makroprudensial untuk mendorong intermediasi perbankan dan penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satunya melalui kebijakan insentif Giro Wajib Minimum (GWM). Meskipun secara ketentuan GWM berada di level 9 persen, Destry mengatakan tingkat efektifnya sekitar 3 persen karena terdapat insentif bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Destry, sekitar Rp440 triliun dana yang sebelumnya harus ditempatkan bank di BI kini dikembalikan ke perbankan agar dapat digunakan untuk mendukung penyaluran kredit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, persoalan yang dihadapi bukan hanya ketersediaan likuiditas. BI juga menemukan adanya ketimpangan distribusi likuiditas antarbank.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan analisis yang lebih terperinci, kata Destry, terdapat bank yang menggunakan likuiditasnya bukan untuk intermediasi, melainkan untuk investasi pada instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJadi kita melihat analisa granular. Kemudian kita lihat, eh ternyata ini banyak bank-bank yang menggunakan likuiditasnya itu bukan untuk intermediasi, tapi mereka buat investasi,\u201d ujarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Destry mengatakan posisi outstanding SRBI saat ini telah turun menjadi sekitar Rp1.050 triliun dari posisi tertingginya yang hampir mencapai Rp1.100 triliun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, tingkat imbal hasil SRBI juga turun dari sekitar 7,6 persen menjadi sekitar 7 persen atau 6,99 persen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penurunan tersebut dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan mekanisme pasar, termasuk kondisi lelang dan pasar sekunder.<\/span><\/p>\n<p><b>Insentif untuk Dorong Kredit<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain insentif GWM, BI juga mengoptimalkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Destry menjelaskan dari total insentif KLM sebesar 6 persen, sebanyak 4 persen dialokasikan untuk pembiayaan sektor strategis dan prioritas, termasuk sektor padat karya dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara 2 persen lainnya mulai September 2026 diarahkan untuk mengatasi segmentasi likuiditas di perbankan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melalui skema tersebut, bank yang terlalu banyak menempatkan likuiditasnya pada SRBI maupun SBN tidak akan mendapatkan insentif tersebut. Sebaliknya, bank yang menjaga kepemilikan instrumen likuid dalam jumlah yang dinilai wajar akan memperoleh insentif. Nilai wajarnya, kata dia, sekitar 19 persen terhadap dana pihak ketiga (DPK) sebagai salah satu acuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJadi bank-bank tadi yang punya banyak outstanding tadi, SRBI khususnya ya, dan juga SBN, dia akan mulai mengurangi posisinya, dia punya cash, dan dia bisa kita dorong untuk intermediasi,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Destry, bauran kebijakan tersebut perlu didukung oleh pemulihan optimisme sektor swasta. Pemerintah memang memiliki peran penting dalam mendorong perekonomian, tetapi pertumbuhan tidak akan optimal jika hanya mengandalkan belanja dan kebijakan pemerintah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKami berharap optimisme dari sektor-sektor private itu akan kembali, sehingga bisa menjadi mesin pertumbuhan lagi. Karena kalau sekarang hanya state lead saja, itu kurang dorongannya,\u201d ujar dia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain kebijakan moneter dan makroprudensial, BI juga akan menggunakan kebijakan sistem pembayaran sebagai bagian dari bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJadi kami menggunakan bauran kebijakan, termasuk juga untuk sistem pembayaran,\u201d kata Destry.<\/span><\/p>\n<p>                            <!-- [ICONOMICS] --><\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/www.theiconomics.com\/art-of-execution\/permasalahan-ekonomi-dunia-kian-kompleks-bi-tak-lagi-hanya-andalkan-kebijakan-moneter\/\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan permasalahan ekonomi global semakin kompleks sehingga tidak bisa direspons hanya dengan satu instrumen<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":25868,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,13],"tags":[],"class_list":["post-25867","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business","category-news"],"magazineBlocksPostFeaturedMedia":{"thumbnail":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Destry-Damayanti-BI-150x150.jpg","medium":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Destry-Damayanti-BI-300x153.jpg","medium_large":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Destry-Damayanti-BI-768x391.jpg","large":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Destry-Damayanti-BI.jpg","1536x1536":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Destry-Damayanti-BI.jpg","2048x2048":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Destry-Damayanti-BI.jpg","colormag-highlighted-post":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Destry-Damayanti-BI-392x272.jpg","colormag-featured-post-medium":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Destry-Damayanti-BI-390x205.jpg","colormag-featured-post-small":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Destry-Damayanti-BI-130x90.jpg","colormag-featured-image":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Destry-Damayanti-BI-800x445.jpg","colormag-default-news":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Destry-Damayanti-BI-150x150.jpg","colormag-featured-image-large":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Destry-Damayanti-BI.jpg"},"magazineBlocksPostAuthor":{"name":"Redaksi","avatar":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b7471c990eaf3bbb9eb8588768e7506fe3240b053ad738bae905f94f0ebd1eb0?s=96&d=mm&r=g"},"magazineBlocksPostCommentsNumber":"0","magazineBlocksPostExcerpt":"Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan permasalahan ekonomi global semakin kompleks sehingga tidak bisa direspons hanya dengan satu instrumen","magazineBlocksPostCategories":["Business","News"],"magazine_blocks_featured_image_url":{"full":["https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Destry-Damayanti-BI.jpg",900,458,false],"medium":["https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Destry-Damayanti-BI-300x153.jpg",300,153,true],"thumbnail":["https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Destry-Damayanti-BI-150x150.jpg",150,150,true]},"magazine_blocks_author":{"display_name":"Redaksi","author_link":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/author\/neno\/"},"magazine_blocks_comment":0,"magazine_blocks_author_image":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b7471c990eaf3bbb9eb8588768e7506fe3240b053ad738bae905f94f0ebd1eb0?s=96&d=mm&r=g","magazine_blocks_category":"<a href=\"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/category\/business\/\" rel=\"category tag\">Business<\/a> <a href=\"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/category\/news\/\" rel=\"category tag\">News<\/a>","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25867","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25867"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25867\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25868"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25867"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25867"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25867"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}