{"id":20152,"date":"2026-07-09T02:48:44","date_gmt":"2026-07-08T19:48:44","guid":{"rendered":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/2026\/07\/09\/nomor-punggung-10-dalam-sepak-bola-dunia-dari-pele-hingga-messi\/"},"modified":"2026-07-09T02:48:44","modified_gmt":"2026-07-08T19:48:44","slug":"nomor-punggung-10-dalam-sepak-bola-dunia-dari-pele-hingga-messi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/2026\/07\/09\/nomor-punggung-10-dalam-sepak-bola-dunia-dari-pele-hingga-messi\/","title":{"rendered":"Nomor Punggung 10 dalam Sepak Bola Dunia: dari Pele hingga Messi"},"content":{"rendered":" \r\n<br><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/fajar.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260502-WA0010-1-e1777701810118.webp\" \/><br><div>\n\t\t\t\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Oleh: <strong>Dr. Amirullah, M.Pd.<\/strong><br\/><em>Dosen FIS-H UNM<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Fajar.co.id \u2013 Dalam sejarah sepak bola dunia, tidak ada nomor punggung yang memiliki makna simbolik sekuat nomor 10. Nomor ini bukan sekadar identitas pemain di lapangan, melainkan simbol kreativitas, kepemimpinan, kecerdasan, dan kemampuan mengubah jalannya pertandingan. Ketika berbicara tentang nomor 10, dunia sepak bola hampir selalu mengingat satu nama besar, yaitu Pele. Melalui Pele, nomor 10 tidak hanya menjadi angka di punggung pemain, tetapi berkembang menjadi sebuah filosofi yang diwariskan dari generasi ke generasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menariknya, sejarah nomor 10 yang melekat pada Pele sebenarnya lahir dari sebuah kebetulan. Pada <strong>Piala Dunia FIFA 1958<\/strong> di Swedia, pembagian nomor punggung tim Brasil dilakukan secara acak. Pele, yang saat itu masih berusia 17 tahun, mendapatkan nomor 10 tanpa pertimbangan khusus. Namun, sejarah kemudian mengubah makna angka tersebut. Penampilan luar biasa Pele yang membawa Brasil meraih gelar juara dunia menjadikan nomor 10 identik dengan pemain paling kreatif dan berpengaruh dalam tim. Sejak saat itu, nomor 10 tidak lagi dipandang sebagai angka biasa, melainkan simbol kejeniusan sepak bola.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pele menunjukkan bahwa seorang pemakai nomor 10 bukan hanya pencetak gol, tetapi juga pemimpin permainan. Ia mampu membaca ruang, menciptakan peluang, mengatur ritme pertandingan, dan menginspirasi rekan-rekannya. Filosofi inilah yang menjadikan nomor 10 sebagai representasi seorang <em>playmaker<\/em> atau pengatur serangan. Dalam banyak budaya sepak bola, nomor 10 dianggap sebagai pemain yang memiliki tanggung jawab lebih besar dibandingkan pemain lainnya karena menjadi pusat kreativitas tim. Oleh karena itu, nomor 10 sering kali diberikan kepada pemain yang memiliki visi bermain luar biasa dan kemampuan teknis di atas rata-rata.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Nomor 10 dan Jalan Menuju Juara Dunia<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Warisan nomor 10 yang dipopulerkan Pele kemudian diteruskan oleh banyak pemain besar dunia, seperti Diego Maradona, Zinedine Zidane, Rivaldo, Ronaldinho, hingga Lionel Messi. Masing-masing memiliki gaya bermain yang berbeda, tetapi tetap membawa nilai utama nomor 10, yaitu kreativitas, kecerdasan, dan kemampuan menginspirasi tim. Dengan kata lain, nomor 10 telah menjadi warisan budaya sepak bola global yang melampaui batas negara dan generasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Diego Maradona merupakan contoh paling kuat bagaimana seorang pemilik nomor 10 mampu menentukan nasib sebuah negara di Piala Dunia. Pada <strong>Piala Dunia FIFA 1986<\/strong>, Maradona tampil sebagai pusat permainan Argentina. Ia mencetak gol-gol penting, termasuk gol kontroversial yang kemudian dikenal sebagai <strong>Hand of God<\/strong> (<em>Gol Tangan Tuhan<\/em>) saat menghadapi Inggris. Secara taktis, Argentina dibangun untuk memaksimalkan kemampuan Maradona. Hampir seluruh serangan mengalir melalui dirinya. Hasilnya, Argentina menjadi juara dunia dan Maradona dikenang sebagai salah satu pemain paling dominan dalam sejarah Piala Dunia.<\/p>\n<center\/>\t        \n\n\n\t\t\t<!-- .entry-footer -->\n\t\t<\/div>\r\n<br>\r\n<br><a href=\"https:\/\/fajar.co.id\/2026\/07\/08\/nomor-punggung-10-dalam-sepak-bola-dunia-dari-pele-hingga-messi\/\">Source link <\/a>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Dr. Amirullah, M.Pd.Dosen FIS-H UNM Fajar.co.id \u2013 Dalam sejarah sepak bola dunia, tidak ada nomor punggung yang memiliki makna<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":13425,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-20152","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"magazineBlocksPostFeaturedMedia":{"thumbnail":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260502-WA0010-1-e1777701810118.webp-150x150.webp","medium":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260502-WA0010-1-e1777701810118.webp-300x223.webp","medium_large":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260502-WA0010-1-e1777701810118.webp-768x570.webp","large":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260502-WA0010-1-e1777701810118.webp-1024x759.webp","1536x1536":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260502-WA0010-1-e1777701810118.webp.webp","2048x2048":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260502-WA0010-1-e1777701810118.webp.webp","colormag-highlighted-post":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260502-WA0010-1-e1777701810118.webp-392x272.webp","colormag-featured-post-medium":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260502-WA0010-1-e1777701810118.webp-390x205.webp","colormag-featured-post-small":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260502-WA0010-1-e1777701810118.webp-130x90.webp","colormag-featured-image":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260502-WA0010-1-e1777701810118.webp-800x445.webp","colormag-default-news":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260502-WA0010-1-e1777701810118.webp-150x150.webp","colormag-featured-image-large":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260502-WA0010-1-e1777701810118.webp-1200x600.webp"},"magazineBlocksPostAuthor":{"name":"Redaksi","avatar":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b7471c990eaf3bbb9eb8588768e7506fe3240b053ad738bae905f94f0ebd1eb0?s=96&d=mm&r=g"},"magazineBlocksPostCommentsNumber":"0","magazineBlocksPostExcerpt":"Oleh: Dr. Amirullah, M.Pd.Dosen FIS-H UNM Fajar.co.id \u2013 Dalam sejarah sepak bola dunia, tidak ada nomor punggung yang memiliki makna","magazineBlocksPostCategories":["News"],"magazine_blocks_featured_image_url":{"full":["https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260502-WA0010-1-e1777701810118.webp.webp",1200,890,false],"medium":["https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260502-WA0010-1-e1777701810118.webp-300x223.webp",300,223,true],"thumbnail":["https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260502-WA0010-1-e1777701810118.webp-150x150.webp",150,150,true]},"magazine_blocks_author":{"display_name":"Redaksi","author_link":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/author\/neno\/"},"magazine_blocks_comment":0,"magazine_blocks_author_image":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b7471c990eaf3bbb9eb8588768e7506fe3240b053ad738bae905f94f0ebd1eb0?s=96&d=mm&r=g","magazine_blocks_category":"<a href=\"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/category\/news\/\" rel=\"category tag\">News<\/a>","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20152","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20152"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20152\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13425"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20152"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20152"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20152"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}