News

90 Persen Pangan Diimpor, Prof Sulfikar Beberkan Alasan Singapura Jauh Lebih Butuh Indonesia



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Hubungan diplomatik dan ekonomi antara Indonesia dan Singapura senantiasa dibangun di atas fondasi keterkaitan kepentingan yang saling membutuhkan. Kendati memiliki keterbatasan sumber daya alam, Singapura mampu mempertahankan ketahanan ekonominya melalui strategi diplomasi dan pemenuhan kebutuhan dasar dari negara-negara tetangga.

Professor of Science, Technology, and Society Sociology Programme dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Sulfikar Amir, menilai bahwa dalam hubungan bilateral ini, Singapura justru memiliki tingkat ketergantungan yang lebih besar terhadap Indonesia.

“Saya bisa mengatakan sebenarnya Singapura lebih butuh Indonesia daripada Indonesia butuh Singapura,” ujar Sulfikar lewat kanal Youtube Hendri Satrio, Rabu (28/10/2026).

Sulfikar menjelaskan, keterbatasan fisik dan sumber daya alam memaksa Singapura untuk bertindak cermat dalam memetakan relasi internasionalnya. Salah satu jurus utama yang diterapkan Singapura adalah menjaga hubungan harmonis serta menghindari gesekan dengan negara-negara penyedia sumber daya.

“Mereka tahu mereka kecil, mereka sadar tidak punya sumber daya alam. Satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan satu strategi yang sederhana, don’t make enemies,” jelasnya.

Lebih rinci, Sulfikar membeberkan realitas bahwa sekitar 90 persen kebutuhan pangan Singapura—mulai dari komoditas ikan, sayur-mayur, beras, hingga buah-buahan—sangat bergantung pada pasokan impor dari negara lain, termasuk Indonesia.

Meski demikian, di sektor energi, Singapura menunjukkan kepiawaian dalam mengolah keterbatasan menjadi nilai tambah ekonomi. Walaupun tidak memiliki sumur minyak mentah satu pun, negara pulau tersebut sukses tampil sebagai salah satu pemain kunci industri minyak global.

“Singapura tidak punya minyak tapi Singapura adalah eksportir produk minyak terbesar nomor tiga di dunia,” ungkapnya.

Menurut Sulfikar, sektor industri pengolahan minyak tersebut menyumbang porsi signifikan hingga hampir 20 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Singapura.

Strategi yang dijalankan adalah mengimpor minyak mentah dari luar negeri, menampungnya di fasilitas penyimpanan mutakhir, lalu mengolahnya menjadi produk turunan untuk diekspor kembali ke berbagai negara, termasuk pasar Indonesia.

Gambaran tersebut mengonfirmasi bahwa hubungan Indonesia dan Singapura tidak hanya sekadar didasari oleh kedekatan geografis, melainkan keterikatan struktur ekonomi yang mendalam.

Di tengah berbagai tantangan regional seperti dinamika pasokan gas, penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga penyesuaian pasar modal terkait indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI), ruang diplomasi dan kerja sama strategis yang saling menguntungkan antara kedua negara tetap menjadi kunci utama penjaga stabilitas kawasan.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *