{"id":12001,"date":"2026-04-20T11:55:42","date_gmt":"2026-04-20T04:55:42","guid":{"rendered":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/2026\/04\/20\/ojk-terlalu-aman-ketika-stablitas-semu-lar-tinggi-dan-beban-kredit-bumn-menahan-ekonomi\/"},"modified":"2026-04-20T11:55:42","modified_gmt":"2026-04-20T04:55:42","slug":"ojk-terlalu-aman-ketika-stablitas-semu-lar-tinggi-dan-beban-kredit-bumn-menahan-ekonomi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/2026\/04\/20\/ojk-terlalu-aman-ketika-stablitas-semu-lar-tinggi-dan-beban-kredit-bumn-menahan-ekonomi\/","title":{"rendered":"OJK Terlalu Aman? Ketika Stablitas Semu, LAR Tinggi, dan Beban Kredit BUMN Menahan Ekonomi"},"content":{"rendered":"<p> <br \/>\n<\/p>\n<div itemprop=\"articleBody\">\n<!-- ARTICAL CONTENT --><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada satu pertanyaan yang semakin relevan, tetapi masih jarang diungkap secara terbuka: apakah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terlalu fokus pada stabilitas hingga tanpa sadar mengorbankan pertumbuhan ekonomi?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama lebih dari satu dekade, OJK berhasil menjaga sektor perbankan tetap terlihat solid. Rasio kecukupan modal (CAR) perbankan Indonesia berada di level tinggi, bahkan mencapai sekitar 25,8% pada 2025, sementara rasio kredit bermasalah (NPL) berhasil ditekan ke kisaran 2,2%. Dari perspektif prudential, ini adalah capaian yang impresif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, persoalan sesungguhnya tidak terletak pada apa yang terlihat, melainkan pada apa yang tersembunyi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Indikator yang jauh lebih mencerminkan kualitas risiko adalah <em>Loan at Risk<\/em> (LAR). Dalam periode pasca pandemi, LAR perbankan Indonesia sempat melonjak hingga di atas 20%, meskipun menurun, masih berada pada level dua digit yang secara struktural tinggi. Ini berarti bahwa sebagian besar kredit sebenarnya masih berada dalam status rentan, hanya belum jatuh menjadi NPL. Stabilitas yang terlihat hari ini, dengan demikian, sebagian adalah hasil dari kebijakan restrukturisasi, bukan perbaikan kualitas fundamental.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sinilah muncul fenomena yang lebih berbahaya: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">risk masking.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sistem terlihat sehat karena NPL rendah, tetapi LAR menunjukkan tekanan laten yang belum sepenuhnya terselesaikan. Artinya, risiko tidak hilang, hanya ditunda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada saat yang sama, fungsi intermediasi perbankan juga belum optimal. Data Bank Indonesia menunjukkan rasio kredit terhadap PDB Indonesia masih di kisaran 40\u201345%, jauh tertinggal dibandingkan Thailand dan Malaysia yang telah melampaui 100%. Sementara itu, Badan Pusat Statistik mencatat bahwa UMKM yang menyumbang lebih dari 60% PDB masih menghadapi kendala akses pembiayaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan kata lain, risiko tinggi belum sepenuhnya diselesaikan, tetapi kredit baru juga tidak mengalir secara optimal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Situasi ini menjadi semakin kompleks ketika melihat struktur eksposur kredit perbankan, khususnya pada bank-bank BUMN. Beban kredit terhadap entitas seperti Garuda Indonesia dan BUMN Karya (termasuk WIKA dan Waskita Karya) menjadi salah satu sumber tekanan laten yang signifikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kasus Garuda Indonesia adalah contoh paling nyata. Restrukturisasi besar yang dilakukan memang berhasil menurunkan tekanan jangka pendek, tetapi bagi perbankan\u2014khususnya bank BUMN\u2014eksposur kredit tidak sepenuhnya hilang. Ia direstrukturisasi, diperpanjang, dan dalam banyak kasus masih berada dalam kategori berisiko tinggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang sama terjadi pada BUMN Karya. Perusahaan seperti WIKA dan Waskita Karya menghadapi tekanan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">leverage<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tinggi, arus kas yang ketat, serta ketergantungan pada proyek jangka panjang dengan profil risiko tinggi. Banyak pembiayaan proyek infrastruktur tersebut dibiayai oleh perbankan, terutama bank BUMN, sehingga menciptakan konsentrasi risiko yang tidak kecil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam konteks ini, bank BUMN berada dalam posisi dilematis: antara menjalankan fungsi komersial yang sehat dan memenuhi mandat pembangunan nasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sinilah aspek <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">governance<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menjadi titik paling krusial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lembaga pemeringkat global seperti Fitch Ratings secara konsisten menyoroti bahwa risiko sektor perbankan Indonesia tidak hanya berasal dari kualitas aset, tetapi juga dari tata kelola, transparansi, dan potensi intervensi non-komersial. Eksposur tinggi terhadap entitas BUMN dengan profil risiko tertentu sering kali dipandang sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">contingent liability<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bagi sistem keuangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan kata lain, masalahnya bukan hanya pada angka, tetapi pada bagaimana keputusan kredit dibuat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perspektif ini selaras dengan kritik Stephanie Kelton dalam The Deficit Myth (Kelton, 2020), bahwa indikator formal sering kali menyesatkan jika tidak melihat struktur risiko yang sebenarnya. Dalam konteks Indonesia, fokus pada NPL tanpa melihat LAR dan kualitas restrukturisasi dapat menciptakan ilusi stabilitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih jauh, Nassim Nicholas Taleb dalam Antifragile (Taleb, 2012) mengingatkan bahwa sistem yang terlalu dilindungi dari kegagalan kecil akan menjadi rapuh terhadap krisis besar. Ketika kredit bermasalah terus direstrukturisasi tanpa resolusi, sistem kehilangan kemampuan untuk \u201cmembersihkan diri\u201d.<\/span><\/p>\n<p><b>Risiko tidak dihapus, tapi terakumulasi<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kerangka yang lebih luas, Daron Acemoglu dan Simon Johnson dalam Power and Progress (Acemoglu &amp; Johnson, 2023) menekankan bahwa tanpa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">governance<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang kuat, alokasi sumber daya akan bias kepada aktor besar. Dalam konteks Indonesia, konsentrasi kredit pada BUMN tertentu berpotensi menciptakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">crowding-out effect<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, di mana sektor produktif seperti UMKM justru tertinggal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, pendekatan pengawasan juga masih besar bergantung indikator statis. Padahal, sebagaimana dijelaskan oleh Nate Silver dalam The Signal and the Noise (Silver, 2012) dan On the Edge (Silver, 2024), dunia modern harus dipahami secara probabilistik. Risiko harus diantisipasi, bukan hanya diukur setelah terjadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika semua ini digabungkan, maka terlihat jelas bahwa masalah sektor keuangan Indonesia hari ini bukan sekadar stabilitas versus pertumbuhan. Masalahnya adalah kualitas stabilitas itu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Stabilitas yang bertumpu pada restrukturisasi berkepanjangan, eksposur terkonsentrasi, dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">governance<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang belum optimal adalah stabilitas yang rapuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kondisi seperti ini, OJK tidak cukup hanya menjadi penjaga stabilitas. OJK harus berani melakukan koreksi struktural.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, LAR harus diangkat menjadi indikator utama dalam pengawasan dan komunikasi publik. Transparansi ini penting untuk menghindari underestimation risiko.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, restrukturisasi harus masuk fase resolusi. Kredit bermasalah\u2014termasuk eksposur ke Garuda dan BUMN Karya\u2014tidak bisa terus diperpanjang tanpa penyelesaian. Diperlukan mekanisme seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">asset management company<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> secondary market<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk membersihkan neraca perbankan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">governance<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bank BUMN harus diperkuat secara fundamental. Keputusan kredit harus sepenuhnya berbasis <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">risk-return<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, bukan tekanan non-komersial. Ini adalah kunci menjaga kredibilitas di mata investor global.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keempat, OJK perlu lebih memperkuat pengawasan berbasis <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">forward-looking risk<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, termasuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">stress testing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang lebih agresif dan pemanfaatan big data serta AI untuk mendeteksi risiko sejak dini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kelima, alokasi kredit harus lebih diarahkan ke sektor produktif yang memiliki <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">multiplier effect <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">tinggi, bukan terkonsentrasi pada entitas besar dengan risiko tinggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, stabilitas yang sesungguhnya bukanlah stabilitas yang menyembunyikan risiko, tetapi stabilitas yang berani mengungkap dan menyelesaikannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena dalam ekonomi modern, risiko terbesar bukanlah krisis yang datang tiba-tiba, melainkan krisis yang tumbuh perlahan, tersembunyi di balik angka-angka yang tampak sehat.<\/span><\/p>\n<p>                            <!-- [ICONOMICS] --><\/p><\/div>\n<p><br \/>\n<br \/><a href=\"https:\/\/www.theiconomics.com\/icon-opinion\/ojk-terlalu-aman-ketika-stablitas-semu-lar-tinggi-dan-beban-kredit-bumn-menahan-ekonomi\/\">Source link <\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada satu pertanyaan yang semakin relevan, tetapi masih jarang diungkap secara terbuka: apakah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terlalu fokus pada<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12002,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,13],"tags":[],"class_list":["post-12001","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business","category-news"],"magazineBlocksPostFeaturedMedia":{"thumbnail":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Anto-Pranowo-150x150.jpg","medium":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Anto-Pranowo-300x233.jpg","medium_large":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Anto-Pranowo-768x597.jpg","large":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Anto-Pranowo.jpg","1536x1536":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Anto-Pranowo.jpg","2048x2048":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Anto-Pranowo.jpg","colormag-highlighted-post":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Anto-Pranowo-392x272.jpg","colormag-featured-post-medium":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Anto-Pranowo-390x205.jpg","colormag-featured-post-small":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Anto-Pranowo-130x90.jpg","colormag-featured-image":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Anto-Pranowo-800x445.jpg","colormag-default-news":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Anto-Pranowo-150x150.jpg","colormag-featured-image-large":"https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Anto-Pranowo-800x600.jpg"},"magazineBlocksPostAuthor":{"name":"Redaksi","avatar":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b7471c990eaf3bbb9eb8588768e7506fe3240b053ad738bae905f94f0ebd1eb0?s=96&d=mm&r=g"},"magazineBlocksPostCommentsNumber":"0","magazineBlocksPostExcerpt":"Ada satu pertanyaan yang semakin relevan, tetapi masih jarang diungkap secara terbuka: apakah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terlalu fokus pada","magazineBlocksPostCategories":["Business","News"],"magazine_blocks_featured_image_url":{"full":["https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Anto-Pranowo.jpg",800,622,false],"medium":["https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Anto-Pranowo-300x233.jpg",300,233,true],"thumbnail":["https:\/\/portalutama.net\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Anto-Pranowo-150x150.jpg",150,150,true]},"magazine_blocks_author":{"display_name":"Redaksi","author_link":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/author\/neno\/"},"magazine_blocks_comment":0,"magazine_blocks_author_image":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b7471c990eaf3bbb9eb8588768e7506fe3240b053ad738bae905f94f0ebd1eb0?s=96&d=mm&r=g","magazine_blocks_category":"<a href=\"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/category\/business\/\" rel=\"category tag\">Business<\/a> <a href=\"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/category\/news\/\" rel=\"category tag\">News<\/a>","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12001","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12001"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12001\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12002"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12001"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12001"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portalutama.net\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12001"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}