Soal Wacana Jokowi Jadi Ketum PSI, Pengamat: Mending Kudeta Partai Golkar

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Wacana Wakil Ketua Umum PSI, Andy Budiman atau yang akrab disapa Bro Ron, yang mengusulkan agar Jokowi menjadi Ketua Umum PSI mendadak heboh di publik.
Pengamat Politik, Heru Subagia, menilai usulan tersebut sebagai bentuk keputusasaan struktural dari partai yang gagal membaca realitas di akar rumput.
Heru menyebut bahwa merekomendasikan Jokowi turun kasta menjadi Ketua Umum PSI bukanlah tanda kemajuan.
Baginya, langkah tersebut justru berpotensi menjadi malapetaka politik, baik bagi PSI maupun eksistensi Dinasti Solo.
“Rekomendasi brutal agar Jokowi turun kasta menjadi Ketua Umum PSI bukanlah tanda kemajuan. Ini adalah sinyal keputusasaan struktural (structural desperation) dari sebuah partai yang gagal total membaca realitas konseptual di akar rumput,” ujar Heru kepada fajar.co.id, Kamis (22/10/2026).
Elektabilitas PSI Anjlok di Bawah Ambang Batas
Heru kemudian membedah realitas politik dengan data objektif. Ia mengakui bahwa secara personal, trah Jokowi memang tampak perkasa.
Kaesang Pangarep menduduki kursi Ketua Umum PSI dan mulai masuk bursa 10 besar calon pemimpin, sementara Gibran Rakabuming Raka berhasil menggenggam tiket Wakil Presiden RI.
Namun, Heru menyoroti data empiris dari berbagai lembaga survei kredibel dalam 3 hingga 4 bulan terakhir. Kerja-kerja politik intensif yang digelorakan Jokowi, Gibran, dan Kaesang dinilainya terbukti gagal total mendongkrak elektabilitas PSI.
“Angka elektabilitas PSI saat ini justru menunjukkan tren penurunan yang signifikan setelah sempat menyentuh angka 4 persen sekian pada periode puncaknya,” ucapnya.
Diungkapkan Heru, berbagai kajian Lembaga Survei memotret Elektabilitas PSI, Voxpol Center Research & Consulting 3-12 Oktober 2026 hanya 2,4 persen.
“Artinya di bawah ambang batas (Belum lolos). Poltracking Indonesia 30 September 7 Oktober 2026, 2,9 persen masih di bawah ambang batas (Belum lolos),” jelasnya.
Kata Heru, data tersebut menunjukkan adanya jurang pemisah yang sangat lebar. Publik mungkin menyukai figur personal dinasti Jokowi, tetapi mereka enggan memilih PSI.
Hal ini membuktikan bahwa daya magis Jokowi Effect di internal PSI sudah habis.
Jokowi Disarankan Kudeta Golkar
Heru menilai bahwa memasukkan nama Jokowi ke dalam jajaran elite PSI, terlebih sebagai Ketua Umum, adalah sebuah penghinaan terhadap karier politik mantan presiden dua periode tersebut.
Baginya, jika lingkaran Dinasti Solo berpikir taktis, pilihan paling rasional adalah mengambil alih partai politik yang sudah mapan dan jelas lolos ambang batas parlemen, seperti Partai Golkar.
Source link
