{"id":2331,"date":"2024-06-24T21:48:03","date_gmt":"2024-06-24T14:48:03","guid":{"rendered":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/2024\/06\/24\/rupiah-masih-terus-melemah-dpr-jangan-sampai-bi-salah-diagnosa\/"},"modified":"2024-06-24T21:48:03","modified_gmt":"2024-06-24T14:48:03","slug":"rupiah-masih-terus-melemah-dpr-jangan-sampai-bi-salah-diagnosa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/2024\/06\/24\/rupiah-masih-terus-melemah-dpr-jangan-sampai-bi-salah-diagnosa\/","title":{"rendered":"Rupiah Masih Terus Melemah, DPR; Jangan Sampai BI Salah Diagnosa!"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div itemprop=\"articleBody\">\n<!-- ARTICAL CONTENT --><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat [AS] masih terus melemah. Padahal, Bank Indonesia sudah menggunakan semua instrumen yang dimilikinya untuk menjaga nilai tukar Rupiah,\u00a0 mulai dari intervensi di pasar menggunakan cadangan devisa, hingga menaikkan BI Rate dan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pelemahan nilai tukar Rupiah akhir-akhir ini yang semakin mengarah ke 17.000, menurut Ahmad Najib Qodratullah,\u00a0 anggota Komisi XI DPR RI telah meresahkan masyarakat. Apalagi bila penjelasan yang disampaikan BI sulit dipahami oleh masyarakat biasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLebih jauh, saya sangat khawatir, dengan kondisi kurs Rupiah ini, kalau kemudian ini diwariskan\u00a0 kepada pemerintah yang akan datang. Saya ingin memastikan di akhir masa periode ini [pemerintahan Joko Widodo] bahwa seluruh kebijakan Bank Indonesia ini efektif dalam rangka menyelesaikan permasalahan kurs Rupiah,\u201d ujar anggota Fraksi Partai Amant Nasional [PAN] tersebut dalam rapat kerja dengan Bank Indonesia, Senin (24\/6).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">PAN merupakan salah partai yang mengusung pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka pada pemilu Februari lalu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih jauh, Najib\u00a0 khawatir, tak efektifnya kebijakan BI dalam menjaga nilai tukar Rupiah terjadi karena kesalahan dalam mendiagnosa masalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDengan salah diagnosa tentu akan melahirkan obat yang salah. Intervensi pasar itu selalu sifatnya sesaat dan kita paham betul bahwa kita memiliki cadangan devisa yang sangat terbatas,\u201d ujarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOleh karena itu, saya mendorong kepada Bank Indonesia harus memiliki formulasi yang lebih baik [untuk] jangka panjang dan daya tahan yang cakupanya lebih luas, seperti imunisasi. Jadi dalam setahun, dua tahun, tiga tahun yang akan datang, imunisasi ini akan menjadi kebal terhadap rong-rongan dari luar maupun dari masalah-masalah internal,\u201d ujarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Vera Febyanthy dari Fraksi Partai Demokrat juga mengkritisi langkah Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin pada Rapat Dewan Gubernur April lalu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebijakan tersebut, menurut Vera, tak ampuh menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNegara lain tidak melakukan kenaikan suku bunga. Ini kenapa Bank Indonesia menaikkan suku bunga, tetapi tidak berdampak secara signifikan?\u201d ujar Vera.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Primus Yustisio dari Fraksi PAN mengingtkan Bank Indonesia, nilai tukar Rupiah saat ini sudah semakin jauh dari target dalam APBN 2024 yang mematok nilai tukar di level Rp15.000.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bank Indoneisa, kata Primus, juga tidak bisa bersembunyi di balik data bahwa depresiasi Rupiah lebih rendah dibandingkan beberapa negara lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau mengacu kepada RPABN 2024 yang sudah menjadi APBN, disepakati nilainya 15.000. Artinya, sudah hampir 10% Rupiah kita ini terdepresasi dari target APBN kita, tepatnya 9,33%,\u201d ujarnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mengapa Rupiah melemah?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam paparannya, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyampaikan pelemahan nilai tukar Rupiah tak terlepas dari ketidakpastian yang masih terjadi pada perekonomian global.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perry mengatakan penurunan inflasi global berjalan sangat lambat, karena harga komoditas yang masih tetap tinggi, baik karena faktor geopolitik yang mengganggu pasokan, maupun karena faktor cuaca. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dus, inflasi di negara maju, terutama Amerika Serikat pun masih tinggi, di atas sasaran yang ditetapkan bank sentral.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih tingginya tingkat inflasi di AS menyebabkan bank sentral negara itu, tak menurunkan <\/span>Fed Fund Rate (FRR).\u00a0 Tahun ini, FRR pun diperkirakan hanya dipangkas sebanyak satu kali sebesar 25 basis poin menjadi 5,25%. Padahal, pelaku pasar pada awal tahun sempat percaya diri FRR\u00a0turun dua hingga tiga kali pada tahun ini.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Imbal hasil Surat Utang Pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury juga masih tetap tinggi dan diperkirakan tetap tinggi karena tingginya kebutuhuan utang pemerintah negara itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama tahun 2024 ini, ungkap Perry, rata-rata imbal hasil\u00a0 US Treasury tenor 10 tahun sebesar 4,45%. Ke depan, kata Perry, BI memperkirakan imbal hasil US Treasry 10 tahun ini masih tinggi yaitu 4,5%.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Imbal hasil US Treasury jangka pendek (2 tahun) juga diperkirakan lebih tinggi dari tenor 10 tahun karena inflasi yang masih tinggi dan kebutuhan utang yang juga\u00a0 tinggi di AS.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain The European Central Bank (ECB) sudah menurunkan suku bunga acuannya, sehingga nilai tukar EUR melemah dan semakin memperkuat Dolar AS.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTingginya suku bunga Amerika Serikat ini, menyebabkan pelarian modal dari berbagai negara, temasuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">emerging market<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ke Amerika. Bagaimana pun Dolar AS masih menjadi<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> safe haven.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Apalagi obligasi pemerintah AS dengan suku bunga yang tinggi, tentu saja itu menjadi pilihan yang lebih baik dibandingkan negara lain,\u201d ujar Perry.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSehingga indeks dolar AS makin menguat secara luas terhadap berbagai mata uang dunia. Apalagi ECB sudah menurunkan suku bunga, sehingga semakin memperkuat Dolar AS,\u201d tambah Perry.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bank Indonesia memperkirakan indeks dolar AS mencapai 105 pada tahun ini, menguat dari 103,6 pada 2023.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBahkan pada hari ini [indeks dolar AS] pun mendekati 106. Jadi, mata uang Dolar itu menguat terhadap berbagai mata uang dunia,\u201d ujar Perry.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, tambah Perry, risiko geopolitk juga tetap tinggi, baik perang Rusia-Ukraina, perang di Timur Tengah maupun terbaru ketegangan pemerintah AS dan Tiongkok.<\/span><\/p>\n<h2><b>Benarkan kebijakan BI tak efektif?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perry mengatakan pada Januari 2024, modal asing masih mengalir ke Indonesia (<em>capital inflow<\/em>). Di SBN misalnya terjadi <em>inflow<\/em> sebesar Rp6,42 triliun, di saham sebesar Rp7,35 triliun dan di SRBI sebesar Rp18,83 triliun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian pada Februari, pemodal asing mulai hengkang dari Indonesia, terutama di SBN dimana terjadi <em>outflow<\/em> sebesar Rp9,59 triliun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara, di pasar saham dan SRBI masih terjadi <em>inflow<\/em> pada Februari 2024, masing-masing sebesar Rp10,11 triliun dan SRBI Rp3,46 triliun.\u00a0<\/span><\/p>\n<div id=\"attachment_80049\" style=\"width: 710px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-80049\" class=\"wp-image-80049 size-full\" src=\"https:\/\/the-iconomics.storage.googleapis.com\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/24203538\/Nilai-tukar-Rupiah-Juni.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"495\" srcset=\"https:\/\/the-iconomics.storage.googleapis.com\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/24203538\/Nilai-tukar-Rupiah-Juni.jpg 700w, https:\/\/the-iconomics.storage.googleapis.com\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/24203538\/Nilai-tukar-Rupiah-Juni-300x212.jpg 300w, https:\/\/the-iconomics.storage.googleapis.com\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/24203538\/Nilai-tukar-Rupiah-Juni-150x105.jpg 150w, https:\/\/the-iconomics.storage.googleapis.com\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/24203538\/Nilai-tukar-Rupiah-Juni-90x65.jpg 90w, https:\/\/the-iconomics.storage.googleapis.com\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/24203538\/Nilai-tukar-Rupiah-Juni-400x283.jpg 400w\" sizes=\"auto, (max-width: 700px) 100vw, 700px\"\/><\/p>\n<p id=\"caption-attachment-80049\" class=\"wp-caption-text\">Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS selama Juni\/Sumber: BI<\/p>\n<\/div>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada Maret dan April 2024, kondisi global mulai berubah. Saat masyarakat Indonesia menjalani libur Idul Fitri, terjadi beberapa perubahan pada perekonomian global.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rilis inflasi AS yang jauh dari ekspektasi pasar, membuat perkiraan penurunan FRR berubah dari sebanyak dua hingga tiga kali pada tahun ini, menjadi hanya satu kali yaitu pada Desember.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada saat yang sama ketegangan di Timur Tengah meningkat yang mencapai puncaknya ketika Israel dan Iran saling menyerang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena itu, sejak Maret 2024, jelas Perry, asing makin banyak yang keluar dari SBN yaitu sebesar Rp15,6 triliun dan SRBI sebesar Rp3,56 triliun. Sementara di pasar saham, investor asing tetap masuk yang terlihat dari <em>capital inflow<\/em> sebesar Rp7,84 triliun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perubahan pada kondisi global baik ekonomi maupun geopolitik, kata Perry, menyebabkan Bank Indonesia harus memperkuat kebijakan moneter untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena itu, kata Perry, selama Maret dan April, Bank Indonesia menggunakan secara bersamaan tiga instrumen moneternya mulai dari intervensi pasar melalui penggunaan cadagan devisa, menaikkan suku bunga SRBI dan juga menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,25%.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cadangan devisa pun tergerus dari sebelumnya US$144 miliar pada akhir Februari 2024 menjadi US$136,2 miliar pada akhir April 2024.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKami mengumpulkan cadangan devisa pada saat terjadi <em>inflow.<\/em> Sehingga cadangan devisa naik. Pada saat<em> outflow,<\/em> kami gunakan untuk intevensi\u2026Sampai sekarang pun terus melakukan intervensi untuk menstabilkan nila tukar Rupiah,\u201d ujar Perry.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bank Indonesia juga menjual lebih banyak SRBI pada Maret dan April 2024 serta menaikkan suku bunganya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau nanti kondisinya sudah membaik kami turunkan lagi [suku bunganya]. Itu kami lakukan pada Maret dan April sehingga kami kemudian meningkatkan suku bunga dan lelang SRBI agar mencegh <em>outflow<\/em>,\u201d ujar Perry.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penggunaan tiga instrumen ini, jelas Perry, saat itu ampuh menarik dana asing ke Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada April, SRBI memang masih terjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">outflow<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sebesar Rp3,65 triliun, tetapi pada Mei 2024 di SRBI terjadi<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> inflow<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sebesar Rp80,29 triliun. Derasnya modal masuk di SRBI ini, kata Perry, mendukung stabilitas nilai tukar Rupiah pada Mei 2024.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat itu, tambahnya, Rupiah yang sempat melemah ke level di atas 16.000, kembali menguat hingga Rp15.900 dan stabil.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Lantas kenapa Juni ini Rupiah kembali terpuruk? <\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perry mengatakan, selain karena faktor-faktor global seperti ketidapastian penurunan FRR, ECB yang menurunkan suku bunganya, imbal hasil US Treasury yang tinggi dan masalah geopolitik, faktor domestik turut menyebabkan Rupiah melemah pada Juni ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Faktor domesitk pertama karena tingginya permintaan Dolar AS dari korporasi domestik untuk membayar repatriasi dividen, serta untuk pembayaran utang luar negeri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSelain itu, [faktor kedua] muncul persepsi di pasar, masalah kesinambungan fiskal ke depan. Itulah kenapa SBN yang pada Mei sudah masuk Rp16,21 triliun, tetapi pada Juni kembali <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">outflow <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Rp3,4 triliun,\u201d ujarnya.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Outflow <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">juga terjadi pasar saham, sebesar Rp1,98 triliun pada Juni ini dan Rp14,2 triliun pada Mei.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTetapi SRBI pada Mei terjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">inflow<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Rp80,29 trilun, dan Juni masih <em>inflow<\/em> Rp28,05 triliun,\u201d ujar Perry.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat kondisi terkini, pada RDG Juni ini, Bank Indonesia memutuskan tak menaikkan BI Rate, tetapi suku bunga untuk SRBI akan tetap dinaikkan dan intervensi di pasar juga tetap dilakukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSambil menunggu bagaimana faktor global, faktor domestik, berkembang ke depan. Kami pada saat ini belum perlu menaikkan BI Rate, cukup degan intervensi sama SRBI karena inflasinya rendah hanya 2,8% dan akhir tahun ini juga tetap rendah,\u201d ujar Perry.<\/span><\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><!-- AI CONTENT END 2 --><\/p>\n<p>                            <!-- [ICONOMICS] --><\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/www.theiconomics.com\/art-of-execution\/rupiah-masih-terus-melemah-dpr-jangan-sampai-bi-salah-diagnosa\/\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat [AS] masih terus melemah. Padahal, Bank Indonesia sudah menggunakan semua instrumen yang dimilikinya<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2332,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,13],"tags":[],"class_list":["post-2331","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business","category-news"],"magazineBlocksPostFeaturedMedia":{"thumbnail":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Perry-Warjiyo-DPR-150x150.jpg","medium":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Perry-Warjiyo-DPR-300x161.jpg","medium_large":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Perry-Warjiyo-DPR-768x413.jpg","large":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Perry-Warjiyo-DPR.jpg","1536x1536":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Perry-Warjiyo-DPR.jpg","2048x2048":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Perry-Warjiyo-DPR.jpg","colormag-highlighted-post":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Perry-Warjiyo-DPR-392x272.jpg","colormag-featured-post-medium":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Perry-Warjiyo-DPR-390x205.jpg","colormag-featured-post-small":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Perry-Warjiyo-DPR-130x90.jpg","colormag-featured-image":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Perry-Warjiyo-DPR.jpg","colormag-default-news":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Perry-Warjiyo-DPR-150x150.jpg","colormag-featured-image-large":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Perry-Warjiyo-DPR.jpg"},"magazineBlocksPostAuthor":{"name":"Redaksi","avatar":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b7471c990eaf3bbb9eb8588768e7506fe3240b053ad738bae905f94f0ebd1eb0?s=96&d=mm&r=g"},"magazineBlocksPostCommentsNumber":"0","magazineBlocksPostExcerpt":"Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat [AS] masih terus melemah. Padahal, Bank Indonesia sudah menggunakan semua instrumen yang dimilikinya","magazineBlocksPostCategories":["Business","News"],"magazine_blocks_featured_image_url":{"full":["https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Perry-Warjiyo-DPR.jpg",800,430,false],"medium":["https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Perry-Warjiyo-DPR-300x161.jpg",300,161,true],"thumbnail":["https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Perry-Warjiyo-DPR-150x150.jpg",150,150,true]},"magazine_blocks_author":{"display_name":"Redaksi","author_link":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/author\/neno\/"},"magazine_blocks_comment":0,"magazine_blocks_author_image":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b7471c990eaf3bbb9eb8588768e7506fe3240b053ad738bae905f94f0ebd1eb0?s=96&d=mm&r=g","magazine_blocks_category":"<a href=\"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/category\/business\/\" rel=\"category tag\">Business<\/a> <a href=\"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/category\/news\/\" rel=\"category tag\">News<\/a>","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2331","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2331"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2331\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2332"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2331"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2331"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2331"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}