Peta Sel, Peta Sehat: Ketika Raga Mulai Dibaca Seperti Kota Masa Depan

Oleh: dr. Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D., Dokter Dito Anurogo MSc PhD, WWPO Peace Ambassador untuk Indonesia, alumnus PhD dari IPCTRM College of Medicine Taipei Medical University Taipei Taiwan, Diploma in Project Management from International Business Management Institute Berlin – Germany, dokter riset, peneliti di RnD SCCR Laboratory Indonesia, berpengalaman sebagai dosen di S2 Biomedis – FKIK Unismuh Makassar, master trainer dan penulis profesional berlisensi BNSP, reviewer puluhan jurnal nasional- Internasional terindeks Scopus Q1, memiliki lebih dari 55 sertifikasi dan kompetensi multi-lintasdisiplin keilmuan, berpengalaman aktif di berbagai organisasi tingkat lokal, regional, nasional, dan internasional, telah menerbitkan puluhan buku dan ratusan opini/artikel di berbagai media massa cetak dan online
Ada masa ketika tubuh manusia dibaca seperti sebuah buku tua: halaman demi halaman, organ demi organ, gejala demi gejala. Dokter menafsirkan nyeri, demam, benjolan, hasil laboratorium, lalu menyusunnya menjadi diagnosis. Namun kedokteran masa depan tampaknya tidak lagi cukup hanya membaca “buku tubuh”. Ia mulai membutuhkan peta.
Bukan peta biasa, melainkan peta seluler: peta yang menunjukkan di mana sebuah sel berada, dengan siapa ia bertetangga, sinyal apa yang ia kirim, gen apa yang sedang menyala, protein apa yang sedang bekerja, dan suasana biologis apa yang sedang berlangsung di sekitarnya. Inilah dunia spatial omics, salah satu lompatan paling menarik dalam biomedis modern.
Source link
