News

Wamentan Tanggapi Santai Film Viral ‘Pesta Babi’, Tegaskan Cetak Sawah Butuh Waktu



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Film dokumenter “Pesta Babi” karya Dandhy Dwi Laksono menjadi sorotan publik karena mengangkat isu pembangunan besar-besaran di Papua.

Lewat film ini, Dandhy mencoba mengulas sisi lain dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang selama ini dipromosikan pemerintah sebagai upaya mewujudkan ketahanan pangan dan energi nasional.

Namun dalam dokumenter tersebut, proyek-proyek itu dinilai bukan sekadar pembangunan biasa. Film ini mempertanyakan adanya kepentingan ekonomi dan industri besar di balik proyek yang dijalankan di Papua.

Pemerintah selama ini menyebut proyek food estate, perkebunan energi, hingga biofuel sebagai langkah menuju swasembada pangan dan energi. Akan tetapi, film “Pesta Babi” menampilkan kondisi berbeda di lapangan.

Dalam dokumenter itu disebutkan bahwa hutan-hutan di Papua mulai banyak dialihfungsikan menjadi perkebunan industri, terutama sawit dan tanaman energi.

Akibatnya, masyarakat adat disebut menjadi kelompok yang paling terdampak karena kehilangan tanah ulayat dan ruang hidup mereka.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyatakan program cetak sawah membutuhkan proses bertahap sebelum lahan dapat optimal ditanami sebagai bagian dari investasi jangka panjang ketahanan pangan nasional.

“Jangan dibayangkan cetak sawah hari ini, lalu besok langsung ditanam dan panen lima ton atau 10 ton. Itu tidak bisa karena membutuhkan beberapa kali siklus,” kata Sudaryono dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah di Jakarta, Senin (25/5/2026).

Sudaryono menjelaskan, pengembangan sawah di Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, yang sebelumnya berupa rawa dan belum dimanfaatkan sebagai lahan persawahan.

Setelah melalui pengembangan selama beberapa tahun, lahan tersebut kini mampu ditanami dan dipanen hingga tiga kali dalam setahun.

Menurut Sudaryono, tantangan utama pengembangan sawah bukan hanya penyediaan bibit, pupuk, atau pestisida, melainkan pengelolaan air.

“Bibit bisa kita ciptakan, pupuk bisa kita siapkan, tetapi air tidak bisa diciptakan. Air hanya bisa dikelola sehingga kami fokus di daerah yang memiliki ketersediaan air,” ungkapnya.

Ia menambahkan program cetak sawah juga disertai pelatihan petani, penyediaan alat dan mesin pertanian, serta distribusi benih unggul.

Menurut dia, berbagai dukungan tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah pengembangan pertanian.

Sudaryono menegaskan program cetak sawah tetap diperlukan meskipun Indonesia telah mencapai swasembada pada sejumlah komoditas pangan.

Hal ini, kata dia, untuk mengantisipasi pertumbuhan penduduk dan menjaga ketersediaan pangan dalam jangka panjang.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *