Bencana Sumatera hingga Karhutla Belum Tuntas, Rizal Fadillah Sebut Kabinet Prabowo Gemuk tapi Keropos

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Pemerhati Politik dan Kebangsaan, Rizal Fadillah, menyebut bahwa besarnya jumlah pejabat dan lembaga di lingkaran pemerintahan belum sebanding dengan penyelesaian berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Rizal mengungkit penanganan bencana di Sumatera dan Nusa Tenggara Timur (NTT), kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga sejumlah program pemerintah yang dinilainya lebih menonjolkan tampilan ketimbang hasil nyata.
Ia menyebut kabinet Prabowo sebagai kabinet yang mengutamakan kemapanan dan kenyamanan.
Dalam pandangannya, komposisi tersebut membuat pemerintah cenderung berhati-hati terhadap kritik dan tidak cukup lincah dalam menuntaskan persoalan publik.
Rizal Kuliti Latar Belakang Prabowo
Rizal juga mengaitkan gaya kepemimpinan Prabowo dengan latar belakang kehidupan dan perjalanan kariernya.
Ia menilai pengalaman hidup Presiden tidak dibentuk oleh perjuangan menghadapi kesulitan ekonomi sejak kecil.
“Prabowo tidak memiliki sejarah hidup sulit yang penuh perjuangan. Sejak kecil di luar negeri, anak seorang pejabat tinggi. Mapan dan manja,” ujar Rizal kepada fajar.co.id, Minggu (25/10/2026).
Ia kemudian menyinggung latar belakang militer Prabowo yang menurutnya turut memengaruhi gaya kepemimpinan.
Rizal menekankan bahwa kecenderungan tersebut tercermin dalam cara pemerintahan membangun komposisi kabinet.
“Menjadi komandan tentara cenderung otoriter. Demi menjaga kemapanan tidak ragu manut abis. Split personality,” tukasnya.
Kabinet Gemuk Membebani Anggaran
Rizal menuturkan, besarnya komposisi kabinet bukan semata-mata persoalan jumlah pejabat, tetapi juga berkaitan dengan efektivitas kerja dan penggunaan anggaran negara.
Baginya, banyaknya representasi kelompok politik dalam kabinet membuat pemerintahan lebih berorientasi menjaga keseimbangan kekuasaan dibandingkan memastikan setiap program berjalan efektif.
“Kabinet yang dibangun pun bernuansa mapan dan gemuk. Butuh keamanan dan kenyamanan. Takut pada gangguan dan tidak siap berpuasa dan bersusah-susah,” jelasnya.
Ia juga menyoroti keberadaan sejumlah tokoh dari pemerintahan sebelumnya dalam kabinet Prabowo. Rizal menilai kondisi tersebut memperlihatkan upaya merangkul berbagai faksi politik.
“Kabinet diisi sebanyak banyak representasi, termasuk kabinet eks Jokowi faksi terbesar. Pengecut dan takut pada sikap oposan,” imbuhnya.
Rizal menekankan, penambahan atau perubahan komposisi pejabat melalui perombakan kabinet belum tentu menghasilkan perbaikan apabila tidak disertai evaluasi terhadap efektivitas kelembagaan.
Source link
