Warung Madura: Tetap Menyala di Tengah Tekanan Ekonomi
Diah (39) bersama suaminya, Muslimin, mengelola sebuah warung Madura di Kota Bekasi, Jawa Barat. Warung kelontong tersebut masih beroperasi seperti biasa, siang dan malam. Namun, roda perputaran uang di dalamnya tak lagi segurih beberapa tahun lalu.
Diah yang ditemui Theiconomics.com pada 20 September mengaku perubahan tersebut mulai terasa sejak awal 2026. Jika sebelumnya warung mereka mampu mengantongi omzet sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta dalam sehari semalam, kini angkanya merosot drastis menjadi sekitar Rp1,2 juta hingga Rp1,5 juta dalam periode yang sama.
Ia tak tahu pasti pemicu utama penurunan pendapatan ini. Yang jelas, katanya, “kondisi sekarang berbeda dengan kondisi tahun-tahun sebelumnya.”
Pasangan asal Sumenep ini mulai menjalankan usaha warung Madura setelah pandemi Covid-19 mereda. Langkah tersebut diambil dengan membidik peluang di sekitarnya. Makanan, minuman, rokok, pulsa, hingga kebutuhan dapur tetap dibutuhkan masyarakat, tak peduli bagaimanapun kondisi kantong konsumen.
“Karena kalau bicara kebutuhan dasar, semua pasti dicari kan. Makanya, kita berusaha untuk menghadirkan ini,” kata Diah.
24 Jam Buka, Belum Tentu Untung Berlipat
Dari luar, warung Madura yang buka nonstop terlihat seperti mesin pencetak uang yang tak pernah berhenti. Namun, jam operasional yang panjang tidak otomatis menghasilkan keuntungan melimpah.
Ada sederet biaya operasional yang menyerap margin: listrik, logistik, pengadaan stok, risiko barang rusak, hingga pengorbanan tenaga fisik pemilik serta keluarganya. Karena itu, warung yang buka 24 jam tetap dituntut presisi menghitung efisiensi.
Tantangan kian berat saat harga kulakan melonjak di tengah lesunya daya beli masyarakat. Situasi ini menjepit para pedagang dalam buah simalakama: menaikkan harga berisiko ditinggal pelanggan, sementara menahan harga akan memangkas tipisnya margin keuntungan.
Di sisi lain, persaingan antarwarung yang menjamur kian memanjakan konsumen untuk dengan mudah berpindah ke toko lain yang lebih murah atau dekat.
Bagi Diah, kondisi ini bukan sekadar soal adu strategi persaingan dagang. “Pada kondisi tersebut, pedagang tidak hanya bersaing mendapatkan konsumen, tetapi juga berusaha mempertahankan margin agar usaha tetap berjalan,” tuturnya.
Daya Tarik Investasi: Skema Bisnis Rp60 Juta–Rp100 Juta
Menariknya, di balik goncangan daya beli di tingkat tapak, model bisnis warung Madura justru semakin memikat para investor. Warung kelontong tradisional ini kini bertransformasi menjadi aset bisnis yang dapat direplikasi secara terukur.
Tony adalah salah satu pemodal yang menangkap peluang tersebut. Berawal dari pemasok gas LPG ke sejumlah warung Madura, ia memutuskan terjun sebagai investor.
Dengan modal awal Rp60 juta hingga Rp80 juta per unit, Tony membesarkan jaringan warung Madura. Dalam waktu dua tahun, ia telah memiliki tiga unit warung di wilayah Bogor, Jawa Barat.
Sistem pembagian hasilnya pun rapi. Dari rata-rata keuntungan bersih sekitar 10% dari total omzet, separuhnya (5%) dialokasikan untuk gaji atau bagi hasil penjaga warung.
Performa omzet antartoko terbilang bervariasi. Unit pertamanya mampu mencetak omzet Rp4 juta hingga Rp5 juta per hari, sementara dua unit lainnya berkisar antara Rp3 juta hingga Rp3,5 juta per hari.
“Dengan duit Rp80 juta atau katakanlah Rp100 juta, kalau diputar di warung Madura itu bisa per bulan kita terima duit (keuntungan). Kalau omzet Rp5 juta per hari, kita terima sekitar Rp7–8 juta per bulan. Jadi untuk menuju BEP (break-even point), setahun sudah balik,” jelas Tony.
Kendati demikian, skala bisnis yang membesar membawa tantangan baru: lemahnya pengawasan.
“Kita selaku pemodal, karena sistemnya itu warung Madura berbasis kepercayaan kepada yang menjaga, jadi tidak ada kontrol. Kontrolnya itu lemah sebenarnya,” ungkap Tony. Tanpa pengawasan langsung dari pemilik, tata kelola stok, alur kas, dan rekonsiliasi transaksi menjadi celah krusial yang harus diantisipasi.
Ekspansi Masif dan Benteng Pertahanan dari Minimarket
Berdasarkan estimasi lembaga riset Euromonitor International, jumlah warung Madura secara nasional telah mencapai sekitar 38.000 unit pada 2021 dan terus melonjak. Paguyuban pedagang bahkan memperkirakan angkanya kini telah menembus lebih dari 50.000 unit yang tersebar di Jabodetabek hingga penjuru Pulau Jawa.
Ketua Asosiasi Pemuda Wirausaha Madura (Asaudara), Firman Yudha, menyebut penyebaran warung Madura berlangsung sangat cepat dan dinamis. Paguyubannya saja menaungi sekitar 70 anggota aktif di Jawa dan Bali.
“Untuk data real time tidak punya, dikarenakan pertumbuhan warung Madura sangat dinamis dan cepat,” ujar Firman. Keunggulan utamanya tetap pada ketersediaan barang pokok 24/7, harga terjangkau, dan lokasi yang sangat dekat dengan pemukiman.
Lantas, mengapa jaringan ritel modern seperti minimarket tak mampu menumbangkan warung Madura?
Managing Partner Inventure, Yuswohady, menilai kekuatan utama warung Madura terletak pada struktur biaya (overhead cost) yang sangat rendah, sehingga mereka sanggup bertahan meski bermain di margin tipis.
“Karena overhead-nya rendah, mereka bisa bermain di low margin. Kemudian dari sisi layanan, warung Madura menjadi bagian integral dari lingkungan lokal. Bahkan fleksibel bisa utang. Faktor kedekatan, keramahan, dan ketersediaan itu yang menjadi keunggulan komparatifnya,” kata Yuswohady.
Di luar kalkulasi finansial, Yuswohady menekankan bahwa rahasia daya tahan warung Madura ada pada ekosistem sosial dan ikatan kebudayaan (diaspora network).
“Dimensinya tidak cuma berbisnis, tetapi luas sekali. Terutama kedekatan dengan diaspora Madura. Dulu bisnis mereka besi tua/rongsokan yang terkenal rumit, dan mereka bisa bertahan. Mental entrepreneur orang Madura itu luar biasa,” tegasnya.
Jejaring komunitas ini berfungsi sebagai ‘sekolah bisnis informal’. Pengetahuan praktis—mulai dari riset lokasi, manajemen rantai pasok, hingga pengelolaan penjaga toko—diturunkan secara natural antar-pelaku usaha tanpa pendidikan formal.
“Mereka tidak masuk sekolah bisnis, tetapi menerapkan praktik bisnis ekosistem yang luar biasa. Kekuatan sejati warung Madura terletak pada entrepreneurship berbasis jaringan tersebut,” pangkas Yuswohady.
