{"id":15584,"date":"2026-05-24T15:51:32","date_gmt":"2026-05-24T08:51:32","guid":{"rendered":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/2026\/05\/24\/ekonom-akademisi-dan-peneliti-membedah-laporan-the-economist\/"},"modified":"2026-05-24T15:51:32","modified_gmt":"2026-05-24T08:51:32","slug":"ekonom-akademisi-dan-peneliti-membedah-laporan-the-economist","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/2026\/05\/24\/ekonom-akademisi-dan-peneliti-membedah-laporan-the-economist\/","title":{"rendered":"Ekonom, Akademisi dan Peneliti Membedah Laporan The Economist"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div itemprop=\"articleBody\">\n<!-- ARTICAL CONTENT --><\/p>\n<p>Sejumlah ekonom, akademisi, dan peneliti menilai artikel The Economist yang berjudul \u201cIndonesia on a Risky Path\u201d dan \u201cIndonesia\u2019s President is Jeopardizing the Economy and Democracy\u201d sebagai alarm peringatan bagi Indonesia agar tidak lengah dan terus berbenah.<\/p>\n<p>Dalam diskusi bertajuk \u201cMenakar Akurasi Laporan The Economist: Apakah Indonesia Menuju Jurang?\u201d, Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, Ph.D. menegaskan pentingnya ruang akademik yang terbuka dalam membahas berbagai persoalan kebangsaan. Menurutnya, kampus harus menjadi tempat lahirnya kebijakan berbasis data, teori, dan bukti empiris.<\/p>\n<p>\u201cDi sini bebas ya Paramadina ini satu kandang akademik, kebebasan sangat dipelihara. Tentu saja apa yang dibicarakan punya dasar-dasar akademik, <em>evidence<\/em> <em>based<\/em> <em>policy<\/em>, data dan teori,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said, Ak., MBA., menjelaskan bahwa laporan The Economist perlu dibaca sebagai peringatan serius mengenai kondisi tata kelola pemerintahan dan kepercayaan publik terhadap institusi negara. Ia menilai isu utama yang diangkat media internasional tersebut berkaitan dengan ancaman terhadap ekonomi dan demokrasi Indonesia.<\/p>\n<p>Menurut Sudirman, persoalan yang paling mendasar adalah menurunnya kepercayaan publik akibat melemahnya integritas, meritokrasi, dan mekanisme pengawasan dalam pemerintahan.<\/p>\n<p>\u201cSeluruh uraian dari The Economist dan akibat ikutannya baik di pasar politik maupun ekonomi ini adalah soal <em>declining<\/em> <em>trust<\/em>, soal <em>gap<\/em> yang melebar antara otoritas di satu sisi dengan legitimasi di sisi lain,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Ia menambahkan bahwa upaya utama yang perlu dilakukan saat ini adalah memulihkan kepercayaan masyarakat dan pelaku ekonomi melalui tata kelola yang lebih baik.<\/p>\n<p>\u201cSemua pihak rasanya mesti bahu-membahu melakukan <em>restoring<\/em> <em>confidence<\/em>, membangun kembali <em>trust<\/em>,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Dalam paparannya, ekonom Universitas Indonesia, Prof. Moh. Ikhsan, Ph.D. menilai Indonesia belum berada di tepi jurang krisis, tetapi ruang untuk menghindari risiko tersebut semakin menyempit. Ia mengingatkan bahwa sejumlah pola yang muncul saat ini memiliki kemiripan dengan gejala yang mendahului krisis ekonomi 1997\u20131998.<\/p>\n<p>\u201cIndonesia belum di tepi jurang, tapi sejarah tidak sedang diam. Ia sedang berbisik dan bisikannya semakin keras,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Ikhsan menjelaskan bahwa pelemahan kredibilitas fiskal, toleransi terhadap pelanggaran aturan, melemahnya institusi independen, dan ekspansi fiskal tanpa disiplin pendapatan merupakan sinyal yang patut diwaspadai. Namun demikian, Indonesia masih memiliki sejumlah bantalan ekonomi yang membuat situasinya berbeda dengan kondisi menjelang krisis 1998.<\/p>\n<p>Ia juga menekankan pentingnya belajar dari pengalaman reformasi yang dilakukan oleh Presiden B. J. Habibie dan Megawati Soekarnoputri, yang menurutnya berhasil memulihkan kepercayaan publik dan menjaga stabilitas ekonomi melalui penghormatan terhadap institusi dan aturan main demokrasi. Ia mengingatkan bahwa ancaman terbesar bukan semata-mata krisis ekonomi, melainkan hilangnya kredibilitas institusi negara.<\/p>\n<p>\u201cIndonesia belum di jurang, tapi kita sedang berjalan menuju ke sana perlahan tapi nyata. Kita masih punya ruang yang besar untuk berbalik arah,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Pandangan senada disampaikan ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin. Ia menilai sebagian besar kritik yang disampaikan The Economist memiliki dasar yang kuat, terutama terkait tantangan fiskal, komunikasi pemerintah, independensi bank sentral, iklim usaha, dan kualitas tata kelola kebijakan publik.<\/p>\n<p>Menurut Wijayanto, pola pengambilan kebijakan yang dilakukan tanpa perencanaan matang berpotensi menciptakan ketidakpastian jangka panjang.<\/p>\n<p>\u201cPemerintah untuk menghentikan cara kerja dengan pola <em>reverse<\/em> <em>planning<\/em>. Pakai <em>planning<\/em> yang benar. Kalau <em>project<\/em> besar ada analisis, kemudian <em>impact<\/em> <em>analysis<\/em>, ada <em>piloting<\/em>, kemudian baru dieskalasi,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia juga menegaskan bahwa kritik dari lembaga internasional seharusnya diperlakukan sebagai bahan evaluasi dan perbaikan, bukan dianggap sebagai serangan terhadap pemerintah.<\/p>\n<p>\u201cApa yang disampaikan oleh The Economist itu dianggap oleh pemerintah sebagai referensi untuk perbaikan, bukan kritik, bukan mengedepankan teori konspirasi,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Peneliti senior BRIN, Prof. Dr. R. Siti Zuhro, memandang laporan The Economist sebagai alarm yang perlu disikapi secara serius. Menurutnya, kritik terhadap kondisi ekonomi dan demokrasi Indonesia tidak seharusnya ditolak mentah-mentah, melainkan dijadikan bahan refleksi untuk memperbaiki tata kelola negara.<\/p>\n<p>\u201cNarasi Indonesia menuju jurang sebaiknya dibaca sebagai alarm peringatan bagi kita. Jadi enggak usah sensi. Masa sih nunggu jurang beneran kita masuk jurang baru benar?\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Siti menilai Indonesia tengah menghadapi tantangan berupa melemahnya oposisi politik, meningkatnya pragmatisme partai, sentralisasi kekuasaan, serta berkurangnya kualitas partisipasi publik dalam demokrasi. Ia mengingatkan bahwa kemunduran demokrasi sering kali terjadi secara perlahan dan dianggap sebagai sesuatu yang normal.<\/p>\n<p>\u201cDemokrasi Indonesia belum runtuh, tetapi mengalami proses erosi. Demokrasi formal tetap ada, tapi substansi pengawasan dan partisipasi publik melemah,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Siti menegaskan bahwa Indonesia belum tentu menuju jurang, namun tanpa pembenahan tata kelola politik dan ekonomi yang serius, risiko tersebut dapat menjadi kenyataan.<\/p>\n<p>\u201cIndonesia belum menuju jurang secara pasti, tetapi tanpa koreksi serius terhadap tata kelola politik dan ekonomi, jurang itu bisa menjadi kenyataan serius dan akut,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>                            <!-- [ICONOMICS] --><\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/www.theiconomics.com\/change-management\/ekonom-akademisi-dan-peneliti-membedah-laporan-the-economist\/\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejumlah ekonom, akademisi, dan peneliti menilai artikel The Economist yang berjudul \u201cIndonesia on a Risky Path\u201d dan \u201cIndonesia\u2019s President is<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":15585,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,13],"tags":[],"class_list":["post-15584","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business","category-news"],"magazineBlocksPostFeaturedMedia":{"thumbnail":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260523-WA0027-150x150.jpg","medium":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260523-WA0027-300x200.jpg","medium_large":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260523-WA0027-768x512.jpg","large":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260523-WA0027-1024x682.jpg","1536x1536":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260523-WA0027-1536x1023.jpg","2048x2048":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260523-WA0027.jpg","colormag-highlighted-post":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260523-WA0027-392x272.jpg","colormag-featured-post-medium":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260523-WA0027-390x205.jpg","colormag-featured-post-small":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260523-WA0027-130x90.jpg","colormag-featured-image":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260523-WA0027-800x445.jpg","colormag-default-news":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260523-WA0027-150x150.jpg","colormag-featured-image-large":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260523-WA0027-1400x600.jpg"},"magazineBlocksPostAuthor":{"name":"Redaksi","avatar":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b7471c990eaf3bbb9eb8588768e7506fe3240b053ad738bae905f94f0ebd1eb0?s=96&d=mm&r=g"},"magazineBlocksPostCommentsNumber":"0","magazineBlocksPostExcerpt":"Sejumlah ekonom, akademisi, dan peneliti menilai artikel The Economist yang berjudul \u201cIndonesia on a Risky Path\u201d dan \u201cIndonesia\u2019s President is","magazineBlocksPostCategories":["Business","News"],"magazine_blocks_featured_image_url":{"full":["https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260523-WA0027.jpg",1600,1066,false],"medium":["https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260523-WA0027-300x200.jpg",300,200,true],"thumbnail":["https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG-20260523-WA0027-150x150.jpg",150,150,true]},"magazine_blocks_author":{"display_name":"Redaksi","author_link":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/author\/neno\/"},"magazine_blocks_comment":0,"magazine_blocks_author_image":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b7471c990eaf3bbb9eb8588768e7506fe3240b053ad738bae905f94f0ebd1eb0?s=96&d=mm&r=g","magazine_blocks_category":"<a href=\"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/category\/business\/\" rel=\"category tag\">Business<\/a> <a href=\"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/category\/news\/\" rel=\"category tag\">News<\/a>","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15584","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15584"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15584\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/15585"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15584"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15584"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15584"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}