Heboh Kasus Riset WNI di Denmark, Rifaldy Fajar Cs Minta Maaf usai Gunakan AI dan Nama Kampus Tanpa Izin

PORTALUTAMA.NET, MAKASSAR — Kasus dugaan riset palsu yang menyeret nama peneliti asal Indonesia di konferensi internasional Copenhagen, Denmark, akhirnya memasuki babak baru. Setelah ramai disorot publik dan menuai kontroversi di media sosial, pemimpin tim peneliti, Rifaldy Fajar, akhirnya buka suara dan menyampaikan permintaan maaf terbuka.
Rifaldy mengakui terdapat penggunaan artificial intelligence (AI) secara berlebihan dalam proses penyusunan riset yang dipresentasikan di konferensi internasional tersebut. Tidak hanya itu, ia juga mengakui adanya pencantuman nama sejumlah kampus di Indonesia tanpa izin resmi.
“Kami benar-benar menyesali tindakan dan keputusan kami yang pada akhirnya juga berdampak pada beberapa pihak serta event terkait,” tulis Rifaldy dalam klarifikasinya yang dikutip Kamis (28/5/2026).
Kasus ini sebelumnya viral setelah publik mempertanyakan validitas sejumlah riset yang dibawa tim asal Indonesia dalam forum akademik internasional di Denmark. Polemik semakin besar karena nama beberapa perguruan tinggi ternama ikut terseret.
Dalam klarifikasinya, Rifaldy menjelaskan dirinya bersama Prihantini merupakan peneliti independen yang melakukan eksplorasi di bidang matematika, biologi, computational science, hingga data science.
Mereka mengaku menggunakan bantuan AI untuk berbagai kebutuhan penelitian, mulai dari coding assistance, brainstorming, pengembangan ide, hingga eksplorasi metode riset.
Namun, Rifaldy juga mengakui terdapat penggunaan AI yang melampaui batas wajar dalam proses penyusunan karya ilmiah tersebut.
“Hal tersebut membuat beberapa karya kami tidak disusun dengan standar transparansi akademik yang seharusnya,” tulisnya.
Menurut pengakuan mereka, sebagian besar karya yang dibawa ke konferensi masih berupa abstrak awal, poster, dan presentasi oral yang belum melewati proses peer-review penuh.
Meski demikian, publik tetap menyoroti dugaan manipulasi dan framing penelitian yang dianggap menyesatkan, terutama terkait penggunaan data serta penyebutan lokasi penelitian tertentu.
Tak hanya soal AI, polemik juga melebar setelah sejumlah institusi pendidikan tinggi disebut dicatut tanpa izin. Rifaldy mengakui nama beberapa kampus memang dicantumkan meski tidak memiliki keterkaitan langsung dengan konferensi tersebut.
Beberapa kampus yang disebut antara lain Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Terbuka, Universitas Tadulako, hingga Telkom University Purwokerto.
“Mereka tidak memiliki keterkaitan langsung dengan partisipasi konferensi yang kami ikuti,” tulis Rifaldy.
Source link
