{"id":23332,"date":"2026-08-10T18:56:42","date_gmt":"2026-08-10T11:56:42","guid":{"rendered":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/2026\/08\/10\/pakar-ui-tantangan-komunikasi-bukan-soal-media-algoritma-atau-ai-tapi-ada-di-kepala-kita\/"},"modified":"2026-08-10T18:56:42","modified_gmt":"2026-08-10T11:56:42","slug":"pakar-ui-tantangan-komunikasi-bukan-soal-media-algoritma-atau-ai-tapi-ada-di-kepala-kita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/2026\/08\/10\/pakar-ui-tantangan-komunikasi-bukan-soal-media-algoritma-atau-ai-tapi-ada-di-kepala-kita\/","title":{"rendered":"Pakar UI: Tantangan Komunikasi Bukan Soal Media, Algoritma, atau AI, tapi Ada di Kepala Kita"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div itemprop=\"articleBody\">\n<!-- ARTICAL CONTENT --><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tantangan komunikasi di era digital tidak selalu berkaitan dengan media, algoritma, maupun kecanggihan <em>artificial intelligence<\/em> (AI). Tantangan yang lebih mendasar justru terletak pada bagaimana otak manusia menerima, memproses, dan merasakan pesan yang disampaikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Associate Professor Universitas Indonesia (UI) Dr. Devie Rahmawati mengatakan, berbagai strategi komunikasi dapat dilakukan, mulai dari membuat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">press release<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, menyajikan data dan fakta, hingga menggunakan teknologi AI. Namun, semua itu belum tentu membuat publik menerima pesan yang disampaikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut dia, kondisi tersebut terlihat ketika sebuah institusi telah menyampaikan data dan fakta secara lengkap, bahkan menggunakan teknologi AI, tetapi publik tetap marah, pegawai menolak perubahan, dan pemangku kepentingan tetap tidak percaya terhadap informasi yang diberikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbicara <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">dalam acara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Iconomics 7th Indonesia Public Relations Summit 2026<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di Jakarta, Kamis (6\/8), <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Devie melihat komunikasi dari perspektif <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">neuroscience<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Menurut dia, manusia tidak selalu bereaksi terhadap apa yang dikatakan komunikator, tetapi terhadap apa yang dirasakan otak ketika menerima pesan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cManusia akan bereaksi bukan pada apa yang kita katakan, tetapi apa yang dirasakan oleh otak ketika kita mendengar kata,\u201d Devie.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Devie menjelaskan bahwa selama ratusan ribu tahun manusia bertahan hidup dengan sistem biologis yang membuat otak sensitif terhadap ancaman. Karena itu, pesan yang dianggap mengandung bahaya dapat dengan cepat menarik perhatian dan memicu respons tertentu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut dia, hal tersebut juga menjelaskan mengapa berita buruk sering kali mendapatkan perhatian lebih besar dibandingkan informasi yang menyenangkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia mengatakan sesuatu yang dianggap sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">bad news<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> justru dapat menarik perhatian karena otak manusia secara alamiah dirancang untuk mendeteksi ancaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKarena memang otak kita didesain untuk langsung, alarm langsung bunyi, kalau ada ancaman,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dia mengatakan, selama ini orang banyak mempelajari teknik berbicara, persuasi, maupun presentasi. Namun, komunikasi sesungguhnya tidak berhenti pada apa yang keluar dari mulut komunikator.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKomunikasi bukan terjadi di mulut, tapi komunikasi terjadi di dalam otak kita,\u201d ujar Devie.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena itu, setiap pesan yang disampaikan pada dasarnya akan membawa penerima pesan menuju salah satu dari dua kondisi, yakni merasa terancam atau merasa aman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTidak pernah ada posisi ketiga,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, menurut Devie, otak tidak selalu memulai dengan mempertanyakan apakah informasi yang diterima benar atau salah. Respons awal justru berkaitan dengan rasa aman.<\/span><\/p>\n<p><b>Informasi Saja Tidak Cukup<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Devie mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan penting bagi komunikasi institusi. Penyampaian fakta dan data yang lengkap belum tentu efektif apabila penerima pesan sudah berada dalam kondisi merasa terancam atau tidak aman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cArtinya, aman atau bahaya. Karena itu orang akan menolak informasi ketika dia merasa tidak aman,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam konteks komunikasi publik, faktor visual juga dapat berperan dalam membentuk persepsi awal. Sebelum memahami isi pesan secara menyeluruh, otak telah mengambil keputusan awal mengenai apakah seseorang atau situasi yang dihadapi dianggap aman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTidak pernah ada kesempatan kedua untuk memberikan kesan pertama yang membentuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">neuroception<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, persepsi orang,\u201d ujar Devie.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dia mencontohkan bagaimana tampilan kemewahan dapat dipersepsikan berbeda oleh setiap orang. Bagi seseorang yang tidak merasa memiliki kemewahan tersebut, demonstrasi kemewahan dapat memunculkan perasaan terancam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Devie juga menekankan pentingnya narasi dalam komunikasi. Menurut dia, data dan fakta tetap penting, tetapi cerita dapat membuat sebuah informasi lebih bermakna bagi penerimanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dia memberikan perbandingan antara dua informasi mengenai pandemi Covid-19. Pertama, \u201cCovid telah menyebabkan jutaan kematian.\u201d Kedua, kisah personal mengenai seorang ibu yang meninggal karena Covid-19 setelah membesarkan anak dan keluarganya selama puluhan tahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Devie, kisah personal akan lebih membekas karena menghadirkan makna yang lebih dekat dengan pengalaman manusia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKarena otak tidak membeli informasi. Otak membeli makna,\u201d ujarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dia menjelaskan, penelitian mengenai respons otak terhadap cerita menunjukkan adanya keterhubungan aktivitas otak antara pembicara dan pendengar ketika sebuah cerita disampaikan dengan baik. Fenomena tersebut dikenal sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">neural coupling<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLewat cerita, lewat makna. Artinya, komunikasi terbaik itu adalah bukan membuat orang setuju. Tetapi membuat dua otak antara komunikator dengan komunikan itu bergerak pada frekuensi yang sama,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut dia, kemampuan manusia memahami dunia melalui narasi juga menjelaskan mengapa cerita dan perumpamaan digunakan dalam berbagai peradaban.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam komunikasi, Devie juga menekankan pentingnya empati. Menurut dia, empati tidak semata-mata berkaitan dengan kelembutan dalam berbicara, tetapi memiliki mekanisme biologis yang berkaitan dengan kemampuan manusia meniru atau merasakan kondisi emosional orang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMenurut <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">neuroscience<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, empati adalah mekanisme biologis,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dia mengaitkannya dengan konsep <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mirror neuron<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang menjelaskan kecenderungan manusia meniru ekspresi maupun kondisi emosional orang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKarena otak tidak hanya memahami, tapi otak itu melakukan yang disebut dengan fotokopi, meniru,\u201d ujarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Devie, emosi bahkan dapat menular lebih cepat dibandingkan informasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena itu, kondisi emosional seorang pemimpin, guru, orang tua, maupun komunikator dapat memengaruhi orang-orang yang berinteraksi dengannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Leader<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang panik akan menularkan kepanikan. Guru yang tenang menularkan ketenangan dan kedamaian. Orang tua yang cemas menularkan kecemasan,\u201d ujar Devie.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, menurut dia, komunikasi bukan hanya persoalan memilih kata, saluran, atau teknologi yang digunakan. Keadaan emosional komunikator juga menjadi bagian dari pesan yang diterima publik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Devie pun mengingatkan para komunikator untuk berhati-hati dalam mengirimkan sinyal kepada orang lain, baik kepada keluarga, klien, pegawai, maupun pemangku kepentingan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">People don\u2019t hear your words first, they feel your nervous system first<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">,\u201d ujarnya.<\/span><\/p>\n<p>                            <!-- [ICONOMICS] --><\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/www.theiconomics.com\/pr-talk\/pakar-ui-tantangan-komunikasi-bukan-soal-media-algoritma-atau-ai-tapi-ada-di-kepala-kita\/\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tantangan komunikasi di era digital tidak selalu berkaitan dengan media, algoritma, maupun kecanggihan artificial intelligence (AI). Tantangan yang lebih mendasar<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":23333,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,13],"tags":[],"class_list":["post-23332","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business","category-news"],"magazineBlocksPostFeaturedMedia":{"thumbnail":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF3508-scaled-150x150.jpg","medium":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF3508-scaled-300x168.jpg","medium_large":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF3508-scaled-768x431.jpg","large":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF3508-scaled-1024x575.jpg","1536x1536":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF3508-scaled-1536x862.jpg","2048x2048":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF3508-scaled-2048x1150.jpg","colormag-highlighted-post":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF3508-scaled-392x272.jpg","colormag-featured-post-medium":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF3508-scaled-390x205.jpg","colormag-featured-post-small":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF3508-scaled-130x90.jpg","colormag-featured-image":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF3508-scaled-800x445.jpg","colormag-default-news":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF3508-scaled-150x150.jpg","colormag-featured-image-large":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF3508-scaled-1400x600.jpg"},"magazineBlocksPostAuthor":{"name":"Redaksi","avatar":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b7471c990eaf3bbb9eb8588768e7506fe3240b053ad738bae905f94f0ebd1eb0?s=96&d=mm&r=g"},"magazineBlocksPostCommentsNumber":"0","magazineBlocksPostExcerpt":"Tantangan komunikasi di era digital tidak selalu berkaitan dengan media, algoritma, maupun kecanggihan artificial intelligence (AI). Tantangan yang lebih mendasar","magazineBlocksPostCategories":["Business","News"],"magazine_blocks_featured_image_url":{"full":["https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF3508-scaled.jpg",2560,1437,false],"medium":["https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF3508-scaled-300x168.jpg",300,168,true],"thumbnail":["https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/DSCF3508-scaled-150x150.jpg",150,150,true]},"magazine_blocks_author":{"display_name":"Redaksi","author_link":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/author\/neno\/"},"magazine_blocks_comment":1,"magazine_blocks_author_image":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b7471c990eaf3bbb9eb8588768e7506fe3240b053ad738bae905f94f0ebd1eb0?s=96&d=mm&r=g","magazine_blocks_category":"<a href=\"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/category\/business\/\" rel=\"category tag\">Business<\/a> <a href=\"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/category\/news\/\" rel=\"category tag\">News<\/a>","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23332","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=23332"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23332\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/23333"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=23332"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=23332"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=23332"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}