Kapolri Listyo Sigit Ziarah ke Makam Tokoh Bangsa, Dinilai Jadi Teladan Menghargai Sejarah dan Kepemimpinan

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo melakukan ziarah ke sejumlah makam tokoh penting bangsa Indonesia pada 20 Juni 2026. Kegiatan tersebut mencakup kunjungan ke makam Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Soekarno, Presiden Soeharto, hingga Taman Makam Pahlawan.
Kunjungan tersebut mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Sejumlah pihak menilai langkah Kapolri sebagai bentuk penghormatan kepada para pemimpin dan pejuang bangsa yang telah memberikan kontribusi besar bagi perjalanan Indonesia.
Bagi Kapolri Listyo Sigit, kegiatan ziarah tersebut bukan hanya agenda seremonial. Ziarah itu dimaknai sebagai kesempatan untuk mengenang, mempelajari, serta mengambil nilai kepemimpinan dari para tokoh terdahulu yang memiliki peran penting dalam membangun bangsa.
Setiap makam yang dikunjungi disebut memiliki nilai sejarah tersendiri. Dari para tokoh bangsa tersebut, terdapat berbagai warisan pemikiran dan prinsip kepemimpinan yang dinilai masih relevan untuk diterapkan oleh generasi saat ini.
Koordinator Gerakan Indonesia Cerah (GIC), Febri Wahyuni Sabran, memberikan apresiasi terhadap kegiatan tersebut. Ia menilai penghormatan kepada sejarah dan tokoh bangsa merupakan bagian penting dari karakter seorang pemimpin.
Febri menyampaikan pandangannya kepada media di Jakarta pada 21 Juni 2026, sehari setelah kegiatan ziarah dilakukan.
“Belajar dari sejarah bukan hanya soal mengenal alur sejarah, tetapi bagaimana kita menghormati dan meneladani kebajikan-kebajikan yang mereka wariskan. Dan itulah yang dilakukan Kapolri Listyo Sigit Prabowo,” demikian tegas Febri Wahyuni Sabran, Koordinator Indonesia Cerah kepada media di Jakarta (21/6/2026).
Menurut Febri, langkah yang dilakukan Kapolri menunjukkan bahwa sejarah bukan hanya sekadar catatan masa lalu, tetapi juga sumber nilai yang dapat menjadi pedoman bagi pemimpin masa kini. Ia menyebut penghormatan terhadap para pendahulu seharusnya menjadi bagian dari sikap kepemimpinan.
Ia menilai kegiatan tersebut bukan sekadar simbol, melainkan bentuk upaya memperkuat hubungan antara pemimpin saat ini dengan nilai perjuangan yang diwariskan para tokoh bangsa.
“Dari Presiden Abdurrahman Wahid kita belajar tentang simbol pluralisme, toleransi, dan kepemimpinan yang merakyat. Gus Dur dikenang sebagai pemimpin yang menjunjung tinggi hak asasi manusia dan keberagaman Indonesia. Dari Presiden Soekarno kita menimba semangat nasionalisme, persatuan, dan visi besar tentang Indonesia yang berdaulat dan bermartabat. Dari Presiden Soeharto kita belajar tentang stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia”, jelas Febri.
Source link
